View Full Version
Rabu, 01 Apr 2015

Raja Salman Mengulurkan Tangan Kepada Ikhwan

RIYADH (voa-islam.com) – Selama beberapa decade Arab Saudi dan Ikhwanul Muslimin mungkin memiliki hubungan yang tidak menentu, dan terus memburuk bersamaan dengan kondisi politik di Timur. Seperti invasi  Irak ke Kuwait, dan Riyad menilai Ikhwan mendukung Saddam, dan sejumlah peristiwa lainnya. 

Namun hubungan antara Kerajaan Arab Saudi dan Jamaah Ikhwanul Muslimin memiliki sejarah yang  sangat panjang, dan hubungan itu perlu terus dirawat dan dijaga. Sekarang, pemikiran ini tumbuh, dan  Raja ke  Arab Saudi Salman mengulurkan tangan yang ramah kepada Jamaah Ikhwanul Muslimin untuk mengubur perbedaan pendapat.

Jamaah Ikhwanul Muslimin memiliki secercah harapan,  pertama ketika Menteri Luar Negeri Saudi Pangeran Saud bin al-Faisal mengatakan "Kami tidak memiliki masalah dengan Jamaah Ikhwanul Muslimin. Masalah kita hanya dengan sekelompok kecil yang berafiliasi dengan jamaah  ini".

Komentar Menteri Luar Negeri Arab Saudi  Saud al-Faisal memang bukan mewakili secara resmi dari  pemerintah Salman. Namun, Deputi Putra Mahkota Arab Saudi, baru-baru ini melakukan kunjungan resmi pertamanya ke Qatar, sebuah negara Teluk yang mendukung penuh Jamaah Ikhwanul Muslimin.

Mulai nampak tumbuhnya persahabatan baru dari  Raja Salman,  ketika ia secara resmi mengundang pemimpin ulama Al-Azhar Mesir dalam sebuah konferensi bersejarah mengecam terorisme. Meskipun ada perbedaan ideologi antara ulama Al-Azhar dan Saudi, tapi mulai terbangun hubungan baru antara ulama al-Azhar dengan kerajaan Arab Saudi.

Sementara Jamaah Ikhwanul Muslimin memiliki perbedaan ideologi politik dengan Arab Saudi, tapi Raja Salman telah membuat sinyal (indikasi) yang mencoba untuk memberikan peran Jamaah Ikhwanul Muslimin peran terhadap Ikhwan.

Sejarah Hubungan Arab Saudi dengan Ikhwan.

Perlu dicatat, pendiri Ikhwanul Muslimin, Hassan al-Banna, memiliki hubungan sangat dekat dengan Arab Saudi. Ketika beberapa anggota Jamaah Ikhwan yang dituduh  mencoba membunuh Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser, kemudian Arab Saudi  memberikan perlindungan dan kewarga negaraan kepada anggota Jamaah Ikhwanul Muslimin. Arab Saudi memberikan peranan yang besar kepada anggota Ikhwan mengelola lembada pendidikan di Saudi.

Para ahli politik mengatakan Raja Salman siap melupakan perbedaan masa lalu dan mengubur perbedaan yang ada. Mereka menyarankan Raja Salman menyatukan seluruh negara dan kekuatan gerakan-gerakan kelompok Sunni di seluruh dunia, dan  bersatu menjadi sebuah kekuatan. Meskipun, ada perbedaan dikalangan para pemimin Arab dan dunia Muslim. Usaha itu bisa dipandang sebagai langkah bijaksana.

"Ada tumbuh rasa harapan sekarang, hal-hal yang berubah di sekitar kita dengan pemimpin baru berkuasa Arab Saudi, dan sudah saatnya kita memiliki suara lagi dan menjelaskan kepada dunia siapa kita sebenarnya", kata anggota Ikhwanul Muslimin yang tinggal di Qatar

Dalam beberapa minggu terakhir Raja Salman juga telah bertemu dengan Perdana Menteri Pakistan Nawaz Sharif dan Presiden Turki Tayyip Erdogan, pemimpin Qatar, Mesir, dan bahkan Malaysia. Semuanya memberikan harapan baru, bagi masa depan Timur Tengah.

Bila Salman bisa menggalang dan menyatukan  seluruh negara Sunni, dan gerakan-gerakan Islam, menghadapi tantangan baru khususnya di kawasan Teluk, maka ini memberi optimisme bagi masa depan dunia Islam. Di tengah ancaman perang yang sekarang ini lahir dari kekuatan Syi’ah yang  membentang dari Lebanon, Suriah, Irak, Bahrain, dan Yaman, yang di dukung oleh Iran. Wallahu’alam. dtta


latestnews

View Full Version