View Full Version
Senin, 20 Apr 2015

Tontonan Peringatan KAA, Penjajahan, Perbudakan dan Kemelaratan Rakyat

JAKARTA (voa-islam.com) - Mulai hari ini akan berlangsung sebuah ‘tontotan’ yang disuguhkan kepada rakyat tentang peringatan KAA (Konferensi Asia Afrika), ditengah kegagalan Jokowi memerintah negeri ini. KAA tontotan yang tidak menarik, dan  tidak memberi manfaat apapun bagi rakyat.

Di mana rakyat ditimpa penderitaan yang semakin dalam. Mereka terpuruk akibat berbagai kenaikan kebutuhan pokok. Rakyat dicekik dengan berbagai kenaikan kebutuhan pokok. Mulai dari beras, minyak, gula, terigu, cabe,  sayur-mayur, dan semua barang kebutuhan pokok lainnya.

Masih ditambah lagi dengan kenaikan BBM, gas, tariff dasar listik (TDL), angkutan (tranportasi). Semua naik. Menjelang puasa dan lebaran rakyat terus dihimpit dan digencet oleh Jokowi dengan kenaikan-kenaikan yang membuat rakyat semakin sengsara.

Tontontan KAA tidak memberikan dampak apapun bagi kehidupan rakyat. Termasuk terhadap posisi Indonesia di dalam percaturan politik regional dan global. Sekalipun Indonesia mempunyai posisi strategis secara geopolitik dan geostrategic, Indonesia tetap menjadi negara ‘jajahan’ antara Amerika, Eropa, dan Cina.

Pertemuan KAA yang dihadiri oleh berbagai pemimpin negara di dunia, yang berlangsung di Jakarta, hanyalah pertemuan ‘kangen-kangenan’ (romanstisme) di antara anggota KAA, yang sudah terbelenggu oleh penjajahan dan perbudakan oleh kekuatan imperialis dan kapitalis global. Seperti Amerika, Eropa dan Cina.

Triumvirat (Amerika, Eropa, dan Cina) inilah yang sekarang ini menjadi penentu kehidupan global dan regional di berbagai kawasan dunia.

Negara-negara Asia dan Afrika yang merupakan negara pheriperal (pinggiran), dan selalu bergantung (dependensi) kepada kekuatan ‘triumvirat), tidak mungkin akan bisa melepaskan diri dari genggaman kekuatan penjajah atau kolinialisme. Apalagi, para pemimpin Asia dan Afrika, mereka ini tak lebih tipologi dari ‘jongos’ para penjajah.

Mereka tidak akan pernah bisa melakukan perubahan apapun, tanpa restu para ‘bos’ yang sudah menjajah negara-negara Asia dan Afrika, sejak berakhirnya Perang Dunai I.

Penjajahan itu terus berlanjut hingga hari ini. Para penjajah kaum imperialis dan kapitalis yang sudah menikmati hasil penjajahan dan perbudakan, dan mengeruk seluruh sumber daya alam atau kekayaan alam di negara-negara Asia dan Afrika, tidak akan pernah berhenti.

Para penjajah Amerika, Eropa dan Cina, tidak akan bermurah hati, membiarkan setiap pemimpin dan gerakan yang bertujuan ingin melepaskan negaranya dari penjajahan dan perbudakan oleh kaum imperialis dan kapitalis yang sudah mencekik itu.

Para penguasa lokal yang sudah menjadi jongos penjajah Amerika, Eropa, dan Cina  itu, tak akan pernah menaruh perhatian terhadap nasib rakyatnya yang sudah penuh dengan   penderitaan. Bahkan, mereka akan meghancurkan setiap kekuatan yang muncul, dan ingin melepaskan diri dari penajajah koionialis Amerika, Eropa dan Cina.

Lihat negara Timur Tengah, Arab, dan Afrika yang melakukan revolusi yang disebut ‘Arab Spring’ (musim semi Arab), sekarang dibikin luluh lantak. Rakyat di Timur Tengah, Arab dan Afrika, yang sudah  membuang para pemimpin negaranya yang sudah menjadi ‘anjing’ piaraan Amerika, Eropa, dan Cina, sekarang dibikin porak-poranda. Hancur.

Perang berkecamuk dengan sangat dahsyat. Sudah ratusan ribu rakyat di Timur Tengah, Arab, dan Afrika yang tewas. Akibat perang. Perang diantara kekuatan baru melawan kekuatan lama yang merupakan pendukung dari kaum komprador (pendukung) para penjajah Amerika, Eropa, dan Cina.

Kekuatan para penjajah imperialis dan kapitalis, tidak pernah mau memberikan hak-hak dasar bagi kehidupan rakyat di Asia dan Afrika.

Di kawasan Timur Tengah, Arab dan Asia terjadi powershif (perubahan kekuatan) dan geostrategi. Di mana sekarang Amerika dan Eropa bergandeng tangan dengan rezim Syi'ah Iran, menghancurkan kekuatan Sunni, yang sudah diberi lebel teroris, fundamentalis, radikal, dan militan oleh para penjajah yaitu Zionis-Israel, Amerika, dan Eropa.

Sementara itu, di Asia peranan Amerika Serikat yang sudah jompo itu, digantikan oleh Cina. Cina menjadi penjajah baru di kawasan Asia menggantikan Amerika.

Indonesia menjadi jajajahan Cina, yang sebelumnya dijajah oleh Amerika. Lihat Jokowi dan JK, tak lain, bagian dari kepentingan Cina di Indonesia.  

Sekarang ini, kekuatan penjajah global yang sudah mencekik terhadap rakyat Asia dan Afrika, mereka bersama-sama menyanyikan lagu ‘sengau’ yang harus diikuti oleh semua peserta Konferensi Asia dan Afrika (KAA), perang melawan terorisme. Persis seperti yang dinyanyikan ‘bos’ di Gedung Putih.

Kesepakatan tentang dukungan terhadap negara Palestina merdeka dan berdaulat masih sangat jauh. Hanya sebatas menjadi isu politik. Tidak akan ada perjuangan yang riil, sampai Palestina menjadi merdeka.

Memperjuangkan Palestina merdeka, pasti mentok ditangan Israel, Amerika, Eropa, dan Cina. Karena, Dewan Keamanan PBB hanyalah alat negara-negara penjajah. Perjuangan kemerdekaan rakyat Palestina, hanya ada di tangan rakyat Palestina.

Jadi di tengah-tengah kehidupan yang semakin sulit dan penuh dengan penderitaan, perang,  penjajahan, perbudakan oleh kekuatan imperialis Barat dan Cina, tak akan pernah memberikan manfaat apapun bagi  rakyat Indonesia. KAA tontonan yang tidak menarik bagi rakyat. Wallahu’alam.

*mashadi/dtta

 


latestnews

View Full Version