View Full Version
Selasa, 15 Sep 2015

Politik Jokowi Antara Wahabi, JIN, Tembok Cina Atau Gedung Putih?

JAKARTA (voa-islam.com) – Begitulah Jokowi. Berpolitik dengan 'zig-zaq'. Semuanya yang diucapkan dan dinyatakannya diselisihi sendiri. Sejak mulai membentuk pemerintahan, sampai hari ini, inkonsistensi alias tidak istiqomah dalam berpendirian menjadi ciri khas Jokowi.

Waktu kampanye mau membela rakyat. Sesudah berkuasa menyakiti rakyat. Rakyat langsung digencet, dibuat menjadi sangat sengsara hidupnya. Pertamakali dengan menaikan  BBM. Kebijakannya lebih menguntungkan para 'taoke' Cina, dan konglomerat.

Pembangunan infrastruktur dan gagasan tentang 'tol laut' langsung diserahkan kepada Cina. Jokowi membuat poros “Jakarta – Peking'. Uang Cina ratusan triliun melalui 'BOC' (Bank of Cina) masuk ke Indonesia.

Bersamaan itu Cina memasukan manusia ke Indonesia mengerjakan proyek-proyek Cina di Indonesia. Bukan orang pribumi. Sementara itu, para buruh pribumi kehilangan pekerjaan dan menganggur.

Timbul kecemanan rakyat atas rencana membuat poros Jakarta – Peking. Kecaman dan kritikan itu membuat gerah pemerintahan Jokowi. Kalangan nasionalis menganggap bahwa Jokowi berkiblat ke Peking. Inilah yang menimbulkan sentimen negatif terhadap pemerintahan Jokowi. Rakyat semakin mlarat dan jurang kaya dan miskin semakin menganga.

Di sisi lain, pemeirntahan Jokowi semakin berat bebannya, akibat krisis ekonomi terus bertambah. Nilai rupiah terus mlorot terhadap dolar, sampai mendekat Rp 15.000/1USD.

Kondisi ini membuat cadangan devisi semakin menipis, dan mengancam pemerintah Indonesa menjadi 'bangkrut'. Sebuah kondisi yang sangat mengkawatirkan. Politik dan ekonomi tidak ada yang menggembirakan bagi pemerintahan Jokowi.

Di tengah-tengah kritikan dan prasangka yang semakin buruk itu, dan tuduhan Jokowi berkilblat ke Peking, maka kemudian Jokowi melakukan lawatan ke negara-negara Teluk, terutama Arab Saudi. Inilah yang disebut politik 'zig-zag' Jokowi. Tidak berani memikul resiko atas pilihannya, ketika mendapatkan kritik.

Padahal, Jokowi dan 'inner circle' (lingkungan terbatasnya), tidak suka dengan “Arab”, yang disebut dengan Wahabi.

Islam Arab itu, sebagai Islam yang menakutkan, keras, perang, teroris dan seabrek lebel negatif lainnya. Jokowi secara tegas mendukung JIN (Jaringan Islam Nusantara) yang menawarkan Islam 'rahmatan lil alamin', berbeda dengan Islam Arab. JIN dipandang sebagai yang layak ditampilkan sebagai sosok yang teduh, dan tidak penuh kekerasan.

JIN menawarkan paham Islam yang berbeda dengan Islam Arab dan Timur Tengah, yang sekarang ini dilanda kekisruhan yang sangat dahsyat.

Padahal, prahara atau kekisruhan yang melanda seantero Arab sekarang ini, hanyalah limbah dari para penguasa Barat, yang sengaja membuat 'monster' yang menakutkan seperti ISIS, agar Barat tetap memiliki musuh bersama.

Sekarang Jokowi pergi Arab Saudi menawarkan investasi, kerjasama bilateral, dan bahkan Jokowi juga mau 'ngutang'. Arab Saudi yang selalu diidentikan dengan Wahabi dan diberi lebel 'kekerasan' itu, sekarang didatangi oleh Jokowi.

Inilah politik Jokowi. Belajar menciptakan keseimbangan. Mungkin juga Jokowi bertemu dengan para pemimpin Arab yang menjadi sekutu AS, sebelum Jokowi bertemu dengan Presiden AS Barack Obama.

Namun, hebatnya lagi, politik 'zig-zaq' Presiden Jokowi itu, tak urung membuahkan hasil, di mana Presiden Joko Widodo memperoleh penghargaan dariKereajaan Arab Saudi 'Star of the Order of King Abdul Aziz Al-Saud Medal'.

Penghargaan tertinggi  bagi pemimpin negara sahabat ini langsung diberikan oleh Raja Arab Saudi, Salman Bin Abdul Aziz Al Saud di Istana Al-Salam Diwan Malaki di Jeddah pada Sabtu (12/9/2015).

Menurut Sekretaris Kabinet (Seskab), Pramono Anung, penghargaan ini merupakan Order of Merit atau bentuk apresiasi tertinggi dari Kerajaan Arab Saudi bagi pemimpin negara sahabat.

Hal serupa juga pernah diberikan pada Presiden Amerika Serikat Barack Obama, Perdana Menteri Inggris David Cameron, serta  Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe.

"Medali itu artinya sebuah penghormatan dan sekaligus persahabatan bagi seorang kepala negara dengan penduduk Islam terbesar di dunia," ujar Pramono Anung dalam siaran persnya dari Istana Raja Faisal, Jeddah, Arab Saudi.

Selain pemberian penghargaan tersebut, apresiasi tinggi dari Kerajaan Arab Saudi ini juga ditunjukkan oleh Raja Salman bin Abdul Aziz sejak awal rombongan Presiden Jokowi tiba di negaranya. Presiden disambut di pintu pesawat oleh Raja Arab Saudi dan adanya  jamuan makan siang kenegaraan.

"Sambutan yang diberikan, yang mungkin sangat jarang diberikan Kerajaan Arab Saudi kepada negara-negara lain," kata Pramono.

Dalam kesempatan pertemuan itu, Presiden Jokowi secara langsung mengundang investor dari Arab Saudi untuk berinvestasi di Indonesia, khususnya dalam sektor infrastruktur.

"Investor Arab Saudi diundang untuk membangun kilang minyak, jalan, pelabuhan, dan berbagai objek bisnis lainnya. Selain itu juga diundang untuk masuk di bidang investasi keuangan," ungkap Pramono.

Presiden Jokowi dan rombongan sudah tiba di Jeddah, Arab Saudi sejak Jumat 11 September 2015) pukul 18.00 waktu setempat. Para menteri yang mendampingi Presiden antara lain Menko Perekonomian Darmin Nasution, Menteri PPN/Kepala Bappenas Sofyan Djalil, Menteri ESDM Sudirman Said, Menteri Perdagangan Thomas Lembong, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, serta Alwi Shihab.

Begitulah Jokowi dalam berpolitik. Di dalam negeri mendukung JIN, dan negatif terhadap Wahabi, tapi sekarang bertandang ke negara Arab, yang menjadi sumber Wahabi. Di dalam politik memang tidak ada teman abadi, yang ada kepentingan abadi. Jokowi mungkin akan melakukan reshufle lagi, sesuai pulang dari Amrik. Kisah jeruk makan jeruk berulang.

Tentu,  diatas segalanya itu, yang paling penting Presiden Jokowi menerima kedatangan al-Sisi, yang tangannya penuh dengan lumuran darah rakyatnya. Al-Sisi membantai ribuan rakyatnya yang melakkan aksi damai, menentang kudeta yang dijalankannya.  

Padahal, al-Sisi  tidak berani datang di pertemuan Oganisasi Uni Afrika (OAU) yang berlangsung di Afrika Selatan.

Pengacara Muslim di negara itu, meminta pemerintah Afrika Selatan menangkapnya, karena al-Sisi melakukan kejahatan kemanusiaan. Afrika Selatan yang dikenal pernah menerapkan Apartheid pun, tidak berani meneria al-Sisi. Tapi al-Sisi diterima Jokowi di Istana.  Wallahu'alam. m/i


latestnews

View Full Version