View Full Version
Senin, 25 Jan 2016

Teror atau Sinetron, Salah ISIS(?)

Teror atau Sinetron, Salah ISIS(?)

Penulis: Robigusta Suryanto

Teror di Indonesia masih terjadi. Tepatnya Kamis, tanggal 14 Januari 2016 di pusat Ibukota Negara, dilanda dentuman keras. Yang tidak jauh dari letak Istana kepresidenan Joko Widodo. Dentuman itu berawal dari gerai kopi lalu berlanjut ke pos penjagaan polisi. Pos yang biasa ditempati aparat untuk mengatur lalulintas di perempatan-jalan Thamrin, Jakarta.

Tiga langsung tewas. Darah berceceran. Banyak lalu lalang orang sekitar, tetapi banyaknya seperti tidak melihat mayat yang bergelimpangan dan bersimbah darah. Mungkin saja masyarakat takut. Atau mungkin saja masyarakat lebih asyik menonton “adegan” terorisme. Semua serba mungkin. Bahkan polisi yang terlihat dekat dengan mayat saja hanya bersikap diam.

Bagaimana tidak, di saat pemerintahan sedang panik mengahadapi teror, tetapi rakyatnya seolah tidak mempedulikannya. Ada yang tetap di tempat dengan dagangannya. Ada pula yang lugu mengayuh sepedanya sambil berteriak menawarkan kopi. Dan siapa sangka pula ada polisi, yang seharusnya sibuk, justru terlihat santai dengan membeli minuman atau buah-buahan. Ada ada pula yang berjalan dengan santai. Demikianlah yang saya perhatikan dari hasil jepretan foto para jurnalis. Dan tentu kita sudah melihatnya.

Tidak lama aparat kepolisian, TNI, dan segenap ambulance berdatangan. Dinilai lambat layaknya polisi “India”, tapi minimal kita patut apresiasinya, begitulah kira-kira kata Wakil Presiden Jusuf Kalla bila dilihat hasil sukses penjaga Negara kita.

Lepas meninggalkan jejak ledakan, pelaku lantas ada yang acungkan senjata. Masyarakat tapi tetap tenang. Mereka mengerebunginya. Bahkan ada pula yang sempat-sempat mengabadikan gambar dengan latar belakang pelaku. Ia tidak sadar nampaknya.

Serangan pelaku dengan menodongkan senjata di kerumuman orang banyak tetap tidak membuat masyarakat menepi. Pelaku bingung. Hendak ke mana sasarannya dihempaskan. Dengan kebingungannya itu, akhirnya mau-tidak-mau ia menembak. Seketika masyarakat menepi. Berhamburan. Pelaku kabur. Aparat mengejarnya. Pelaku pun berlindungan dan lari ke tempat yang dirasa aman. Namun siapa sangka, pelarian mereka justru mempersempit ruang gerak untuk melepaskan tembakan. Namun akhirnya terjadi tembak menembak. Polisi sempat dilempar granat (demikian dugaannya). Pelaku semakin tersudut. Hilang akal. Agar “skenario” teror ini matang dan tidak amatiran, lantas mereka melakukan bom bunuh diri. Tewas. Ditemani oleh barang bawaannya. Tubuh mereka terliat hancur. (sensor). Tapi mengapa barang bawaan mereka tidak hancur?

Polisi menang? Tidak. Polisi dan aparat, serta pemerintah dapat dikatakan gagal. Jika berhasil atau menang, tidak seharusnya kejadian kelam itu terlaksana. “Itu kegagalan," demikian kata pengamat teroris, Umar Abduh di salah satu media massa. Apapun alasan “cuci tangan” pemerintah diragukan. Namun pemerintah membantahnya, “Jangan katakan kami kecolongan,” demikian kata Menko Polhukam.

Padahal sebelumnya ada pengakuan bahwa tindak dan tanduk pelaku teror sudah dibaca. Namun tetap saja kebobolan. Jika memang benar telah mengendus sejak dari jauh-jauh hari, atau sebagaimana yang tersebar di media dengan mengatakan bahwa telah terendus dari beberapa bulan, mengapa tidak dapat mengantisipasinya? Bukankah hal itu seharusnya tidak terjadi? Abaikan.

Prediksi dari pengamat pun berguliran. Atau lebih tepatnya dijadikan sandaran pemerintah untuk menjawab. Ini atas tindakan mantan ini dan itu. Tidak kalah dengan pengamat, masyarakat pun berasumsi: ini pelakunya masih sama. Demikianlah. Sama halnya datang dari pemerintah.

Pemerintah mencoba mengaitkan ini adalah perbuatan ISIS atau sejenisnya.  Dikuatkan pula dengan adanya pengakuan yang mengatasnamakan web resmi mereka, katanya. Namun benarkah ISIS nun jauh di sana yang melakukannya? Wallahu’alam. Yang pasti, sebagai seorang muslim kita tidak diminta cepat untuk menjawabnya, untuk mengiyakan dan meniadakannya.

Ingat, dunia ini sekarang dipenuhi dengan fitnah, mungkin saja ISIS atau pergerakan agama (Islam, Kristen, Hindu, Budha, dan lainnya). Namun demikian, kita sebagai umat Islam, yang Beragama Islam, agama yang satu-satunya diterima oleh Allah subahana wa ta’ala wajib dan senantiasa berlindungan terhadap fitnah itu.

Terlepas dari benar atau tidaknya pergerakan itu, Indonesia, yang memiliki penganut terbesar agama Islam di dunia tetap waspada dengan mengklaim bahwa itu dan ini adalah kebenaran yang nyata. Ataupun sebaliknya.

Saya hanya mengingatkan, sebagai muslim yang mencintai Allah dan rasul-Nya pastilah mendambakan tegaknya sistem ataupun tata kehidupan yang sesuai syariah, seperi zaman nabi Muhammad dan para sahabatnya yang merealisasikan itu. Akan tetapi, kita sebagai muslim mesti melakukan tindakan sebaik-baiknya seperti saat Nabi Muhammad berdakwah. Dengan menjaga etika. Ikuti akhlaknya. Lalu tercipta apa yang diinginkan dan diperintahkan oleh Allah.

Terakhir, sebagai muslim layaknya kita harus pandai-pandai mengamati dan mengkritisi hal-hal yang datang dengan tidak dilihat oleh mata ataupun bukan datang dari kerabat yang benar-benar menjalaninya. Yang terpenting umat Islam harus tetap bersatu. Jalankan ajaran Allah melalui nabi-Nya dengan sungguh-sungguh. Saling positif secara personal, atau dengan apapun gerakan yang tengah beredar di luar sana. Sekali lagi, saya tidak membela ataupun bukan pula simpatisan yang saat ini diklaim oleh pemerintah Indonesia maupun dunia. Saya hanya ingin mengajak umat muslim dan lainnya berpikir jernih, dan juga realistis. Wallahu’alam.


latestnews

View Full Version