View Full Version
Senin, 22 Jun 2026

Fenomena ''Boti'' dan Remaja Feminin: Peringatan bagi Orang Tua, Didik dengan Iman Bukan Makian

VOA-ISLAM.COM – Lapangan pergaulan remaja hari ini sedang tidak baik-baik saja. Belakangan, masyarakat dihebohkan dengan fenomena anak laki-laki yang berperilaku, berbicara, hingga berpenampilan feminin—atau yang di media sosial kerap dijuluki dengan istilah "boti".

Menyikapi fenomena ini, umat Islam dituntut untuk cerdas. Di satu sisi, kita wajib menjaga syariat agar anak laki-laki tumbuh sesuai fitrahnya sebagai rijal (lelaki sejati). Namun di sisi lain, menghadapi anak yang telanjur terkontaminasi lingkungan memerlukan strategi dakwah dan pola asuh yang tepat, bukan sekadar amarah yang justru menjauhkan mereka dari agama.

Meniru karena Lingkungan, Bukan Melulu Penyimpangan Sejak Lahir

Psikolog sekaligus dosen UIN Palangka Raya, Ari Pamungkas, menegaskan bahwa fenomena laki-laki yang tampak feminin ini tidak bisa langsung dicap sebagai gangguan permanen atau orientasi seksual tertentu. Seringkali, ini adalah masalah pengaruh sosial dan krisis identitas.

Menurut Ari, ada banyak faktor yang membentuk perilaku tersebut, di antaranya:

  • Pola asuh dan pengalaman masa kecil.
  • Arus media sosial dan figur (influencer) salah yang ditiru.
  • Kebutuhan remaja untuk diakui dan diterima dalam kelompok tertentu.

“Pada masa anak dan remaja, proses meniru perilaku orang lain cukup kuat. Anak bisa meniru gaya bicara, ekspresi tubuh, atau kebiasaan dari orang yang sering dilihat dan dianggap menarik,” ujar Ari.

Dalam psikologi, perilaku ini tidak disebut "menular", melainkan adanya pengaruh sosial yang kuat. Ada anak yang sekadar ikut-ikutan tren, mencari perhatian, atau sedang tersesat dalam mencari jati diri.

Ketegasan yang Manusiawi: Seni Mendidik Sesuai Syariat

Islam melarang keras laki-laki menyerupai wanita (tasyabbuh). Namun, bagaimana cara memutus rantai peniruan ini?

Ari Pamungkas menekankan pentingnya peran orang tua untuk meluruskan kembali fitrah sang anak. Nilai agama, budaya, dan norma sosial harus ditegakkan secara kokoh di dalam rumah. Hanya saja, proses pembinaan tersebut harus dilakukan tanpa hinaan, ejekan, apalagi kekerasan fisik yang destruktif.

“Pendekatan yang lebih tepat adalah berbicara secara pribadi, mendengarkan alasannya, memahami lingkungan pergaulannya, lalu memberi nasihat secara tegas tetapi tetap manusiawi,” jelasnya.

Jika orang tua langsung menghakimi, mencaci, atau mengusir anak, mental mereka akan jatuh. Dampak psikologis seperti rendah diri, kecemasan akut, hingga gangguan kepribadian justru akan membuat anak semakin mencari perlindungan ke komunitas yang salah.

Evaluasi Kamar Anak Kita: Bangun Benteng Emosional

Melarang anak bergaul saja tidak cukup jika rumah tidak menjadi tempat yang nyaman. Orang tua Muslim hari ini harus bersaing ketat dengan algoritma media sosial yang merusak mentalitas generasi muda.

Guna mengantisipasi hal ini, para orang tua disarankan untuk:

  1. Membangun Komunikasi Dua Arah: Dengarkan keluh kesah anak, jadilah sahabat terbaik mereka.
  2. Hadirkan Kedekatan Emosional: Anak laki-laki membutuhkan figur ayah yang kuat agar mereka tahu bagaimana menjadi laki-laki sejati.
  3. Pengawasan yang Sehat: Pantau apa yang mereka tonton di gawai dan dengan siapa mereka menghabiskan waktu di luar rumah.

Membentuk generasi khairu ummah (umat terbaik) memerlukan kesabaran yang besar. Tegas dalam memegang prinsip hukum Allah, namun harus bijak dan merangkul dalam metode penyampaiannya.

“Perilaku boleh dikoreksi, tetapi harga diri anak tetap harus dijaga. Bimbingan yang baik adalah bimbingan yang tegas dalam nilai, tetapi tidak kasar dalam cara,” pungkas Ari. [PurWD/Prokalteng/voa-islam.com]


latestnews

View Full Version