View Full Version
Sabtu, 26 Dec 2015

Kongres Ibu Nusantara 3: Negara Perisai Hakiki Bagi Ibu dan Anak

PERNYATAAN MUSLIMAH HIZBUT TAHRIR INDONESIA

KONGRES IBU NUSANTARA 3 (KIN) 2015

“Negara Perisai Hakiki Bagi Ibu dan Anak

   

Dari Abu Hurairah r.a  berkata bahwa Nabi Muhammad s.a.w bersabda:

إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِه

“Sesungguhnya al-imam (negara) itu perisai, dimana (orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Bukhari Muslim)

Islam telah menetapkan fungsi negara sebagai perisai pelindung bagi rakyat. Negara sepatutnya berada di garis terdepan dan menjadi aktor utama untuk memberikan perlindungan dari segala bentuk kezaliman dan mewujudkan penjagaan hakiki dari semua bahaya. Fungsi negara sebagai perisai tersebut telah ditunjukkan oleh institusi politik Islam Khilafah Islamiyah. Sejarah mencatat bahwa sepanjang 13 abad pemerintahan Islam, rakyat hidup dalam kesejahteraan dan terlindungi dari beragam ancaman. Kaum ibu menjalankan fungsi strategisnya sebagai pencetak generasi mulia dan anak-anak mendapatkan hak-haknya secara sempurna.

Setelah tiadanya Khilafah, rakyat  kehilangan perisainya. Negara tidak lagi berada di depan untuk melindungi, namun  justru berada di belakang dan mengorbankan rakyatnya. Negara  demokrasi terbukti gagal melindungi rakyat dan terus memproduksi berbagai masalah. Kaum ibu dan anak-anak yang semestinya dilindungi justru  menjadi tumbal sistem ekonomi, politik dan budaya. Lihatlah program pemberdayaan ekonomi dan pencapaian kesetaraan yang merupakan ’titah’ PBB.

Program ini tidak akan mengatasi masalah perempuan, justru merupakan bentuk eksploitasi sistematis dan  berdampak tergerusnya fungsi keibuan. Begitu pula kurikulum Kesehatan Reproduksi (Kespro) dan hukuman kebiri kimiawi tidak sedikit pun akan menghentikan kekerasan terhadap anak bila kebebasan berperilaku dan media sekuler justru dilindungi dan dilegalkan menyebarkan  pornografi dan kekerasan. Bahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual hanya akan menegaskan bahwa negara gagal memberikan solusi, dan kebijakan-kebijakannya tidak beranjak dari mengadopsi konvensi-konvensi global  dan menerbitkan aturan yang dinilai lebih baru. Lalu dimanakah fungsi negara sebagai perisai? 

Bagi siapa pun yang mendambakan kembalinya negara yang berfungsi sebagai perisai  dan hidup sejahtera dalam naungan rahmat Allah SWT, Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia menyatakan:

  1. Satu-satunya sistem yang mampu menjadi perisai hakiki bagi ibu dan anak hanyalah sistem Khilafah Islamiyah.  Khilafah pula yang akan memberikan kedudukan terhormat pada perempuan di tengah masyarakat dan menjamin Ibu menjalankan fungsi utamanya mempersiapkan generasi unggul penerus dan penjaga peradaban mulia.
  2. Suatu kewajiban bagi seorangmuslim untuk meyakini bahwa sistem Islamlah satu-satunya sistem yang bisa menyelesaikan permasalahan manusia tanpa menimbulkan kerugian atau permasalahan baru bagi siapapun. Sistem Islam telah menggambarkan secara rinci bagaimana pengaturan seluruh aspek kehidupan manusia hingga terwujud kesejahteraan, kemuliaan dan harmoni.
  3. Hendaknya semua pihak berkomitmen untuk  memperbaiki kondisi diri & keluarga tanpa meninggalkan upaya sungguh-sungguh untuk terlibat dalam menyelesaikan persoalan bangsa melalui upaya perjuangan menegakkan Khilafah Islamiyah.

Guna membangun kesadaran umum terhadap akar persoalan dan solusi atas persoalan kronis yang dialami kaum ibu dan generasi bangsa ini, Muslimah  Hizbut Tahrir Indonesia menyelenggarakan Kongres Ibu Nusantara (KIN) 3 di 59 kota di seluruh Indonesia pada rentang tanggal 19hingga 26 Desember 2015. Kongres ini akan mengumpulkan lebih 30 ribu kaum ibu dari kalangan intelektual, mubalighah, Majelis Ta’lim, Aktifis LSM/Ormas/Orpol, penggerak masyarakat dan  tokoh perempuan lainnya.

Pembahasan dalam kongres selain menjadi masukan dan koreksi bagi para pengambil kebijakan, juga diharapkan dapat meningkatkan semangat juang para ibu untuk bersama-sama  menegakkan Khilafah Islamiyah yang mampu mengakhiri kekerasan, mewujudkan perlindungan, kesejahteraan dan pemberdayaan yang hakiki.  Ingatlah firman Allah SWT:

Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu, sesungguhnya aku pun berbuat. Kelak kamu akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik dari dunia ini. Sesungguhnya orang yang zalim itu tidak akan mendapat keberuntungan." (QS al-An’am [6]: 135).

 

Juru Bicara Muslimah Hizbut Tahrir IndonesiaIffah Ainur RochmahHP    :  +628111131924                                                                Email: [email protected]


latestnews

View Full Version