View Full Version
Rabu, 06 Jan 2016

Surat Terbuka untuk UNJ, Fahri Hamzah: Anda Rektor atau Diktator?!

JAKARTA (voa-islam.com)- Setelah tidak lama menulis soal jiwa-jiwa reformis dan demkorasi di kampus, justru Senin (04/01/2016), Ketua BEM UNJ, Ronny Setiawan di-drop out dari kampusnya. Sebabnya ringan, ia hanya rajin bersuara kritis terhadap persoalan sosial.

Melihat hal itu, Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah pun melayangkan surat terbukanya kepada pihak UNJ-Rektor. Berikut suratnya, seperti yang didapat voa-islam.com berbentuk siaran pers:

(SURAT TERBUKA FAHRI HAMZAH, WAKIL KETUA DPR RI, KEPADA REKTOR UNJ YANG TELAH MEMECAT KETUA BEM RONNY SETIAWAN)

Saya baru menulis soal Jiwa Reformasi dan Demokrasi Kampus. Tiba2 ada kabar rektor yg pecat mahasiswa karena kritis. Satu kata: LAWAN!

Dia kira dirinya siapa itu rektor, pakai UU ITE pecat mahasiswa.

Rektor UNJ yang terhormat, Anda harus bangga punya mahasiswa yang kritis, karena itu pertanda nurani bangsa kita masih hidup. Mungkin Pak Rektor tidak pernah jadi aktivis sehingga nurani tidak pernah diasah krisis. Atau Pak rektor tidak pernah keluar dari dalam laboratorium atau perpustakaan kepada dunia nyata yang dinamis.

Menyesallah Pak rektor karena Anda tidak pernah menjadi demonstran seperti mahasiswa yang Anda pecat. Menyesallah Pak rektor karena Anda bercokol lebih sebagai pejabat daripada penjaga kebebasan akademis.

Tahukah Anda arti kebebasan akademik wahai Pak rektor? Dunia akademik yang Anda pimpin harus dibebaskan dari tekanan apapun selain ilmu pengetahuan. Sehingga dalam kampus, tempat kebebasan berpikir kita semai, tidak boleh ada simbol kekuasaan

Dan kalau Rektor telah berubah menjadi simbol kekuasaan maka Rektor pun layak ditumbangkan!

Tapi Pak Rektor yang terhormat. Pagi ini, seperti pagi di setiap musim hujan ketika Jakarta dan sebagian kota terancam banjir, Anda telah membantu para aktivis mahasiswa bersemi bersama bunga, pertanda awal musim kita

Terima kasih Pak Rektor, Anda mengingatkan mereka ketika politik atau kekuasaan telah bersenyawa dengan para Ilmuan. Ketika kebenaran telah dirampas dari ilmu pengetahuan. Dan ketika semua menjadi kelam, karena kebenaran tenggelam bersama dominasi kekuasaan. Mungkin ini pertanda yang berulang dalam setiap perubahan besar. Bahwa kebenaran mesti diperjuangkan oleh keberanian!

Dan ketika semua telah menjadi mapan, kita hanya punya satu pilihan yaitu hidup bersama dengan orang-orang yang dalam hatinya penuh keberanian.

Dalam sejarah Indonesia, inilah yang muncul dalam setiap reformasi dan kemerdekaan. Dan keberanian itu telah muncul bersama pemuda dan mahasiswa.

Seperti hari ini dan hari-hari mendatang. Adalah hari-hari perjuangan!

Selamat berjuang teman2 mahasiswa. Tiada kata jera dalam perjuangan!

Allahuakbar, Merdeka!

Jakarta, 6 Januari 2016

Fahri Hamzah

Eksponen '98

#SAVERONNY

(Robigusta Suryanto/voa-islam.com)


latestnews

View Full Version