View Full Version
Senin, 18 Jan 2016

Ledakan di Sarinah, Thamrin, Jakarta Adalah Rekayasa Penguasa? (1)

JAKARTA (voa-islam.com)- Mungkin saja ucapan dari salah satu filsuf berpengaruh dan acapkali mengkritisi kebijakan Amerika Serikat, Noam Chomsky bisa menjadi pandangan bagaimana ledakan di Thamrin, Jakarta beberapa waktu lalu. Mengingat para pengamat ada yang menyatakan bahwa ledakan yang terjadi beberapa waktu lalu itu bisa jadi adalah rekayasa atau buatan dari oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab, untuk melanggengkan kekuasaan.

Salah satunya datang dari pengamat teroris Mustafa Nahrawardaya. Berikut ulasannya dari akun Twitter pribadi miliknya:

“Fakta Kekerasan menggunakan bahan peledak maupun senjata rakitan memang ada. Tapi intelijen jangan mudah menyerah membongkar kejanggalannya. Kalau intelijen Indonesia hanya pasrah menerima kejadian dan tanpa mau menganalisa kejanggalan di lapangan, apa jadinya? Biasanya, dalam kasus pembunuhan biasa, intelijen sangat jeli membongkar kejanggalan di tempat kejadian perkara (TKP). Ini kejadian pembunuhan di Sarinah, lho. Saya belum melihat ada pihak-pihak resmi Pemerintah yang menyatakan bahwa aksi teror di Sarinah sarat kejanggalan.

Padahal ada. Kenapa? Kasus sepert Bom Sarinah ini kalo hanya dilihat snapshot, ya seperti peristiwa terorisme biasa. Tapi kalau dilihat detail, banyak yang tidak lazim. Mungkin karena hanya pasrah dan tidak menganalisa kejanggalan TKP, maka Hotel Marriotts bisa dibom dua kali dalam 5 tahun. Karena tidak dianalisa kejanggalan di TKP, maka mungkin masuk akal juga jika Bali sampai dua kali dihajar Bom. Alam Sutera malah berkali2 dihajar bom meski akhirnya diketahui pelaku bukan ISIS dan bukan Islam. Maka analisa kejanggalan itu penting.

Kejanggalan di TKP Bom Sarinah tentu Polisi yang paham betul harus dimulai darimana. Jadi saya berharap kejanggalan tersebut dipelajari detail. Yang perlu dipelototi di TKP Bom Sarinah banyak. Tapi kejanggalan yang paling mencolok barangkali hanya beberapa saja dapat ditemukan. Untuk mengurai kejanggalan Bom Sarinah, maka CCTV sekitar TKP harus dibuka setidaknya SEMINGGU sebelum hari H. Jangan dimulai di hari H. Saya melihat ada banyak CCTV yg mengarah ke TKP Bom Sarinah. Baik itu CCTV di Fasum atau CCTV gedung swasta.

Bongkar kejanggalannyaDari analisa CCTV, maka akan diketahui kapan persiapannya. Dari mana pelaku masuk ke TKP dan siapa yang "mendampingi" mereka sebelum beraksi. Rekaman CCTV dan dokumen amatir di TKP, bisa digabung. Mungkin akan ditemukan banyak fakta. Akan ditemukan kejanggalan dan keganjilan. Apalagi video yang sudah beredar cukup banyak, maka seyogyanya itu bisa dipakai untuk bantu polisi menemukan kejanggalan Bom Sarinah. Mungkin ada yg bertanya, untuk apa kejanggalan dipelajari?

Ya tentu agar akurat dalam memburu kelompok pelaku Bom Sarinah. Tak salah tangkap. Saya khawatir perburuan ke depan bisa salah sasaran HANYA karena kejanggalan di TKP tidak dipelajari. Atau, hanya pasrah dgn situasi. Bagi saya, Fenomena Bom Sarinah belum terjadi sebelumnya. Terbuka, begitu cepatnya penanganan, Presiden, Menteri di TKP tanpa alat pengaman. Lihat saja pelaku berbaju hitam yang khas itu, beraksi dengan wajah pandangan kosong. Melenggang tak segera dilumpuhkan padahal banyak polisi. Pelaku mengenakan busana ala anak muda.” (Robigusta Suryanto/voa-islam.com)


latestnews

View Full Version