View Full Version
Jum'at, 09 Feb 2018

Kaum Otoriter Saat Ini Berlindung di balik Slogan Nasionalis?

JAKARTA (voa-islam.com)- Tidak cukup hanya bicara bahwa ‘Saya Pancasila, Kita Pancasila, dan Saya Indonesia’ jika kenyataannya segala tindak tanduk kebijakan dan atau sikap dianggap otoriter oleh masyarakat. Misalkan saja ada keinginan mengembalikan lagi pasal-pasal yang dianggap tidak relevan dengan hawa demokratis.

“Kita memerlukan pemimpin yang cerdas sebab ide-ide dalam kehidupan demokrasi dan #PancasilaKita cukup kompleks. Tidak cukup bicara Saya Indonesia dan Saya Pancasila tapi ternyata tidak paham keduanya.

Pemberlakuan kembali pasal-pasal otoriter adalah pertanda bahwa kita sedang dipimpin orang bodoh. Ini berlaku di semua tempat. Partai atau Negara,” kata Fahri Hamzah, di akun Twitter pribadi miliknya, beberapa waktu lalu.

Sebagai contohnya menurut dia adalah keinginan dikembalikannya pasal penghinaan Presiden. “Sekarang, dalam negara kita #KaumOtoriter sedang mengusung pasal tentang penghinaan kepada presiden dengan anggapan seolah presiden adalah lambang NKRI yang tidak boleh disentuh dengan kritik dengan kata-kata yang tidak dibakukan.

Dalam rezim ini, kita sudah mendengar banyak kisah cara berpikir #KaumOtoriter mulai dari pembubaran ormas, sertifikasi khotbah Jumat, pasal-pasal makar yang dihidupkan, pasal-pasal ITE yang dikembangkan sampai ijin penelitian yang kemudian dibatalkan sepihak.” Menurut dia lagi, pada dasarnya, Kaum Otoriter tumbuh mewakili mereka yang tidak sanggup berpikir imajinatif.

Jalan pikirannya sederhana dan cemas dengan kompleksitas serta takut melihat kebebasan. Mereka selalu datang dengan ide memaksakan penyederhanaan.

“#KaumOtoriter memandang manusia dengan perasaan curiga, ini karena mereka membaca manusia dengan kacamata yang salah. Manusia dianggap sama saja dengan binatang sehingga diatur pun seperti binatang. Sejak itu #KaumOtoriter membuat hirarki.” (Robi/voa-islam.com)


latestnews

View Full Version