View Full Version
Rabu, 15 May 2019

Pidato Tak Biasa, Sandiaga Ajak Masyarakat Jaga Kedaulatan Rakyat Hingga Titik Darah Penghabisan

JAKARTA (voa-islam.com)—Sikap berbeda ditunjukan cawapres nomor urut 02 Sandiaga Uno pada pidato pembukaan pemaparan kecurangan Pemilu di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Selasa (14/5/2019) sore.

Sandiaga berpidato dengan penuh semangat dan ketegasan. Bahkan diakhir pidatonya, Sandi mengajak pendukung 02 untuk terus berjuang menengak kedaulatan rakyat.

“Meskipun rintangan terus menghadang, saya, Pak Prabowo Subianto bersama rakyat Indonesia tidak akan pernah lelah berhenti berjuang dan menegakkan kebenaran dan keadilan. Saya mengajak saudara-saudara sekalian untuk terus berjuang sekuat tenaga, sampai titik darah penghabisan, menjaga kedaulatan rakyat,” ungkap Sandiaga.

Pidato Sandiaga ini juga dimuat di Fanpage Facebook miliknya.

Diawal pemaparannya, Sandi menyebutkan bahwa Pemilu 2009 penuh dengan keprihatinan. Ia menyinggung soal wafatnya ratusan petugas Pemilu.

“Dengan pahit kita harus menerima kenyataan, inilah Pemilu paling mematikan sepanjang sejarah Indonesia. Suatu pelajaran yang amat mahal yang harus kita jadikan bekal bagi perbaikan penyelenggaraan Pemilu di waktu-waktu mendatang,” kata Sandi.

Kemudian, diungkap pula soal politik uang yang massif pada Pemilu 2019. “Kita juga mencium aroma politik uang yang sangat tajam, tertangkapnya ratusan ribu amplop yang disiapkan untuk serangan fajar yang melibatkan pejabat tinggi BUMN dan pejabat tinggi pemerintahan. Rakyat sebagai pemilik kedaulatan telah dibuat terlena, bukannya memilih sesuai hati nurani, tetapi dipaksa atau setengah dipaksa memilih yang memberikan iming-iming uang. Ini sungguh-sungguh menciderai demokrasi kita,” jelas Sandi.

Tak kalah penting, Sandi juga menceritakan pengalaman saat kampanye yang penuh dengan ketidakadilan.

“Bila kita tarik ke belakang, saya mengalami sendiri sepanjang masa kampanye hingga menjelang pemungutan suara, kita merasakan betapa banyak kejanggalan dan ketidakadilan yang kami alami, yang tidak ditangani dengan baik oleh penyelenggara Pemilu maupun pihak-pihak yang berwajib. Mulai dari sulitnya perijinan, tempat yang dipindah-pindah, hingga dipersulitnya akses untuk masyarakat ke titik acara,” demikian kata Sandi.* [Syaf/voa-islam.com]


latestnews

View Full Version