View Full Version
Kamis, 30 May 2019

Soal Referendum, Pemerintah Aceh Akan Bahas Usai Lebaran

BANDA ACEH (voa-islam.com)—Wacana referendum Aceh yang disuarakan mantan Panglima GAM Muzakir Manaf atau Mualem nampaknya ditanggapi serius oleh Pemerintah Aceh.

Melalui Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Aceh Nova Iriansyah pernyataan Mualem tersebut harus dihargai, terlebih Indonesia merupakan negara demokratis.

Nova menekankan agar pendapat Mualem harus sejalan dengan konstitusi.

"Konstitusi itu mulai dari pembukaan UUD sendiri, kemudian UU, kemudian semua hirarki peraturan perundang-undangan di bawahnya," kata Nova kepada awak media di Pendopo Gubernur Aceh, Rabu 29 Mei 2019 malam seperti dikutip dari Tagar.id.

Nova mengatakan, wacana referendum ini akan dibahas secara mendalam oleh Pemerintah Aceh usai Lebaran. "Karena menjelang hari raya, akan kita bahas secara dalam setelah Lebaran. Kita juga perlu buka referensi, Pemerintah Aceh juga tentu ada yang menggali dan melihat peraturan perundang-undangan nanti kita teliti dengan baik," kata Nova.

Nova menyebutkan, kalau usul referendum itu memiliki peluang berdasarkan konstitusi dan perundangan-undangan yang ada, maka bukan tidak mungkin referendum untuk Aceh sebagaimana pernyataan Muzakir Manaf itu bisa terlaksana.

"Saya pribadi, apapun wacana dan pendapatnya kalau muaranya untuk kesejahteraan rakyat harus dihargai," kata Nova.

Seperti diberitakan sebelumnya, Muzakir Manaf atau karib disapa Mualem menyuarakan referendum Aceh. Pernyataan Mualem ini menanggapi kondisi Indonesia pasca Pilpres 2019.

Pernyataannya disampaikan dalam sambutannya pada peringatan Kesembilan Tahun (3 Juni 2010-3 Juni 2019), wafatnya Wali Neugara Aceh, Paduka Yang Mulia Tgk Muhammad Hasan Ditiro dan acara buka bersama di salah satu Gedung Amel Banda Aceh, Senin (27/5/2019) malam.

“Alhamudlillah, kita melihat saat ini, negara kita di Indonesia tak jelas soal keadilan dan demokrasi. Indonesia di ambang kehancuran dari sisi apa saja. Itu sebabnya, maaf Pak Pangdam, ke depan Aceh kita minta referendum saja,” begitu tegas Mualem yang disambut tepuk tangan dan yel-yel hidup Mualem.

Menurut Mualem, pihaknya sudah mengkaji dan melakukan instropeksi diri terhadap berbagai kelemahan dan kemajuan yang perlu diperbaiki pada masa mendatang. Berdasarkan pengalaman itulah menurut Mualem, Aceh harus melihat dan meretas jalannya sendiri di masa depan.

“Karena, sesuai dengan Indonesia, tercatat ada bahasa, rakyat dan daerah (wilayah). Karena itu dengan kerendahan hati, dan supaya tercium juga ke Jakarta. Hasrat rakyat dan Bangsa Aceh untuk berdiri di atas kaki sendiri,” ungkap Mualem yang kembali mendapat tepuk tangan dari kader PA dan mantan GAM yang hadir.

Mualem menilai, Indonesia tak lama lagi akan dijajah asing. “Kita tahu bahwa Indonesia, beberapa saat lagi akan dijajah oleh asing, itu yang kita khawatirkan. Karena itu, Aceh lebih baik mengikuti Timor Timur, kenapa Aceh tidak,” ujar Mualem.

Hadir saat itu Forkopimda Aceh (masing-masing diwakili) serta para Bupati dan Wali kota dari Partai Aceh, anggota DPRA Partai Aceh serta partai nasional.

“Dari pada kita dijajah orang lain, lebih baik kita (Aceh) berdiri di atas kaki sendiri. Mudah-mudahan, ini adalah satu usaha dan pemikiran bangsa Aceh saat ini. Mudah-mudahan dengan niat kita semua, lebih baik kita mengikuti Timor-Timur, Insya Allah,” tegas Mualem kembali yang disambut yel-yel hidup Mualem dan “merdeka”.*[Syaf/voa-islam.com]


latestnews

View Full Version