View Full Version
Kamis, 25 Jul 2019

Kekalahan Prabowo di Pilpres dan Sejarah Jepang-AS (2)

JAKARTA (voa-islam.com)- Seorang pendekar, seorang kesatria harus tegar, harus selalu memilih jalan yang baik, jalan yang benar. Menghindari kekerasan sedapat mungkin. Menjauhi permusuhan dan kebencian. Namun bukan penakut.

Jika diperlukan, jika negara menuntut, kita harus maju dan terlibat dalam operasi-operasi militer, dalam kontak tembak dengan musuh negara.

Ya, kalau semua usaha seorang pendekar, pada akhirnya tetap tidak membuahkan sebuah hasil yang sesuai dengan kepercayaan dan cita-citanya, dan kalau bangsa Indonesia terancam, kalau kekayaan bangsa terus dirampok oleh bangsa lain, kalau kita sudah sekuat tenaga menciptakan kesadaran nasional namun tidak berhasil, seorang patriot dan pendekar bangsa harus tidak ragu-ragu mengambil tindakan yang dituntut oleh keadaan.

Salah satu nilai pendekar yang paling utama adalah keberanian. Kita harus berani. Berani menghadapi maut, berani menghadapi risiko. Selain itu, real warrior must never have hate. Tidak boleh benci dan tidak boleh dendam. No hate, no revenge. 

Kita berani, tapi tidak benci dan tidak dendam. Dalam pengabdian kepada negara dan bangsa, kita harus mengalahkan perasaan pribadi kita.

Untuk pelajaran ini, soal mengorbankan perasaan pribadi, Pak Prabowo banyak belajar dari sejarah Jepang. Pak Prabowo pernah membaca, suatu saat ada seorang panglima perang jepang yang terkenal, yaitu Hideyoshi Toyotomi. Hideyoshi terkenal selalu mau negosiasi. Ia pada waktu itu menghadapi salah satu panglima lain, Tokugawa Leyasu. Mereka akan berperang.

Jadi, datang Hideyoshi dengan pasukan yang banyak, siap perang, berhadapan dengan lawannya, Leyasu. Ia datang siap perang, tetapi sebelum pertempuran dia minta berunding. 

(Bersambung)

 


latestnews

View Full Version