View Full Version
Senin, 01 Jun 2020

Mengapa Vaksin Covid-19 Masih Belum Ditemukan?

                                           

                                          Oleh: Lia Asani

Menurut Dirut Perusahaan BUMN (Badan Usaha Milik Negara) Farmasi PT. Bio Farma yang merupakan produsen vaksin terbesar di Asia Tenggara, Honesti Basyir, produksi Vaksin Covid-19 butuh waktu 2-3 tahun. (Dilansir dari cnbcindonesia.com)

Itu baru waktu produksi, atau pembuatan produk yang sudah melalu riset penelitian, sedang untuk riset penelitiannya, jika dimulai dari 0 (nol) covid-19, butuh waktu 10-15 tahun. Bahkan ada vaksin yang sampai melalui penelitian jauh lebih lama dari itu. Sejauh ini, vaksin tercepat yang pernah dibuat adalah vaksin gondong yang hanya membutuhkan waktu pembuatan 4 tahun. Untungnya kita pernah menemui virus dengan jenis yang sama sebelumnya, sehingga mungkin bisa mengembangkan praklinis vaksin yang sudah ada, jadi tidak perlu memulai riset penelitian dari nol.

Menurut Jason Schwartz, profesor di Yale University School of Public Health. Secara genetis, virus SARS 2002 dengan covid-19 80% hampir sama. Sekalipun virusnya tidak sama, namun mereka dari jenis yang sama. Dengan itu, para ilmuwan mungkin sudah mendapat pengalaman perilaku praklinis dari vaksin SARS yang mungkin akan sama dengan pembuatan vaksin covid-19.

Mengapa membutuhkan waktu yang sangat lama untuk membuat vaksin?

Sekadar info, pembuatan vaksin harus melalui banyak tahapan, dari mulai riset akademik, tahap pre-clinical (praklinis), 3 fase uji coba pada hewan. Biasanya pada tahap ini banyak kandidat vaksin yang menemui kegagalan dikarenakan tidak memenuhi respon imun yang diinginkan. Setelahnya, baru tahap uji coba pada manusia, itupun harus melalui tahapan uji coba lagi, hingga 1, 2, 3 tahapan dengan memperhatikan safety (keamanan) di setiap tahapannya. Hingga seleksi kandidat vaksin harus memenuhi beberapa kriteria;

1. Apakah kandidat vaksin dapat mencegah munculnya penyakit?

2. Apakah kandidat vaksin dapat mencegah infeksi patogen?

3. Apakah kandidat vaksin  mengarah pada produksi dan antibodi atau respon imun lain yang terkait dengan patogen?

Semua pertanyaan itu jelas harus bisa dijawab oleh semua kandidat vaksin. Tahukah kalian, hanya kurang dari 10% dari 100% obat yang memasuki uji klinis disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA). Artinya dari 100 kandidat vaksin yang menjanjikan, hanya 10 vaksin saja yang berhasil atau disetujui, 90 kandidat lainnya gagal dan dibuang.

Itu semua butuh proses panjang nan melelahkan dimana ilmuwan-ilmuwan ahli berjibaku di dalamnya. Mereka bekerja keras, jatuh bangun dan menelan banyak biaya, waktu, juga tenaga. Barulah proses tersebut menemui tahap akhir, yakni tahap produksi, yang sekali produksi tentu menyesuaikan kebutuhan manusia di dunia, hingga harus memproduksi jutaan, bahkan milyaran dosis per tahunnya.

Kemudian datang orang-orang yang percaya teori konspirasi, mencari celah menyalahkan perusahaan farmasi dan biotek dan mengatakan mereka mencari uang  dengan mendatangkan virus dan sebagainya.

Lebih parahnya lagi, mereka semakin tidak masuk akal dalam mengkampanyekan teori-teori konspirasi dengan menuduh covid-19 adalah virus yang dibuat demi mencari kepingan uang dengan menjual Vaksin, padahal Vaksinnya sendiri belum ditemukan.

Ada lagi kasus dimana vaksin akan siap diproduksi, tapi wabah sudah bisa dikendalikan. Dunia sudah tidak memerlukannya lagi seperti kasus SARS pada 2002 silam, sehingga pengembangan vaksin untuk virus SARS dihentikan.

Bisa bayangkan ilmuwan-ilmuwan ahli sedang berusaha sekuat tenaga membuat vaksin di luar sana demi agar virus ini dapat diatasi dan tidak bermutasi lebih ganas lagi, sedang kebijakan pemerintah semakin mengarah pada Herd Immunity yang mengharuskan para ahli segera menemukan vaksin untuk ini, kalian justru memutilasi semuanya dengan teori konspirasi?l

Tahukah kalian walau semua lembaga farmasi atau biotek saat ini saling berlomba-lomba menemukan vaksin untuk covid-19, masih ada kemungkinan bahwa vaksinnya mungkin tidak pernah bisa ditemukan selamanya? Semua tergantung keberhasilan dari penelitian mereka.

Seperti yang dikatakan wakil kepala medis dari Inggris Jonathan Van-tam terkait vaksin covid-19, bahwa vaksin mungkin tidak akan ditemukan. Karena memang sulit menemukan vaksin ideal yang bisa melindungi dari infeksi, mencegah penyebarannya dan melakukannya dengan aman.

Dalam kasus ini, sangat wajar jika para ilmuwan berbicara hati-hati dalam pembuatan vaksin, karena 30 tahun para ilmuwan mengisolasi HIV, virus yang menyebabkan AIDS, mereka masih belum memiliki vaksinnya.

Tibalah pada kesimpulan: bagi kalian yang percaya teori konspirasi, apakah kalian percaya dengan orang-orang yang memang ahli di bidangnya? Ilmuwan-ilmuwan yang memang terbiasa meriset dan meneliti suatu hal, yang mereka berjibaku mengabdikan jiwa raganya dengan uji coba di dalam laboratorium, mengorbankan banyak waktu dan dana mereka dengan ilmu yang mereka pelajari puluhan tahun?

Atau kalian lebih percaya dengan orang-orang yang mengacu pada teori halusinasi, opini dan kemungkinan-kemungkinan yang tidak berdasar?

Semuanya saya serahkan pada diri kalian masing-masing. Hanya saja, saya ingin memberikan 1 nasihat.

"Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancurannya." Hadits Bukhari Nomor 6015. Wallahu alam. (rf/voa-islam.com)

Ilustrasi: Google


latestnews

View Full Version