View Full Version
Ahad, 18 Apr 2010

Andai Raden Ajeng Kartini Menyaksikan Peringatan Hari Kartini

Memperingati hari Kartini beberapa tahun yang lalu, penulis sempat diwawancarai oleh salah satu stasiun radio di Bandung atas rekomendasi teman. Tidak ada yang istimewa di pertanyaan-pertanyaannya, bahkan sebagian besar sudah pernah penulis kupas di tulisan-tulisan sebelumnya. Salah satunya adalah kira-kira apa tanggapan RA Kartini bila saja beliau masih hidup dan sempat menyaksikan perempuan-perempuan zaman sekarang. Jelas saja, beliau akan sedih karena peringatan tentangnya hanya dimaknai dengan memakai baju kebaya saja. Bahkan bisa dibilang itu merupakan pelecehan terhadap gaya berpakaian feodal di zaman itu.

Pertanyaan selebihnya tidak begitu penulis ingat lagi. Tapi ada satu pertanyaan yang menurut penulis jawabannya standard aja, namun ternyata penyiarnya yang terdiri dari dua cowok bersuara mirip memberi tanggapan di luar dugaan penulis. Sebuah pertanyaan tentang bagaimana dengan fenomena bahwa masih ada cowok yang suka merendahkan perempuan. Gampang saja jawabannya. Ada aksi pasti ada reaksi. Bila ada yang suka merendahkah pasti ada objek yang memang suka direndahkan. Sudah cowoknya suka merendahkan, eh…ceweknya pun memang senang bila direndahkan. Klop.

Bagoooosss! Itu reaksi kedua penyiar cowok tersebut. Karena faktanya memang begitu banyak kejadian yang melibatkan makhluk dengan dua jenis kelamin yang berbeda. Meskipun ada jenis kelamin ketiga yang sudah mulai diakui secara luas (wadam alias waria) namun itu out of the topic deh. Bila dirunut dengan teliti, sesungguhnya tak ada yang patut dipersalahkan antara jenis Adam dan Hawa ini. Yang cewek menyalahkan kaum Adam yang suka melecehkan dirinya. Si cowok menyalahkan kaum Hawa yang emang memancing diri untuk dilecehkan. Walah…ini jadi kayak debat kusir tentang mana yang duluan keluar, telur ataukah ayam?

… Yang cewek menyalahkan kaum Adam yang suka melecehkan dirinya. Si cowok menyalahkan kaum Hawa yang emang memancing diri untuk dilecehkan…

Mending kita fokus aja dengan titik-titik yang sama yang menjadikan masalah kesenjangan laki-laki dan perempuan ini muncul. Kebebasan, itu salah satu dari benang merah yang bisa ditarik dari masalah ini. Kesetaraan, itu adalah benang merah yang lain. Kebebasan dan kesetaraan adalah dua kata menggiurkan yang sering membuat manusia mabuk kepayang. Bebas untuk bersikap dan bertingkah laku dan setara dengan laki-laki untuk menjadi apa pun yang dimau.

Si cowok juga gak mau kalah dong. Bebas memandang (meski dengan nuansa melecehkan) dan memperlakukan si cewek. Kan sama-sama menjunjung tinggi kebebasan. Kesetaraan juga sama saja. Di mana cowok bisa, cewek pasti juga bisa. Gak peduli apakah sesuatu itu melanggar fitrah kemanusiaan apa enggak. Yang penting kudu sama persis dengan cowok.

Andai Kartini masih hidup, pasti ia jadi pusing dengan perkembangan perjuangannya dulu itu. ‘Perasaan nggak gini deh mau gue’, begitu kira-kira isi benaknya. Perempuan jadi bebas kebablasan dan menuntut kesetaraan yang kadang nggak rasional lagi. Hanya karena cowok gak bisa hamil, cewek pun jadi ogah hamil. Biar setara alasannya. Duh..duh…pantas saja sang ibu akan bersedih hati. Sedang penulis saja ikutan miris bila melihat sepak terjang kaum penulis yang entah apa lagi yang diperjuangkannya dengan ide kesetaraan gender. Karena sepertinya perjuangan perempuan menjadi jalan di tempat kalau tak bisa dikatakan malah mengalami kemunduran. Ohh perempuan, nasibmu kini... [riafariana/voa-islam.com]


latestnews

View Full Version