View Full Version
Senin, 16 Aug 2010

Membuang Kebiasaan Buruk dengan Terapi Ramadhan

Apakah Anda memiliki kebiasaan buruk yang ingin dihilangkan namun tidak memiliki stimulus atau kekuatan untuk mengubahnya? Jika demikian, maka bulan Ramadhan bisa menjadi jawabannya. Ya, Ramadhan bisa menjadi bagian dari solusi atas persoalan Anda melalui penyediaan motivasi, pengendalian diri, dan kesempatan bagi Anda untuk melakoni kebiasaan-kebiasaan yang lebih baik.

Bayangkan, jika puasa Ramadhan bisa mengajarkan kita untuk mengontrol keinginan dan nafsu untuk makan dan minum, maka Ramadhan juga dapat melatih kita untuk menghentikan kebiasaan-kebiasaan yang merusak kesehatan dan kehidupan kita.

Kebiasaan Harian Kita

Kebiasaan-kebiasaan buruk yang kita lakukan sehari-hari bisa kita hilangkan dengan ‘bantuan’ bulan Ramadhan. Sebagai contoh, para perokok pastinya mendapatkan keuntungan dari puasa Ramadhan. Karena dia dipaksa untuk menjauhi rokok seharian. Berdasarkan penelitian Lehigh Valley Hospital and Health Network, satu bungkus rokok perhari, selama setahun, bisa menyebabkan paru-paru seorang perokok terkotori tar sebanyak dua cangkir.

…Kebiasaan-kebiasaan buruk yang kita lakukan sehari-hari bisa kita hilangkan dengan ‘bantuan’ bulan Ramadhan…

Bagaimana pun, tubuh bisa memberangus tar, jika Anda berhenti merokok. Ketika Anda total berhenti merokok, pada di akhir bulan, indera penciuman dan perasa akan kembali normal, sistem pernapasan akan kembali prima, dan akan mendapatkan tambahan energi yang luar biasa.

Berdasarkan studi yang dilakukan American Psychosomatic Society, konsumsi kafein dan nikotin memicu meningkatkan sifat lekas marah. Namun, dengan mengurangi kopi dan menginggalkan rokok, maka di akhir bulan Ramadhan, sifat mudah marah akan jatuh ke level yang lebih rendah dibandingkan sebelumnya.

Selanjutnya, menurut Guru Besar Ilmu Nutrisi di Universitas West Virginia DR Muhammad Zafar Nu’mani, bagi sebagian orang, puasa bisa menyebabkan perut seperti terbakar dan mulut menjadi masam. Hal itu disebabkan meningkatnya asam lambung di dalam perut.

Jika demikian, maka mengonsumsi makanan ringan dan beristirahat dari kopi, serta memakan makanan tinggi protein, serat, dan bergizi bisa membantu mengurangi asam lambung dan mereduksi berlebihnya asam saluran empedu. Makanan-makanan seperti roti yang terbuat dari tepung terigu, sayuran, kacang-kacangan, dan buah-buahan merupakan sumber serta terbaik.

Namun, bagi yang biasa menderita maag, puasa sejatinya bisa menjadi terapi ampuh mengurangi penyakit lambung tersebut. Penderita gangguan pada lambung (maag) biasa merasakan perih dan tidak nyaman di uluhati kalau makan terlambat. Padahal kalau berpuasa, tak ada makanan yang masuk selama 14 jam. Logikanya rasa perih dan nyaman akan terjadi selama kita berpuasa selama tidak ada makanan dan minuman yang masuk selama 14 jam tersebut.

Menurut Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Penyakit Lambung dan Pencernaan,FKUI- RSCM Dr. H. Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH,MMB, FINASIM penelitian yang ada menunjukkan pada pekan pertama puasa orang normal akan mengalami peningkatan asam lambung setelah siang hari dan kadang menimbulkan rasa perih. “Tapi penelitian menunjukkan kondisi ini akan stabil setelah pekan kedua dan asam lambung akan menjadi normal sepekan usai puasa Ramadhan,” kata dia.

Adanya peningkatan asam lambung ini tidak akan merusak dinding lambung. Jadi, mereka yang tak mempunyai masalah lambung, puasa tidak akan membuat sakit lambung justru sebaliknya, akan menjadi sehat. Bagi yang mempunyai masalah dengan lambung, justru kepada mereka dianjurkan untuk berpuasa karena puasa akan menyembuhkan sakit maagnya.

Bahkan, kebiasaan untuk shopaholic (gila belanja) akan berkurang disebabkan tingginya kesadaran relijius kita pada bulan Ramadhan. Tingginya kesadaran kita terhadap makanan di bulan Ramadhan, akan mempengaruhi kita untuk lebih memperhatikan asupan air dan buah-buahan. Maka kita akan lebih banyak mengonsumsi air dan buah-buahan ketika Ramadhan, daripada ketika kita diet. Dan bahkan kita akan lebih banyak memakan kurma dari waktu-waktu lainnya.

Dengan berpuasa rutin di bulan Ramadhan, di akhir bulan nanti Anda akan terbiasa untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaan tidak sehat seperti mencemil makanan ringan, merokok, meminum kopi dan mengonsumsi gula secara berlebihan. Anda akan menyadari bahwa Anda tidak hanya bisa bertahan tanpa semua itu, tapi Anda juga sejatinya bisa hidup lebih baik tanpa semua hal itu.

…Ketika Anda melakukan detoksifikasi sistem tubuh Anda dari kafein, gula, dan nikotin secara total, maka potensi terkena sakit kepala akan berkurang, dan energi akan bertambah lebih…

Ketika Anda melakukan detoksifikasi sistem tubuh Anda dari kafein, gula, dan nikotin secara total, maka potensi terkena sakit kepala akan berkurang, dan energi akan bertambah lebih banyak dari ketika Anda rutin meminum kopi setiap pagi.

Memutuskan Belenggu Rutinitas

Bulan Ramadhan memberi kesempatan besar kepada kaum muslim untuk menghindar dari depresi dan isolasi rutinitas harian. Sungguh sangat tidak biasa bagi manusia untuk keluar dari belenggu rutinitas mereka.

Setiap hari kita terbiasa untuk pergi bekerja dan kembali pada waktu makan malam bersama keluarga. Bahkan pada akhir pekan sekalipun, begitu banyak aktivitas bersama keluarga yang kita lakukan, sehingga menangguhkan aktivitas-aktivitas ibadah. Meski sifatnya hiburan, namun ketika aktivitas dengan keluarga melebihi porsi aktivitas ibadah, sejatinya hal itu bisa memicu depresi.

Selain itu, televisi, komputer, dan telepon genggam tampaknya lebih menyita perhatian kita daripada ibadah yang sejatinya dapat meningkatkan keimanan. Menurur penelitian yang dilakukan Sourcebook for Teaching Science, rata-rata setiap orang menonton televisi sampai 6 jam perharinya. Belum lagi waktu untuk duduk di depan komputer.

…Bulan Ramadhan bisa memotivasi kita untuk mengenyahkan kebiasaan buruk kita dalam mengatur waktu …

Bulan Ramadhan bisa memotivasi kita untuk mengenyahkan kebiasaan buruk kita dalam mengatur waktu. Ramadhan mendorong kita untuk terbiasa menghabiskan waktu dengan membaca Al-Qur`an, beribadah, bersilaturahim dengan keluarga dan kerabat, dan bersosialisasi dengan muslim lainnya.

Berbuka puasa dan shalat tarawih memberi kesempatan kita untuk keluar dari pola berkeluarga yang kaku, dan menciptakan relaksasi dalam interaksi kita dengan orang-orang rekan-rekan serta kerabat yang seakidah dan sevisi. Sosialisasi seperti ini mampu meningkatkan rasa ukhuwah (persaudaraan) di kalangan komunitas muslim.

Bahkan, menurut DR Muhammad Fazar Nu’mani, selain bernilai pahala, shalat tarawih juga bisa membakar sekitar 200 kalori, dan membantu mencerna makanan yang kita makan ketika berbuka puasa.

Mengubah rutinitas harian selama bulan Ramadhan memberi kita kesempatan untuk memodifikasi kehidupan dan membebaskan kita dari kebiasaan-kebiasaan buruk. Dalam praktiknya, puasa menempa kita menjadi pribadi yang lebih baik. Puasa menjadikan kita menyadari pentingnya kebiasaan dan pilihan-pilihan baik untuk kita. Setidaknya, kita menjadi lebih berhati-hati dalam menjaga tubuh dan keimanan kita. Selama bulan Ramadhan, kita akan lebih disiplin untuk menjaga kebiasan-kebiasaan baik.

…Gunakan berbagai motivasi spiritual dan sosial untuk membuat Ramadhan menjadi lebih semarak, bersemangat, dan tentunya bernilai pahala…

Tips Singkat Puasa Sehat

  1. Kurangi jumlah kafein, demi menghindari sakit kepala disebabkan kafein berlebih.
  2. Jauhi kafein selama bulan Ramadhan. Banyak meminum air putih lebih sehat daripada meminum kopi atau the.
  3. Banyak mengonsumsi buah-buahan dan sayuran, serta hindari makanan bergula.
  4. Menyegerakan berbuka puasa dengan kurma dan air putih,  lalu menyantap hidangan utama setelah melaksanakan shalat Maghrib.
  5. Tidur malam yang cukup, dan tidur sejenak pada siang hari (qailulah).
  6. Gunakan berbagai motivasi spiritual dan sosial untuk membuat Ramadhan menjadi lebih semarak, bersemangat, dan tentunya bernilai pahala. [ganna pryadha/berbagai sumber/voa-islam.com]

latestnews

View Full Version