View Full Version
Selasa, 14 Feb 2012

Mengungkap Budaya Mesum dalam Perayaan Hari Valentine

By: Yogi T Rinaldi & Afandi Satya K Departemen Kajian Strategis Dakwah Forum Amal dan Studi Islam FIB Universitas Indonesia (KASTRAD FORMASI FIB UI)

EMPAT belas Februari adalah hari yang ditunggu-tunggu bagi kebanyakan pemuda-pemudi dalam setiap tahunnya, mereka menamakan hari ini sebagai hari Kasih Sayang. Ya, Valentine’s Day. Mereka menganggap hari ini adalah ‘Hari Raya’ orang-orang yang sedang di mabuk cinta, pada hari ini mereka mengekspresikan cinta mereka terhadap orang-orang yang mereka cintai dengan bahasa cinta mereka masing-masing. Padahal hari ini tidak lebih dari hari mesum semata, bagi mereka yang dikuasasi oleh Syahwat nafsunya.

Rupanya hari ini tidak hanya berlaku bagi kalangan remaja atau pemuda, tetapi berlaku pula bagi orang-orang yang telah merajut tali pernikahan. Mereka beralasan bahwa dengan memperingati hari ini, pernikahan mereka semakin melanggeng. Bahkan mereka yang baru duduk di bangku SMP sudah mengenal dan merayakan budaya satanis ini.

Beragam cara para Valentinis untuk merayakan VD, mulai dari mengatakan kata-kata cinta, memberikan kartu Valentine, memberikan bunga, sampai pada mengajak lawan jenisnya untuk melakukan tindakan-tindakan yang mengarah pada perzinaan. Na’udzubillah. Seolah-olah mereka menganggap telah ‘halal’ perbuatan tersebut pada hari ini. Toko-toko swalayan, toko-toko karangan bunga dan club-club malam pun turut memperingati hari ini. Bagaimana tidak, telah disaksikan (penulis) dari salah satu picture yang diupload  di media Facebook, sebuah bingkisan coklat yang dibungkus dengan rapih dan cantik namun bersamaan dengan coklat tersebut disisipkan alat kontrasepsi. Hanya orang-orang yang takut kepada Allah Ta’ala saja yang memahami bahwa hari ini bukanlah hari kasih sayang tetapi hari mesum yang memasal.

Seolah nampak begitu indah, di mana-mana terdapat nuansa cinta, di toko-toko, perkantoran, dan gereja-gereja, bahkan televisi dan radio juga memberikan suguhan kepada penonton dan pendengarnya dengan acara-acara tentang cinta. Tapi ini tak ubahnya kesenangan yang menipu dan kesengsaraan pada hari akhirat.

Telah jelaslah bahwa VD adalah hari kasih sayang yang menipu dan menyengsarakan, sungguh miris ketika di negara yang berpenduduk mayoritas muslim ini dari sekian banyak para pemuja Valentine adalah remaja yang mengaku dirinya muslim. Na’udzubillah. Untuk mereka para remaja muslim yang sedang kehilangan jati diri (jati diri seorang muslim), ketahuilah bahwa kalian sedang tenggelam dalam budaya jahiliyah, budaya yang di produksi oleh para penyembah Salib yang berakulturasi dengan budaya Animisme Romawi!. Sudah selayaknya kalian mengetahui bagaimana asal muasal VD ini.

Sejarah Valentine’s Day

Merayakan Hari Valentine sama halnya dengan mengikuti tradisi Romawi dan Kristen. Orang-orang Kristen mengikuti orang-orang Romawi dalam merayakan Hari Valentine, yang sesungguhnya bukan bagian dari agama mereka. Ironi sekali ketika mereka yang merayakannya namun sama sekali tidak mempunyai pengetahuan tentang apa yang dengannya mereka bersenang-senang.

St. Valentine

Pada tanggal 14 Februari 270 M, seorang pendeta kristiani yakni Santo Valentine dipancung oleh penguasa Romawi pada waktu itu, Raja Claudius II (268 - 270 M). Untuk mengagungkan dia (St. Valentine), yang dianggap sebagai simbol ketabahan, keberanian dan kepasrahan dalam menghadapi cobaan hidup, maka para pengikutnya memperingati kematian St. Valentine sebagai 'upacara keagamaan'. Mengenai latar belakang pembunuhan Pendeta ini akan kami jelaskan kemudian.

Sebagaimana yang diungkap dalam The Encyclopedia Britania, Vol. 12, Baru pada 496 M upacara atau ritual tersebut oleh Gelasius I dimasukan kedalam agama Nasrani, sehingga sejak saat itu kaum Nasrani memiliki Hari Raya baru yang bernama Valentine’s Day. 

Tetapi sejak abad 16 M, 'upacara keagamaan' tersebut mulai berangsur-angsur hilang dan berubah menjadi 'perayaan bukan keagamaan'. Hari Valentine kemudian dihubungkan dengan pesta jamuan kasih sayang bangsa Romawi kuno yang disebut “Lupercalia” yang jatuh pada tanggal 14 Februari.

Dalam budaya Romawi, pertengahan bulan atau tanggal 15 adalah hari bagi para ahli nujum (peramal) melakukan ritual sihirnya. Sedangkan pada bulan Februari pertengahan bulannya jatuh pada tanggal 14, maka para ahli nujum melakukan aksinya pada hari ke-14. Sedangkan pada tanggal 13nya menjadi hari libur pagan (penyemba berhala) yang sangat penting dalam Kekaisaran Roma. Hari ini (14 Februari) juga untuk menghormati dewa Romawi, Lupercus dan Faunus, serta saudara kembar legendaris, yang konon mendirikan Roma, Remus dan Romulus. Yang konon pernah disusui oleh serigala di sebuah gua di Bukit Palatine Roma. Sebuah gua yang disebut Lupercal merupakan tempat pusat perayaan pada malam Lupercalia atau 14 Februari. Sekarang ini, Lupercalia, yang kemudian disebut Hari Valentine.

Setelah orang-orang Romawi itu masuk agama Nasrani (Kristen), pesta Lupercalia kemudian dikaitkan dengan upacara kematian St. Valentine. Penerimaan upacara kematian St. Valentine sebagai hari kasih sayang juga dikaitkan dengan kepercayaan orang Eropa bahwa waktu kasih sayang itu mulai bersemi bagai burung jantan dan betina pada tanggal 14 Februari.

Dalam bahasa Prancis Normandia, pada abad pertengahan terdapat kata Galentine yang berarti galant atau cinta. Persamaan bunyi antara galentine dan valentine menyebabkan orang-orang Eropa berpikir bahwa sebaiknya para pemuda mencari pasangan hidupnya pada tanggal 14 Februari. Dengan berkembangnya zaman, seorang martyr (orang yang wafat dalam memegang teguh prinsip agamanya, dalam Islam sama dengan syuhada) bernama St. Valentine mungkin akan terus bergeser jauh pengertiannya (jauh dari arti yang sebenarnya). 

Beberapa versi tentang sejarah VD

Ensiklopedia Katolik menyebutkan tiga versi tentang Valentine, tetapi versi terkenal adalah kisah Pendeta St. Valentine yang hidup di akhir abad ke 3 M di zaman Raja Romawi Claudius II. Pada tanggal 14 Februari 270 M Claudius II menghukum mati St. Valentine yang telah menentang beberapa perintahnya. Cladius II melihat St. Valentine mengajak manusia kepada agama Nasrani lalu dia memerintahkan pasukannya untuk menangkap pendeta ini.

Dalam versi kedua, Cladius II memandang para bujangan lebih tabah dalam berperang dari pada mereka yang telah menikah yang sejak semula menolak untuk pergi berperang. Maka dia mengeluarkan perintah yang melarang pernikahan. Tetapi St. Valentine menentang perintah ini dan terus mengadakan pernikahan di gereja dengan sembunyi-sembunyi sampai akhirnya diketahui lalu dipenjarakan. Dalam penjara dia berkenalan dengan putri seorang penjaga penjara yang terserang penyakit. Ia mengobatinya hingga sembuh dan jatuh cinta kepadanya. Sebelum dihukum mati dia mengirim sebuah kartu yang bertuliskan “Dari yang tulus cintanya Valentine”. Hal itu terjadi setelah anak tersebut memeluk agama Nasrani bersama 46 kerabatnya”. 

Versi ketiga menyebutkan, ketika agama Nasrani tersebar di Eropa, di salah satu desa terdapat sebuah tradisi Romawi yang menarik perhatian para Pendeta Nasrani. Dalam tradisi itu pria-pria desa berkumpul tiap pertengahan bulan Februari. Luperci atau pendeta Lupercus akan berpakaian bulu kambing untuk sebuah upacara berdarah. Para pendeta dari Lupercus, dewa serigala, akan mengorbankan kambing dan seekor anjing dan kemudian melumuri tubuh mereka dengan darah. Setelah tubuh pendeta Lupercus menjadi merah karena dulumuri darah, dia akan berjalan di sekitar bukit Palatine dengan menggunakan tali yang terbuat dari kulit kambing yang dinamai februa. Wanita-wanita akan duduk di sekitar bukit, lalu mereka akan dicambuki dengan tali kulit kambing supaya mereka menjadi subur. Setelah itu Para wanita muda itu berkumpul di kota dan nama mereka dimasukkan ke dalam kotak. Inilah "surat cinta" disebut Billet. Pria-pria Romawi akan mengambil billet, dan wanita yang membuat billet tersebut akan menjadi pasangan seks liarnya, dan dia akan berzina sampai Lupercalia berikutnya atau 14 Februari. Jadi, 14 Februari menjadi hari nafsu seksual yang tak terkendali. Warna "merah" dan "bentuk hati" melambangkan kekudusan untuk hari ini. Bentuk hati yang ada pada perayaan ini bukan bentuk hati atau jantung dari organ tubuh manusia, melainkan bentuk ini melambangkan rahim wanita atau membuka ke kamar persetubuhan yang suci menurut mereka. Mereka juga mengirimkan sebuah kartu yang bertuliskan “dengan nama tuhan Ibu saya kirimkan kepadamu kartu ini”. Akibat sulitnya menghilangkan tradisi Romawi ini para pendeta Nasrani memutuskan mengganti kalimat “dengan nama tuhan Ibu” dengan kalimat “dengan nama Pendeta Valentine” sehingga dapat mengikat para pemuda tersebut dengan agama Nasrani.

Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa VD tidak lebih bercorak kepercayaan atau animisme belaka yang berusaha merusak Akidah muslim dan muslimah, sekaligus memperkenalkan gaya hidup barat dengan kedok percintaan, perjodohan dan kasih sayang. Maka beginilah cara mereka mengartikan Cinta. Lantas bagaimanakah pandangan Islam terhadap perayaan hari valentine ini.?

1. Seorang muslim hendaknya mengetahui bahwa ini adalah bagian dari ritual orang-orang non Islam dan kita sebagai muslim yang berakidah dengan benar tidaklah dibolehkan membantu syiar-syiar mereka apalagi ikut merayakannya hari raya mereka. Karena hari raya itu termasuk hitungan Syara’ , minhaj (jalan agama) dan manasik (tatacara beribadah), Allah Ta’ala berfirman:

“Dan tiap-tiap umat di antara kamu (umat Muhammad SAW dan umat-umat sebelumnya), kami berikan aturan dan jalan yang terang”. (QS. Al-Maaidah : 48)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa:

“…Karena sesungguhnya menyepakati dalam seluruh hari raya itu adalah menyepakati dalam kekufurannya. Dan menyepakati sebagian cabangnya adalah menyepakati dalam sebagian cabang kekufurannya. Bahkan hari raya itu adalah termasuk yang paling spesifik dari apa yang menjadi ciri syariat-syariat, dan yang paling nyata dari apa yang menjadi simbol-simbolnya. Maka menyepakatinya adalah menyepakati syariat kekafiran yang paling khusus dan simbol kekafiran yang paling nyata. Maka tidak diragukan lagi bahwa menyepakati hal ini sungguh telah berakhir pada kekafiran dalam garis besar..” (Iqthidaus Shiratil Mustaqim 1/207).

2. Selain dari pada hari raya, hari ini pun merupakan bentuk peribadatan dan ungkapan cinta mereka terhadap dewa-dewa mereka, jelas ini merupakan bentuk menyekutukan Allah Ta’ala. Ritual ini tak ubahnya ritual  orang-orang Arab penyembah berhala yang mengungkapkan rasa cinta mereka kepada berhala yang berada disekeliling Ka’bah dengan cara mengelilinginya tanpa busana, bersiul dan bertepuk tangan, sebagaimana yang Allah telah jelaskan dalam firman-Nya;

Sembahyang mereka di sekitar Baitullah itu, Tidak lain hanyalah siulan dan tepukan tangan. Maka rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu.” (QS. Al-Anfal : 35).

3. Seorang muslim yang mengikuti perayaan hari tersebut telah terjatuh dalam bentuk tasyabbuh atau penyerupaan terhadap mereka. Sedangkan menyerupai mereka merupakan salah satu bentuk kecintaan terhadap mereka. Sungguh Allah Ta’ala telah melarang seorang muslim untuk menyerupai mereka dan menaruh cinta kepada mereka. Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka dia adalah bagian dari kaum tersebut”. (HR. Ahmad)

Allah Ta’ala berfirman: Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara atau pun keluarga mereka.” (QS. Al-Mujadilah:22)

4. Merayakan hari valentine juga mendorong seseorang untuk melakukan tindakan-tindakan yang dilarang oleh syariat kepada lawan jenis yang tidak halal baginya. Kalaupun tidak sampai pada tindakan perzinaan, tetapi ia akan mendekatkan seseorang pada hal tersebut, padahal di dalam Islam melakukan tindakan yang mendekatkan diri pada perbuatan zina saja dilarang apalagi yang jelas terang-terangan melakukan zina. Allah Ta’ala berfirman:

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’ 32).

Dan orang-orang yang saling mencintai itu, yang telah jelas cinta mereka tidaklah dilandasi dengan kecintaan mereka kepada Allah, kalau mereka mengaku cinta kepada Allah maka mereka tidak mungkin meniti jalan cinta yang keji ini, cinta mereka tidak lebih dari cinta yang semu dan menyengsarakan. Kelak di hari kiamat keduanya akan berseteru dan menjadi musuh bagi yang lainnya. Allah Ta’ala berfirman:

Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (Qs Az-Zukhruf  67).

5. Islam adalah agama yang dirahmati oleh Allah SWT dan Islam adalah satu-satunya agama yang mengonsep cara berkasih sayang sesama manusia dengan baik. Dalam Islam seluruh hari adalah hari kasih sayang. Dan kasih sayang dalam Islam adalah kasih sayang yang dilandaskan kecintaan kepada Allah dan rasul-Nya. Bukankah Islam menyuruh kita untuk menyayangi kedua orang tua kita? Bahkan mendurhakainya adalah satu dari beberapa dosa besar, dan pelakunya harus bertobat. Dan begitu ‘Romantisnya’ Islam tatkala kita mencintai seorang mukmin kita disunnahkan untuk menyatakannya pada orang yang kita cintai (berbeda tentunya dengan menyatakan cinta kepada calon pacar alis ‘nembak’), serta dua orang saling mencintai karena Allah adalah satu dari tujuh golongan yang Allah berikan naungan kelak di hari kiamat yang tiada naungan selain naungan Allah. Subhanallah. Begitu indahnya Islam dan begitu sempurnanya syariat Islam, lantas mengapa kita masih mengambil dan mentaklid syariat yang berasal dari luar Islam?.

Dari uraian di atas telah jelaslah bahwa VD adalah budaya yang diproduksi oleh orang-orang musyrik, sejarah kemunculannya pun menceritakan betapa mereka tidak memiliki sikap yang manusiawi dan menghinakan kaum wanita, seolah wanita adalah pakaian murahan yang sekehendak hati untuk mengonta-ganti bahkan setelah rusak pemiliknya bebas membuangnya. Oleh sebab itu, wahai pemuda-pemudi Islam sadarlah bahwa ini bukanlah bagian dari Islam dan dilarang oleh Islam. Maka kesenangan sesaat yang kalian rasakan akan berakhir pada kesengsaraan. Wallahu a’alam bishawab. [voa-islam.com]


latestnews

View Full Version