View Full Version
Rabu, 06 Aug 2014

Menjaga Lidah agar Tak Jadi Bumerang

Sahabat Voa-Islam,

Ketika umrah, ada salah satu jamaah yang suka sekali mengolok-olok orang Arab dalam setiap percakapan. Tentu saja percakapannya dengan sesama jamaah yang berasal dari Indonesia. Ketika tiba di Mekah dan Madinah, dari semua jamaah yang jumlahnya sekitar 50 orang, dia satu-satunya orang yang mulutnya pecah-pecah cukup parah. Terlepas dari cuaca yang memang sangat panas, jamaah lain tidak ada yang mengalami apa yang dialami oleh orang tersebut. Dia sendiri pun menyadari bahwa bisa jadi itu ‘imbalan’ dari kata-kata hinaan yang sering dilontarkannya terhadap suku bangsa Arab.

Pada kejadian yang lain, seorang akhwat mencemooh temannya yang mendapatkan jodoh melalui internet. Menurutnya, orang yang mendapat jodoh melalui internet itu levelnya lebih rendah daripada mereka yang berta’aruf di dunia nyata. Ternyata, takdir berbicara lain. Akhwat ini mendapatkan jodohnya melalui internet juga. Walhasil ia pun ke warnet secara sembunyi-sembunyi ketika proses ta’aruf berlangsung. Dan setelah jadi menikah, teman-teman kampusnya heran darimana ia kenal dengan orang dari seberang. Dengan entengnya ia menjawab ‘teman lama’.

Dari dua contoh nyata di atas, cukuplah kita mengambilnya sebagai pelajaran hidup. Ada peribahasa ‘Mulutmu Harimaumu’. Maksudnya apa yang keluar dari mulut kita, bisa jadi itu juga yang akan menerkam kita atau kembali ke diri kita sendiri. Maka benarlah apa kata Rasulullah bahwa berkatalah yang baik atau diam.

Terkadang kita suka ‘kebablasan’ dalam bercanda tentang satu suku tertentu. Apalagi ini satu suku dimana Qur’an diturunkan dan memakai bahasa suku tersebut

Terkadang kita suka ‘kebablasan’ dalam bercanda tentang satu suku tertentu. Apalagi ini satu suku dimana Qur’an diturunkan dan memakai bahasa suku tersebut, di suatu tempat yang suci pula. Masih untung teguran itu ‘cuma’ berupa bibir yang pecah-pecah. Bagaimana bila Allah membungkam mulut itu hingga tak bisa lagi berbicara selamanya?

Begitu juga dalam hal pemakaian internet. Selama proses ta’aruf yang dijalankan sesuai syara’, dunia maya dan dunia nyata hanyalah sarana. Ketika kata-kata sudah terlanjur terlontar, maka malu untuk mengakui. Bohong pun dimulai dari sini. Sehingga ia akan menolak ketika ada yang bertanya prosesnya bertemu dan ta’aruf dulu bagaimana. Karena sungguh, sesuatu yang ringan di lidah tapi berat di timbangan amal adalah kata-kata.

Dua contoh di atas mungkin tak seberapa dibandingkan dengan apa yang menimpa salah satu teman saya. Ia dulunya adalah aktivis Islam yang sangat gigih. Satu hal yang saya ingat, ia suka sekali memberi julukan pada orang yang dianggapnya tidak sekuat dia dalam menjalankan syariat dengan sebutan ‘gudir’. Gudir itu adalah bahasa Jawa untuk agar-agar atau puding yang bermakna lembek.

Perjalanan hidup mengantarkan dia berubah 180% dari dirinya yang dulu. Ia yang dulu memakai hijab dan jilbab panjang bahkan sempat bercadar, akhirnya menanggalkan itu semua. Gaya berpakaiannya sekarang tak beda dengan orang kafir, terbuka dimana-mana. Satu hal yang membuat miris adalah foto pernikahannya yang dia pajang dengan bangga di facebook berlatar belakang bangunan gereja. Astaghfirullah.

Allah Maha Pembolak-Balik Hati. Tak pantas kita sombong saat ini bahwa amal kita sudah baik atau banyak. Tak ada yang tahu akhir hidup seseorang. Bisa saja kita saat ini baik tapi nantinya berubah. Atau sebaliknya. Orang yang saat ini buruk amalnya, ternyata menjelang akhir hidupnya ia taubatan nasuha sehingga mengantarkannya khusnul khatimah. Semoga kita menjadi orang-orang yang dijaga Allah agar istiqomah dalam menapaki kebaikan dan kebenaran yaitu Al-Islam. Wallahu ‘alam. (riafariana/voa-islam.com)


latestnews

View Full Version