View Full Version
Rabu, 08 Oct 2014

"Curhat" Kader Lorenzo, Muslim Australia yang Bekerja di Klub Malam

Sahabat VOA-Islam yang Dimuliakan Allah SWT...

Bagaimana rasanya bekerja di tempat maksiat dan penuh dengan barang dan aktivitas yang haram pula? Jangan ditanya. Semua ini kulakukan karena keterpaksaan. Tak mudah bagi seorang muslim untuk mendapatkan pekerjaan yang layak di negara ini, Australia. Sebaliknya, diskriminasi dan perlakuan buruk malah sering kami terima.

Tak bermaksud apa pun aku menulis tentang ini kecuali ingin berbagi tentang apa yang sehari-hari kutemui di tempatku bekerja sebagai ‘security officer’ di klub malam.

Tiap malam aku menyaksikan perempuan berganti-ganti pasangan. Tak tanggung-tanggung, mereka bisa berganti pasangan sedikitnya sembilan kali. Entah penyakit kelamin jenis apa yang menghinggapi orang-orang ini dengan kelakuannya yang sedemikian itu.

Laki-laki juga tak mau kalah. Mereka berusaha untuk mencuri perhatian salah satu perempuan yang ada di klub malam itu untuk diajak ‘tidur’. Aneh-aneh kelakuan mereka ini. Ada yang berkelakuan sok lucu agar dilirik lawan jenis. Ada juga yang yang memilih berdansa di lantai dansa berharap bisa bertemu dengan seseorang untuk kemudian dibawa ‘pulang’.

Laki-laki yang ada di sini, di tempat maksiat ini berusaha untuk mendekati lawan jenisnya hingga tak segan melakukan hal-hal yang menjijikkan dan memalukan. Mereka menyerobot saja ketika dilihatnya ada perempuan tanpa pasangan. Tangan mereka ‘bergerilya’ memegang tubuh lawan jenis seolah barang murahan. Pihak perempuan yang disentuh laki-laki seperti ini biasanya memberiku kode untuk mendekat dan menyelamatkan mereka dengan cara mengusir dan menendang laki-laki seperti keluar dari tempat ini.

Sayangnya, kondisiku seakan makan buah simalakama. Setelah ‘menyelamatkan’ para gadis biasanya mereka malah menggodaku. Tak jarang mereka malah saling bertaruh untuk bisa menarik perhatianku dan bisa menjadi pasangan hingga membawaku ‘pulang’ untuk melakukan hal-hal maksiat lainnya. Naudzubillah. Ada kalanya mereka terlalu ‘over’ dalam mendekatiku. Tak jarang aku harus memberikan ancaman yaitu jika mereka tak menghentikan tingkahnya itu maka tak segan-segan aku akan menendang mereka keluar tak peduli bahwa mereka perempuan.

Banyak yang mengatakan betapa beruntungnya aku karena bekerja di klub malam papan atas kota ini. Tapi sekali lagi kutegaskan, ini adalah tempat paling menjijikkan yang pernah diinjak oleh kakiku. Tak peduli yang hadir adalah orang-orang kaya dan terlihat bermartabat. Sekali mereka datang ke tempat ini, bagiku mereka kotor tak ubahnya seperti sampah.

Tiap malam aku harus berhadapan dengan orang-orang yang mulutnya bau alkohol. Ini benar-benar tempat menjijikkan untuk bekerja. Apa daya cuma ini pekerjaan yang bisa kudapatkan untuk saat ini. Menjadi Muslim dan bekerja sambil kuliah adalah hal yang sangat sulit di negeri sekuler dan sangat memusuhi Islam ini. Rasanya ingin segera lulus dan mencari pekerjaan yang lebih baik daripada yang kulakukan saat ini.

Aku tahu tempatku bekerja saat ini bukan tempat yang layak untuk dipertahankan. Tapi sekali lagi, ini hanya sementara untuk bertahan hidup saja. Aku sendiri harus banyak beristighfar dan menebalkan iman yang kupunya. Sungguh, ini pelajaran yang sangat berharga untukku. Bersyukurnya aku sebagai muslim karena Islam mengharamkan hal-hal menjijikkan seperti ini. Interaksi laki-laki dan perempuan diatur sedemikian indah dengan memisahkan keduanya.

Satu ketika nanti bila telah tiba saatnya, insya Allah aku akan mendapatkan calon istri yang terjaga interaksinya dan kesuciannya. Ya Allah, saksikanlah aku, Kader Lorenzo berusaha berpegang teguh pada agama-Mu di tengah kemaksiatan yang merajalela di Australia ini. Jaga aku selalu, Ya Rabb. [riafariana/may/voa-islam.com]

 


latestnews

View Full Version