View Full Version
Senin, 04 Jan 2016

Resolusi Tak Harus Menunggu Setahun Sekali!

Tahun baru adalah momennya para pengecut yang bisanya cuma bikin resolusi setahun sekali.

Kalimat di atas saya sadur dari status medsos salah satu teman FB. Terlepas ia menuliskannya apakah dalam kondisi serius, becanda, nyantai kayak di pantai, nyindir atau apalah, tak jadi soal. Isi dari kalimat tersebut jauh lebih penting karena maknanya bisa ditangkap secara mudah dan pas.

Ya...resolusi atau terjemah sederhananya adalah tekad untuk menjadi lebih baik berhamburan di saat akhir tahun dan menjelang tahun baru Masehi. Ada yang menuliskannya di buku harian jadi hanya dia sendiri yang tahu. Ada yang sebatas keluarga dan teman dekat, bahkan tak sedikit yang menjadikannya status di media sosial. Tak salah sih, namanya saja keinginan atau cita-cita untuk memperbaiki diri dan menggapai cita-cita yang telah direncanakan, iya kan?

Kembali seperti kutipan di awal tulisan ini, apa iya sih resolusi dibikin ‘hanya’ tiap pergantian tahun Masehi saja? Satu tahun itu ada 12 bulan dan 365 hari. Apa iya kudu nunggu segitu lamanya hanya untuk bertekad menjadi pribadi yang lebih baik?

“Nunggu momen dong, kan segala sesuatu akan lebih berkesan bila ada momennya.”

“Lebih baiklah daripada yang gak punya resolusi sama sekali dari tahun ke tahun.”

“Suka-suka gue dong, hidup-hidup gue.”

Ketika jawaban di atas sedikit mewakili jawaban dari pihak yang memutuskan membuat resolusi setahun sekali.

Memang sih, semuanya akan kembali kepada yang bersangkutan sendiri. Entah dia mau bikin resolusi kek, resoles kek, gak bikin kek atau yang lainnya. Gak ada penghakiman atas keputusan masing-masing individu.

Eh, tapi di atas kok ada penghakiman ‘pengecut’ bagi yang bikin resolusi setahun sekali alias di tahun baru saja? Eits...baca lagi, itu kan kutipan dari status medsos salah seorang teman. Kutipan tersebut kebetulan saja saya suka dan saya bahas di sini. Gitu aja kok. Deal? ;)

Saya nggak akan berpanjang lebar kali ini. Saya hanya ingin mengutip kata-kata bijak di bawah ini:

“Orang yang hari ini sama dengan hari kemarin, atau orang yang hari esok sama dengan hari ini, orang itu akan merugi. Orang yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin orang itu sungguh celaka, tetapi apabila hari ini lebih baik dari kemarin, atau hari esok lebih baik dari hari ini, maka orang itu akan beruntung”

So, kalau perbaikan diri itu menunggu setahun sekali, apa ada jaminan kita masih bakal hidup selama setahun ke depan? Jadi tak ada pilihan lain sebetulnya bagi setiap muslim kecuali membuat resolusi itu tidak berdasarkan tahun, bulan atau minggu. Tidak juga berdasar hari karena siapa juga yang bisa menjamin kita masih bisa di esok pagi?

Resolusi itu tiap saat, tiap waktu. Ketika detik ini kita melakukan, katakanlah hal yang buruk dan menyakiti hati orang lain, maka saat ini pula resolusi itu harus dibuat. Minta maaf dan bertekad untuk lebih berhati-hati dan tidak mengulanginya lagi. Ketika detik ini apa yang kita upayakan tidak maksimal, bikin resolusi saat ini juga untuk memaksimalkan ikhtiyar dan doa di kesempatan berikutnya. Begitu terus.

Jadi biarlah tahun baru Masehi hanya sebagai simbol kalender yang mau tidak mau kita gunakan, untuk saat ini. Tahun baru Masehi bukan untuk dirayakan atau dijadikan momen resolusi. Tahun baru Masehi yang tetap menjadi tahun ketika kita harus terus bergumul dengan debu-debu kemaksiatan di sana-sini akibat Islam masih terus asing di negeri sendiri. Dan akhir kata, selamat membikin resolusi setiap hari bahkan setiap saat selama nafas masih ada helaannya di badan ini. Wallahu alam. (riafariana/voa-islam.com)

Ilustrasi: Google


latestnews

View Full Version