View Full Version
Rabu, 06 Apr 2016

Jangan Menyerah karena Hidup Menyimpan Banyak Kisah

Tembus PTN Favorit dan jurusan yang diburu banyak pelajar se-Indonesia raya, siapa sih yang tak bangga? Tapi kenyataan mengharusnya laki-laki ini untuk jebol sebelum waktunya. Ya...kondisi ekonomi keluarga tak memungkinkan ia terus kuliah. Awal semester masih dipaksanya fisik dan psikisnya untuk kuliah pagi sampai siang. Setelahnya kerja ikut orang sebagai teknisi dilakoninya.

Jam kerja yang panjang dan tanggung jawab kerjaan yang tak ringan, plus tugas kuliah yang tak pernah absent setiap hari, membuatnya jarang tidur. Bilapun bisa tidur paling cuma 2 atau tiga jam semalam. Dan itu, langka. Belum lagi kesadaran akan wajibnya menimba ilmu Islam dan mendakwahkannya, membuat ia akhirnya harus memilih.

Kuliah di PTN favorit itu ditinggalkannya. Ia lebih memilih hal yang menjadi kewajibannya: kerja dan dakwah. Meskipun jujur, sangat berat ia meninggalkan bangku kuliah yang menjadi idaman dirinya maupun jutaan pelajar lainnya. Tapi inilah hidup, tetap harus dipilih apa yang menjadi prioritas untuk mengantarkan diri pada amal level kewajiban. Dan ia telah memilih dengan segala ikhtiyarnya.

Emas tak akan pernah pernah tertukar dengan kuningan. Meskipun kuliah harus berhenti di tengah jalan, tempat menuntut ilmu bisa dimana saja. Apapun selama halal, dilakukannya demi nafkah keluarga. Hingga satu ketika, episode hidup mengantarkannya untuk menggenapkan separuh dien. Muslimah yang bersedia menjadi pendamping hidupnya adalah perempuan salihah yang bisa menilai emas di antara kuningan.

...Lebih baik gagal di dunia sementara daripada gagal di akhirat yang bersifat kekal. Naudzubillah...

Ya...meskipun ia tak lanjut kuliah, tapi istrinya telah menuntaskan S2. Tak mengapa, toh pendidik utama anak-anak di rumah adalah sang bunda, bukan? Dan karenanya ia tak salah memilih perempuan salihah yang juga cerdas sebagai ibu bagi anak-anaknya. Semangat pantang menyerah membuat ia bisa melalui semua dengan baik-baik saja. Cita-cita dunia kandas tak mengapa yang penting cita-cita akhirat untuk bisa mereguk sejuk air di jannahNya terus membara.

Sekelumit ilustrasi dari kisah nyata di atas, mengajarkan kita untuk pantang menyerah Sobat. Bila saat ini kamu sedang ujian akhir, pastikan kejujuran yang kamu pegang. Meskipun mungkin itu akan membuat nilaimu jeblok karana kurang belajar dan berdoa. Lebih baik gagal di dunia sementara daripada gagal di akhirat yang bersifat kekal. Naudzubillah.

Begitu pun ketika nanti ujian masuk PTN incaran tak bisa menjadi nyata, ingatlah bahwa kehidupan ini memunyai banyak takdir dan kisah yang tersimpan. Tugasmu hanyalah menjalani tanpa ada sesal. Banyak jalan menuju Roma. Lebih banyak jalan lagi menuju cita-cita. Dan akan jauh lebih banyak jalan lagi menuju surgaNya, cita-cita utama seorang mukmin.

Belajarlah lagi dari kisah laki-laki di atas. Dia korbankan sesuatu untuk menggapai sesuatu yang lebih baik. Niatkan semua karena Allah. Kemudian nantikan keajaiban yang menanti perjalanan kehidupanmu saat kamu ridha apapun yang terjadi itu atas izinNya dan demi kebaikanmu semata. Fokuskan diri dan bersihkan niat bahwa UN-mu, daftar PTN idaman, atau apapun pilihanmu dalam hidup itu semua karena Allah.

Oleh karena itu lewatilah jalan kehidupan yang itu akan membuat Allah ridha juga. Setelahnya, rasakan dan nikmati bahwa itu semua terasa indah ketika kita telah ridha terhadap semua takdir yang telah ditetapkanNya. Wallahu alam. (riafariana/voa-islam.com)

Ilustrasi: Google


latestnews

View Full Version