View Full Version
Senin, 27 Feb 2017

Pemuda, Pemimpin Perubahan

Oleh : Wijaya Kurnia Santoso (Tim #YukNgajiNganjuk)

Tidak bisa dipungkiri bahwa perubahan yang terjadi di negeri ini adalah hasil peran serta para pemuda. Peristiwa Rengasdengklok, sebuah peristiwa penting di penghujung perjuangan meraih kemerdekaan adalah salah satu contohnya. Pada peristiwa itu para pemudalah yang mendesak para tokoh pencetus kemerdekaan Indonesia untuk secepatnya menyusun naskah proklamasi dan pada 17 agustus 1945 di bacakanlah naskah proklamasi untuk menyatakan bahwa bangsa Indonesia merdeka dan telah terbebas dari para penjajahan.

Selain di Indonesia, peran pemuda juga terlihat di berbagai perubahan peradaban dunia ini. Sebagai contoh adalah penaklukkan Konstantinopel yang merupakan ibukota Romawi Timur (Bizantium), Napoleon Bonaparte pernah mengataka : “Apabila dunia ini adalah sebuah Negara, maka Ibukotanya adalah Konstantinopel”. Dan kota itu ditaklukkan oleh seorang pemuda berumur 23 tahun, dialah Muhammad Al-Fatih.

Pada zaman Rasulullah juga banyak pemuda hebat, sebut saja Usamah bin Zaid (18 tahun) yang memimpin pasukan untuk menghadapi pasukan terbesar dan terkuat di masa itu dan beliau menjadi Jenderal termuda yang ditunjuk Rasulullah.Sa’d bin Abi Waqqash (17 tahun) yang melindungi Rasulullah di perang Uhud. Memiliki kedewasaan dan kematangan berpikir sehingga termasuk dari enam orang ahlus syuro. Pemuda hebat dan berani lainnya adalah Al Arqam bin Abil Arqam yang berumur 16 tahun. Rumahnya dijadikan sebagai markas dakwah Rasul Shallallahu’alahi wasallam selama 13 tahun berturut-turut. Selain itu ada Zubair bin Awwam yang berumur 15 tahun dan Thalhah bin Ubaidillah yang berumur 16 tahun karena pengorbanannya untuk Rasulullah dan perjuangannya untuk islam, Rasul Shallallahu’alahi wasallam menyampaikan bahwa mereka berdua akan menjadi tetangga beliau di surga.

Pemuda belia berumur 13 tahun tidak kalah cemerlangnya, beliau adalah Zaid bin Tsabit seorang penulis wahyu (Al-Qur’an) dan hafal kitabullah dan ikut serta dalam kodifikasi Al Qur’an. Ada juga pemimpin muda bernama Atab bin Usaid yang diangkat oleh Rasulullah sebagai gubernur Makkah pada umur 18 tahun. Pemuda hebat lainnya yang tampil heroik di perang Badar yakni Mu’adz bin Amr bin Jamuh 13 tahun dan Mu’awwidz bin ‘Afra 14 tahun yang berhasil membunuh Abu Jahal, jenderal kaum musyrikin pada perang Badar.

Selain itu ada pula penguasa muda Spanyol yakni Abdurrahman An Nashir yang diangkat menjadi kholifah saat berumur 21 tahun. Pada masanya Andalusia mencapai puncak kejayaannya. Dia mampu menganulir berbagai pertikaian dan membuat kebangkitan sains yang tiada duanya. Penakluk lainnya adalah Muhammad Al Qasim yang saat itu ditunjuk menjadi panglima perang saat umurnya baru 17 tahun. Beliau memimpin 20.000 pasukan menuju India dan menaklukkannya.

Sejarah emas yang ditorehkan oleh para pemuda di atas begitu menakjubkan. Hal ini berkebalikan dengan kondisi sebagian pemuda zaman sekarang. Para pemuda cenderung melakukan aktivitas yang kurang produktif bahkan terkadang malah bersikap negatif dengan melakukan berbagai aktivitas dosa. Pemuda sekarang terjebak dalam lingkaran setan, seperti narkoba, pergaulan bebas, kemrosotan moral, tindakan kriminal dan tindak kemaksiatan lainnya. Sebagai contoh di Yogyakarta sepanjang tahun 2016 pihak kepolisian sudah memproses hukum 66 pelajar yang diduga melakukan tindakan kenakalan remaja yang berujung tindak pidana (suaramerdeka.com).

Di Kota Pahlawan Surabaya berbeda lagi, menurut data satpol PP sepanjang bulan Januari hingga 22 November 2016 total kenakalan remaja sebanyak 793 kasus. Angka ini jika dibandingkan tahun sebelumnya mengalami peningkatan yakni 675 kasus (surabayanewsweek.com).  

Degradasi moral yang menjangkiti para pemuda disebabkan oleh berkembangnya ideologi kapitalisme di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang menyebabkan membudayanya ide liberal, individualis dan hedonis. Hal ini didukung dengan banyaknya tayangan sampah di berbagai media audio visual, yang justru dijadikan panutan dan tuntunan para pemuda sekarang.

Disadari atau tidak berbagai serangan budaya dan ideologi dilakukan oleh musuh-musuh negeri ini dan musuh islam untuk menghancurkan para pemudanya. Para musuh-musuh islam sadar betul bahwa islam dan kaum muslimin akan tetap terpuruk dan hancur apabila moral para pemudanya dilemahkan dan diracuni dengan berbagai paham liberal. Maka penjajahan budaya dan ideologi ini harus segera dihentikan. Memutus rantai ideologi kapiltalisme dengan menjelaskan kebobrokkan dan petaka apabila kapitalisme tetap diterapkan dan mengembalikan masyarakat kepada agamanya. Perlu upaya dari segenap elemen untuk melakukan perjuangan itu, terutama pemuda.

Ibnu Abbas r.a. berkata:

“Tidak ada seorang Nabi pun yang diutus Allah, melainkan ia (dipilih) dari kalangan pemuda saja (yakni antara 30 - 40 tahun). Begitu pula tidak ada seorang ‘alim pun yang diberi ilmu, melainkan ia (hanya) dari kalangan pemuda saja. Kemudian Ibnu Abbas r.a. membaca firman Allah swt. dalam surat Al Anbiya ayat 60: “Mereka berkata: ‘Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim.(Tafsir Ibnu Katsir III, halaman 183).  

Musthafa Al Ghalayaini berkata: “Adalah terletak di tangan para pemuda kepentingan umat ini, dan terletak di tangan pemuda juga kehidupan umat ini.” Imam asy-Syafii juga pernah berpendapat tentang pemuda, beliau mengatakan bahwa: "Sesungguhnya kehidupan pemuda itu, demi Allah hanya dengan ilmu dan takwa (memiliki ilmu dan bertakwa), karena apabila yang dua hal itu tidak ada, (maka dia) tidak dianggap hadir (dalam kehidupan)."

Ungkapan di atas secara jelas menggambarkan pada kita begitu pentingnya peran pemuda sebagai pemimpin perubahan. Pemuda yang hebat adalah pemuda yang mampu menjadi pelopor dalam kemajuan bangsanya. Bukan malah menjadi pengekor yang hanya menjadi sapi perah peradaban yang rusak. Seorang pemuda harus memiliki ilmu dan ketakwaan, dan yang pasti mereka harus menjadi kebanggaan umat. Pemuda harus mampu menjadi teladan dalam kebaikan, bukan dalam kejahatan serta mampu memimpin perubahan menuju kebangkitan islam.  

Untuk bisa mencetak pemuda yang siap menjadi pemimpin perubahan dibutuhkan proses pendidikan dan pembinaan yang benar sesuai metode pembinaan yang telah dicontohkan Rasulullah SAW. Lingkungan keluarga juga wajib memberikan pengaruh yang baik bagi perkembangan kepribadian para pemuda. Masyarakat dan negara pun perlu memberikan suasana kondusif bagi pembinaan pemuda. Memberikan pengawasan yang baik, menyuguhi dengan tontonan yang bermutu dan bukan malah memberikan pengaruh buruk. Ilmu yang dilandasi dengan ketakwaan akan menjadikan para pemuda memiliki peran yang besar dalam kemajuan sebuah bangsa dan peradaban. Dan tak mustahil, para pemuda akan menjadi pemimpin perubahan.

Perubahan ada di tangan kalian wahai para pemuda, tidak ada pilihan yang lebih baik bagi kita para pemuda kecuali kita meleburkan diri dalam perjuangan ini. bersama-sama mengkaji Islam dan bergerak merubah peradaban jahiliyah menuju peradaban mulia yakni Islam. [syahid/voa-islam.com] 

Share this post..

latestnews

View Full Version