View Full Version
Selasa, 18 Jul 2017

STOP Bullying, Ayo Lebih Berempati pada Sesama!

Tentang Bullying yang akhir-akhir ini marak di TL medsos, saya sengaja tidak meng-klik karena dua alasan. Pertama gemes dan geram pengen ngeplak pelaku terutama bila itu dilakukan kepada ABK. Yang kedua kuota saya sayang untuk ngeklik tayangan jenis begituan. Efeknya nanti ke alasan pertama yaitu jadi kepengen ngeplak pelaku.

Sudah banyak tulisan tentang bullying ini. Kalau tak salah (berarti benar) saya juga beberapa kali menulis tentang mempersiapkan mental dan sikap anak bila bullying terjadi meskipun itu tak pernah kita inginkan. Silakan browsing sendiri lah, langsung di voa-islam atau nanya mbah Google.

Bullying itu hampir merata terjadi di segenap lapisan. Lha (calon) guru saja bisa kena bullying parah.

Waktu masih kuliah kependidikan dulu, ada matkul namanya PPL. Sebelum saya terjun sendiri menghadapi murid SMP/SMA utk matkul tsb, banyak kisah 'horor' menyebar tentang bullying yg dilakukan para siswa pada guru PPL. Ngeri? Enggak.

 

...Saya pernah bertemu dg korban bullying yg mengambil kelas menulis yg pernah saya ampu. Dan, efeknya benar-benar 'mengerikan' untuk gadis remaja usia 17 tahunan saat itu...

Selama bullying tidak bersifaf menyakiti fisik, saya merasa cukup kuat menghadapinya. Bahkan dengar-dengar, salah satu SMA favorit di Surabaya berhasil membuat para guru PPL keluar kelas sambil menangis bagi yg cewek dan pucat pasi bagi guru cowok. Wuih....penasaran, sayang zaman saya SMA tsb tidak lagi bekerjasama untuk menerima guru PPL di sana.

Waktu PPL tiba, saya dan teman-teman satu kelompok dapat SMA negeri di Maospati, Magetan. Bullying pun nyata ada. Tapi yang namanya calon penulis (saat itu saya masih apalah atuhlah), kasus bullying yg saya terima (teman-teman juga mengalaminya) malah jadi cerpen dan beberapa artikel kelak beberapa tahun kemudian.

Kapan-kapan saya ceritakan garis besar bullying yg dilakukan anak IPS terhadap para guru PPL saat itu. Intinya, darurat bullying ini nyata dan bahaya. Saya pernah bertemu dg korban bullying yg mengambil kelas menulis yg pernah saya ampu. Dan, efeknya benar-benar 'mengerikan' untuk gadis remaja usia 17 tahunan saat itu. Dia tidk mau berbicara meskipun ingin, ekspresi jerih membayang di pandangannya, mau menulis juga tak tahu harus darimana, diajak ngomong juga pasang kuda-kuda menjaga jarak, dsb.

Dan dari saya yg membersamai banyak remaja tumbuh dan berkembang, dengan tegas menyerukan: STOP Bullying!

Langkah kongkritnya, insya Allah ada. (riafariana/voa-islam.com)

Ilustrasi: Google


latestnews

View Full Version