View Full Version
Selasa, 12 Sep 2017

Cinta dalam Dakwah

Oleh : Azka Tahiyati (Staf Human Capital Manajemen KSEI IsEF SEBI)

“Dan hendaklah ada diantara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang – orang yang beruntung “ ( Ali Imran : 104 )

Jalan dakwah terasa sulit manakala antara niat dan perbuatan masih belum bersinergi. Perjuangan mencapai predikat da’i ilallah membutuhkan banyak pengorbanan, mulai dari waktu yang tersita, tenaga yang terkuras bahkan harta yang banyak dikeluarkan demi tegaknya islam dimuka bumi. Dakwah adalah cinta maka ia membutuhkan pengorbanan yang akan meminta apapun yang kita miliki, bahkan hingga sesuatu yang sangat kita cintai.

Alangkah indah jika dakwah menjadi penyemai kehidupan. Setiap saat para malaikat mencatat kebaikan yang menjadi tabungan amal sekaligus tiket untuk bisa memasuki singgasana dalam surga.

Namun, nyatanya banyak dari kalangan kita yang beranggapan bahwa dakwah adalah tugas para kiyai dan orang – orang yang basicnya di bidang agama. Ketahuilah semua orang memiliki tugas untuk berdakwah karena setiap kita adalah da’i dan tiada perkataan yang lebih baik daripada  menyeru kepada Allah SWT.

Putaran waktu akan memperlihatkan betapa pentingnya bagi setiap kita untuk berdakwah. Mari lihat sejenak kondisi negeri ini, banyak aspek yang harus diperbaiki, baik agama, budaya, sosial, ekonomi dan politik. Dakwah tidak hanya menyuruh seseorang untuk sholat akan tetapi aspek dakwah sangatlah luas dan dalam islam antara ibadah, akhlaq dan syariah harus di selaraskan.

Kita bebas memilih jalur dakwah yang akan kita geluti, misalkan seorang yang memiliki basic dan fokus ekonomi islam maka dia harus berupaya untuk membumikan ekonomi islam di penjuru negeri, karena saat ini sistem ekonomi kita masih berbasis sistem ekonomi kapitalis dengan bunga yang menjadi prinsip utama dalam maraih keuntungan.

Dalam berdakwah tentunya seorang da’i harus memiliki metode yang mampu menarik mad’u agar mau menerima apa yang ia sampaikan. Maka kunci utama dari seorang da’i yaitu harus mampu memikat hati mad’u.

Banyak hal yang bisa dilakukan oleh seorang da’i untuk bisa memikat hati  mad’u. Hal utama yang harus ia lakukan yaitu ia harus ingat posisi dirinya sebagai seorang da’i, maka tatkala berdakwah yang perlu diingat bahwa saat itu kita sedang menstranfer kebaikan sebagai bentuk hadiah ungkapan kasih sayang kita kepada saudara – saudara yang kita cintai. Ketika segala sesuatu yang kita kerjakan didasari atas cinta maka secara hukum alam objek yang kita ajak dengan cinta akan menerima ajakan kita dengan cinta.

Jangan menunda kesempatan yang Allah berikan, karena setiap detik yang kita lewatkan ada malaikat yang senantiasa mencatat amalan yang kita kerjakan. Kita harus terus melangkah untuk menjaga ghiroh dakwah agar tetap bersemayam dalam hati. Mintalah kepada Allah agar senantiasa memberikan hidayah agar kita tidak pernah mundur dari jalan dakwah ini.

Dakwah memang terasa sulit tapi ketahuilah hanya orang – orang pilihan Allah saja yang mampu untuk memikul amanah ini. Jangan pernah berputus asa, karena putus asa bukanlah akhlaq seorang muslim. Sungguh dakwah kepada Allah merupakan seni yang keindahannya tak dapat dilukiskan, namun  terpancar indah sekaligus menawan sehingga banyak menarik mad’u untuk kembali ke jalan Allah. [syahid/voa-islam.com]


latestnews

View Full Version