View Full Version
Kamis, 14 Sep 2017

Yuk Bermuhasabah!

Oleh:

Novyana Choerunisa*

 

PERNAH gak sih berfikir? Kenapa ya hidup tuh gini-gini aja? Makan, tidur, kerja, nonton tv, main, sekolah, jalan - jalan, sosmed-an? Kayaknya ga jauh beda deh sama yang lain? Bahkan ga jauh beda dengan orang-orang di luar Islam? Paling yang membedakan, kita ada shalat, puasa, baca Al Qur'an, sama dengerin ceramah, yang kadang masuk kadang engga materi ceramahnya. Iya ga sih? Kalau iya, mungkin ini saatnya kamu untuk muhasabah. Introspeksi diri. Kenapa ya bisa gini? Apa bakal terus-terusan kaya gini? Sayang banget kan kalau ternyata pola kita kaya gini berulang terus hingga kita dewasa.

Ga ada nilai tambahnya di mata Allah SWT. Apa memang bener, Allah menciptakan kita untuk seperti ini? Pernah ga sih berfikir, kok kayaknya perilaku kita itu seakan-akan polanya turun temurun dari keluarga kita? Apa iya kita mau pola hidup kita yang biasa-biasa aja ini, nantinya akan menurun juga ke anak keturunan kita? Mending kalau yang turun-temurun itu semua kebaikannya. Kadang kalanya ada kebaikan orang tua kita, yang mungkin gak kita lakukan dengan berbagai alasan, hingga akhirnya terjadi degradasi akhlak kepada turunan di bawahnya. Ditambah lagi karena kita lebih banyak aktifitas di luar rumah. Akhirnya kita lebih banyak mengadopsi perilaku - perilaku yang ada di lingkungan sekitar.

Makanya gak aneh. Kenapa sebagian besar anak-anak muda makin ke sini makin kurang adab dan akhlaknya? Ada yang sampai tega membunuh orang tuanya, hi serem banget kan? Kalau zaman dulu, ibu-bapak, kakek- nenek kita mungkin gak ada yang berani untuk ngelawan ke orang tua, tapi lihat saat ini. Mereka kadang hilang adabnya kepada orang tua. Disuruh ini dan itu, jawabannya males.

Pernah ga sih, kadang kita dibanding-bandingin sama orang tua kita, seperti "ibu mah dulu, seumur kamu, udah bisa ini dan itu", atau "bapak mah dulu seumur kamu, udah jualan, menghasilkan uang buat nafkah keluarga". Kalau pernah, cepet - cepet introspeksi diri kita deh. Berarti kita sudah menerapkan kekhawatiran saya di atas, yaitu kita hanya meniru pola orang tua, dan kadang menghilangkan beberapa aspek kebaikan di dalamnya. Kok bisa gitu ya? Apa yang salah dalam diri kita?

Tenang guys, karna saya tau manusia itu tidak suka disalahkan. Saya informasikan bahwa kesalahan tidak 100% ada di kita. Tapi kita ga boleh santai-santai aja, menganggap ini bukan salah kita, sehingga kita terus larut dalam kesalahan kesalahan ini. Tapi sebaliknya, kita harus tau nih, what's wrong with me? With us? Kenapa? Karena kelak ketika di hisab, kita ga bisa menyalahkan orang lain, karena orang lain begini dan begitu. Yang pasti Allah SWT itu akan bertanya kepada kita, umurmu kau habiskan untuk apa? Kebayang dong, kalau ternyata justru dihabiskan oleh hal - hal yang tidak bermanfaat kaya yang disebutin di awal? Jikapun ada manfaatnya, mungkin perbandingannya kecil sekali. Apa iya kita mau terus - terusan hidup seperti ini? Dan menurunkan pola hidup seperti ini pula kepada anak cucu kita kelak?

Sudah saatnya kita mengenali diri sendiri. Muhasabah, lontarkan tiga pertanyaan kepada diri sendiri, dan jawab dengan jujur sesuai dengan apa yang kita lakukan dalam kehidupan ini. Pertanyaamnya: untuk apa kah kita hidup di Dunia? Kenapa kita bisa ada di Dunia ini? Dan akan kemana jika kelak kita meninggalkan dunia ini? Tiga pertanyaan ini, jadikan selalu bahan evaluasi diri. Pertanyaan di atas bukanlah pertanyaan biasa. Sebab, di dalamnya kita akan mengenal jati diri kita sesungguhnya. Kita akan tau apa yang akan kita lakukan ke depan, dan langkah-langkah apa saja yang akan kita ambil. Insyaallah jika kita memahami betul jawaban dari pertanyaan tersebut, Insyaallah kita akan mengenal kerangka yang jelas dalam menjalani hidup.

Tujuan hidup kita adalah alasan bagi kita untuk tetap melanjutkan hidup di dunia, apa kira - kira jawabannya? Karena kita berasal dari Allah yang Maha Menciptakan kita. Maka tentulah kita juga meyakini bahwa ketika kita meninggal dunia, kita akan menghadapi fase baru kehidupan. Dimana tidak ada pilihan lagi disana, akan dimasukkan ke dalam surga atau neraka, itu tergantung dari Allah SWT. Maka oleh karena itu, sudah seharusnya kita menjalani kehidupan itu karena Allah, walaupun melalukan aktivitas lain - lain, tetapi jangan sampai aktivitas itu menjadi poros kehidupan, karena sejatinya Allah telah mencukupkan (menjadikan) Islam sebagai agama sempurna segala kebutuhan ada di dalam Islam. Yuk muhasabah! Penulis tinggal di Bandung.

Share this post..

latestnews

View Full Version