View Full Version
Sabtu, 20 Jan 2018

Tahun Baru Berlalu, Masalah Kian Bertalu-talu

Oleh: Wulan Citra Dewi

            Selayaknya manusia yang berakal, tentu kita tidak menghendaki kerugian apatah lagi celaka. Sebaliknya, tentu kita inginkan keberuntungan dan keselamatan. Lebih-lebih bagi manusia yang beriman, tentu menjadi baik dari hari ke hari adalah asa yang terus diusahakan. Ya, karena manusia beruntung adalah ia yang hari-harinya selalu diliputi dengan kebaikan. Menghabiskan waktu demi waktu dalam ketakwaan, adalah rutinitas yang menjadi poros hidupnya. Sehingga ampunan dan berkah Allah Swt. tercurah. Ridha Allah Swt. pun menyelimuti setiap langkah dan helaan nafasnya. Nikmat, karena ridha inilah puncak bahagianya orang yang bertakwa.

            Namun demikian, tentu kenikmatan tersebut tidaklah elok jika hanya diperjuangkan bagi seorang diri. kita pun perlu menengok dan berempati, bagaimana kondisi keluarga, masyarakat bahkan bangsa kita? Hari, minggu, bulan bahkan tahun telah berganti. Apa yang telah berlaku, bukan hanya pada diri tapi juga negeri yang kita cintai? Evaluasi atau refleksi, perlu sesekali kita detaili. 2017 telah berlalu, 2018 baru saja bertamu. Sepanjang tahun lalu, apa yang telah berlaku? Di tahun baru ini pula, apa yang bisa kita rancang untuk masa depan bangsa yang lebih maju berperadaban?

2017 Berlalu, Masalah Justru Berpadu

            Berkerut keriput rasanya dahi ketika harus memikirkan masalah. Banyak, ya?! Tapi inilah fitrahnya kehidupan. Setiap yang hidup, pasti akan bertemu dengan masalah. Jadi, mari belajar akrab dengan masalah. Jangan cuek, apalagi sampai melarikan diri. bukan pula, mengendap dan larut dengan permasalahan yang mendera, ya! Setiap masalah pasti ada solusinya. Maka, akrablah dengan masalah yang ada agar kita dapatkan solusi jitu dari permasalahan yang sedang berlaku. Ingat ya, solusi jitu! Bukan solusi abal-abal semisal ”daging mahal, ayo makan keong!” atau ”HIV/AIDS meningkat, mari pakai kondom!”. Hadeh, parah!

            Setelah persekusi yang berujung kriminalisasi pada ajaran, syariat, dan para penyeru Islam di sepanjang akhir tahu 2017. Kini di awal tahun episode berlanjut lagi. Kriminalisasi ulama kembali terjadi. Ustad akhir zaman, ditersangkakan dengan tuduhan yang lagi-lagi ambigu untuk diterjemahkan. Ulama yang mukhlis menyampaikan risalah Islam, mengingatkan umat untuk bersiap dengan datangnya fitnah akhir zaman serta menyampaikan kabar gembira tentang kembalinya kekhilafahan ‘ala min hajinubuah, mengajak umat untuk bertauhid dengan menghamba hanya pada Allah Swt., justru di cap provokator dan menyinggung SARA. Semua jajaran sigap untuk memproses. Tidak pakai lama, bahkan kalau bisa langsung dipenjara. Ajaib!

            Bila diibaratkan, hati umat islam ini masih bernanah-nanah dengan kedzaliman rezim di tahun lalu. Bukan tidak terlihat, bagaimana para ulama diperlakukan secara anarkis oleh gerombolan preman bertitel. Ada yang dikejar dengan parang sampai di tangga pesawat. Ada yang digerudug di tempat acara, padahal jamaah sudah tumpah ruah menunggu petuah dari lisan sang guru. Ada pula yang diintimidasi, bahkan juga diserbu sampai ke lobi hotel lengkap dengan senjata tajam serta kata serapah yang tidak pantas dilontarkan. Kini, bertambah lagi guru umat yang dikriminalisasi, padahal ia hanya menyampaikan apa yang ada dalam ajaran Islam. Umat melihat itu semua. Lantas kemana perginya penguasa? Jangan dulu bicara pembelaan, komentarpun nyaris tak terdengar.

            Kecemasan hati juga menderu tatkala menatap masa depan generasi bangsa yang jelas terancam  oleh arus liberalisasi. Elgibiti, perzinaan, narkoba, bahkan bunuh membunuh sudah biasa di kalangan generasi muda.

           Nasib keluarga pun tidak kalah tragis, kasus perceraian terus meningkat setiap tahunnya. Kemiskinan juga sama, turun temurun menjadi warisan bagi anak dan cucu. Di sisi lain, para koruptor berdasi semakin bertambah saja jumlahnya. Bahkan tidak lagi di bawah meja, di atas mejapun sudah biasa. Tertangkap KPK bukan soalan, meski telah berompi orange toh masih bisa melambai ke kamera dengan tawa menawan. Tidak perlu heran, karena inilah konsekuensi logis dari liberalisme. Bebas, bablas, amblas!

Tiada Putus Harapan Bagi Orang Beriman

            Tiada putus harapan bagi orang yang beriman. Karena tidaklah sia-sia segala apa yang ada pada dirinya. Jika ia diberi kenikmatan, ia bersyukur. Bilapun musibah yang menyambangi, maka ia bersabar. Selalu ada hikmah dalam setiap kejadian. Begitupun dengan apa yang tengah berlaku pada bangsa ini, pasti akan berlalu. Tidak ada yang kekal dalam kehidupan dunia. Nyawa, jabatan, kolega, harta bahkan kekuasaan, semua ada masanya. Sesudah hujan badai, akan ada pelangi nan elok. Semakin pekat malam, pertanda fajar segera datang. Yakin, perubahan adalah sebuah keniscayaan.

            Ketika tahun baru telah terbit, harapan barupun turut terbesit. Berharap masalah yang lalu usai, di tahun ini pula hanya kebaikan yang tersisa. Namun masalah agaknya enggan beranjak, ingin bercengkrama lebih lama dalam episode hidup kita. Ia tak jua berlalu, justru semakin berpadu. Tiada kata menyerah apalagi lari dari masalah. Sikap seorang hamba yang bertakwa adalah kesatria. Terus berjuang, pudarkan gulita kedzaliman dengan pendar cahaya Islam.

            Memang demikian, solusi hakiki atas berbagai soalan hidup sebenarnya telah lengkap dalam kitab suci alquran dan as sunnah. Kembali pada syariah secara kaffah itulah kuncinya. Secara syar’i, history, bahkan teori sekalipun telah terbukti kesuksesannya dalam mengampu peradaban dunia. Rahmat yang tercurah bukan hanya untuk manusia, tapi juga alam semesta. Tiada perlu takut, cemas, bahkan khawatir. Karena semua mendapat hak yang sama. Anti diskriminasi dan propaganda. Damai, adem, sejahtera dan aman sentosa. Tidak ada salahnya untuk sekali lagi kita coba. Mengutip perkataan Tuan guru Ustad Abdul Somad, ”NKRI bersyariah, bukan ancaman!”. Sungguh, tiada putus harapan bagi orang yang beriman. (rf/voa-islam.com)

Ilustrasi: Google


latestnews

View Full Version