View Full Version
Rabu, 24 Jan 2018

Aku Bangga Jadi Muslim

Sahabat VOA-Islam...

Hai sobat muda,, “udah mau tahun baru Masehi nih.. udah berapa % persiapan menyambut tahun barunya? Mau kemana aja sama pacar kamu? Kamu udah pilih tempat perayaan malam tahun baru nanti? Udah beli baju baru belom buat malam tahun baru?” Hayo loh, hati2 kalo punya sahabat yang nanya-nanya kaya gini. Totalitas banget kayanya doi mengingatkan dalam hal-hal yang condong kepada kemaksiatan. Lho koq maksiat sih? Iya donk.. yuk simak!

Udah jadi hal yang lumrah di setiap tahunnya Indonesia bahkan dunia merayakan pergantian tahun Masehi dengan sangat meriah dan penuh persiapan dari berbagai kalangan. Berbagai aktifitas yang dilakukan untuk menyambut datangnya awal tahun, kaya ngebunyiin petasan yang berisik mengganggu, bunyi terompet yang bikin telinga sakit, hiruk pikuk konser musik di berbagai tempat yang ga jarang memakan koban jiwa, entah itu keinjek ataupun terjadi baku hantam dll.

Dan juga aktifitas yang ga pernah luput dari itu semua so pastilah  gaul bablas, sekedar kongkow bareng temen2 bikin party, nge-beer, nge-drugs, juga dijadiian ajang mesra2an, obral janji, obral keperawanan (Innalillahi..) Sebagian mereka juga mengganggap ga masalah ngehambur-hamburin uang toh cuma satu hari doank (wew).

Sebenernya sob, banyak sekali kerugian yang kita dapatkan dalam perayaan tahun baru (bagi yang ngerayain maupun yang engga ngerayain). Kerugian dari sisi waktu, finansial, kerusakan moral, tersebarnya penyakit, hiv-aids, dll, lingkungan - jadi kotor dan kumuh seketika karna banyaknya para pengunjung yang membuang sampah makanan sekena mereka-, Polusi yang terjadi pada udara dengan pembakaran kembang api, termasuk dari knalpot kendaraan bermotor yang menghasilkan karbon dioksida sisa pembakaran bisa menyumbang pemanasan global di tengah-tengah slogan “go green” dan “stop global warming”., juga mengganggu ketenangan orang-orang yang mau istirahat. Dan kerugian yang udah pasti qta peroleh adalah menumpuknya dosa.

“Ah kamu, su’udzan aja.. masa ga ada untung-untungnya sama sekali ngerayain malam tahun baru?” Tentu ada. Siapa yang dintungkan? Pengusahalah tentunya. Produksi petasan bahkan kondom meningkat drastis. Dan ternyataa generasi kita jadi penyumbang kekayaan mereka? Innalillahi.. Dibalik gemerlapnya malam tahun baru, banyak kemaksiatan yang merajalela. Mereka dapet untung kita yang buntung. Kerusakan iman dan generasi yang udah siap nunggu kita di depan mata. Nastaghfirullah..

 

Kenali diri

Menjadi diri sendiri, begitu yang sering keluar dari mulut remaja sebagai pembenaran dari setiap tindakan yang menyimpang dari remaja. Namun ternyata sob, kondisi seperti ini menunjukkan indikasi remaja yang kehilangan jati diri.  Hal ini sering terjadi pada remaja seperti kita, lho!

Sebagai remaja muslim zaman now, kamu masih tetap shalat kan sob.. Alhamdulillah..

Di setiap shalat kita sering bacain penggalan ayat ini

   لاَشَرِيْكَلَهُوَبِذَلِكَأُمِرْتُوَأَنَامِنَالْمُسْلِمِيْنَ .إِنَّصَلاتِيوَنُسُكِيوَمَحْيَايَوَمَمَاتِيلِلَّهِرَبِّالْعَالَمِينَ

“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Sekali-kali tidaklah aku menyekutukanNya  dan dengan demikian aku ditugas kan, dan aku adalah dari golongan orang-orang Muslim (Islam).”

Kalo kamu tau arti ayat diatas atau udah baca terjemahannya, kira-kira  menurut kamu aktifitas ngerayain tahun baru itu sesuai ga dengan ayat tersebut? Jauh banget kan ya? Kaya yang munafik gitu ga sih jatohnya? Di satu sisi kita muji-muji Allah, ceritanya caper gituu pengen disayang Allah, tapi disisi lain kita bermaksiat kepada Allah. Na’udzubillah..

Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiallahu anhuma diaberkata: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:


لَيْسَمِنَّامَنْتَشَبَّهَبِغَيْرِنَا


“Bukan termasuk golongan kami orang yang menyerupai kaum selain kami.” (HR. At-Tirmizi no. 2695)

Duh bayangin, kita ga bakal dianggap golongan nabi Muhammad kalo kita ngikutin selain ajaran beliau saw. Kalo udah dibilang “bukan golongan kami” kira-kira ada harapan ga buat kita masuk surga? Kagak!! Jadi jangan main-main ya sob..

Di hadits lain juga disebutkan, dari Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma dia berkata: Rasulullah saw. bersabda:

مَنْتَشَبَّهَبِقَوْمٍفَهُوَمِنْهُمْ


“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk darinya”. (HR. Abu Daud no. 4031 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah: 1/676)

Serem banget ya.. Udahlah kita ga dianggap golongan rasulullah lagi, malah digolongkan ke kaum yang kita ikutin which is kafir. Tobat dah!!

Jadi sobat-sobat yang baik hati, sebagai sahabat yang sayang sama kamu, aku Cuma mau ingetin kamu supaya ga menjurus ke hal-hal yang menyeret kamu ke neraka. “Jadi apa yang harus aku lakukan?” Kamu harus nerapin IBP dikehidupan kamu sehari2 yaitu Ingat, Bangga  dan Peduli. First, kamu kudu selalu Ingat kalo kamu itu adalah seorang muslim which is diciptakan untuk beribadah kepada Allah, so u have to do ta’at ke Allah dan setiap perbuatan kamu harus bersandar kepada hukumNya hingga kelak akan diganjar pahala yang menghantarkan ke surgaNya .(happy kan?).

The second one is Bangga, karena Islam adalah sebaik-baik agama yang diturunkan Allah melalui Muhammad saw. Dan ada kemungkinan kita digolongkan kepada khayru ummah kalo istiqamah pada kebenaran ditengah arus globalisasi sekarang ini. And the last one is Peduli, sikap peduli itu muncul dari rasa sayang, sayang kepada diri sendiri dengan membentengi dari kemaksiatan, dan sayang terhadap orang lain mengajak mereka kepada kebaikan.

Tidak dipungkiri remaja zaman now memiliki tingkat kepercayaan diri yang cukup tinggi bahkan sangat suka show off, namun ketidak-banggaan mereka terhadap keislamannya membuat mereka dengan mudah terbawa arus globalisasi yang sesungguhnya akan menyengsarakan remaja di kemudian hari.

Sifat bangga menjadi seorang muslim itu sangat dibutuhkan bagi remaja, karena itu nantinya akan mempengaruhi kepedean kita berbuat sesuai aturan Allah ditengah era globalisasi ini.

Ga kan ada lagi rasa galau kalo ada yang ngatain“ah,kamu ga tolerasi” hanya gara2 ga ngerayain tahun baru dan ngucapin selamat natal. Namun dengan bangganya kamu balik bilang “Aku muslim. Lagipula toleransi itu membiarkan, bukan merayakan”.

Lagipula kamu ga harus mati kutu jadwal libur tahun baru nganggur atau mau digunain buat apa.. kamu bisa banget manfaatin waktu libur kamu untuk birrul walidayn (berbuat baik kepada orang tua). Selama ini kamu sibuk sama tugas2 kamu, les, bimbel, dll, moment libur ini bisa kamu jadiin persembahan diri untuk mengantikan ibu kamu mengerjakan tugas rumah yang sering ia kerjakan setiap harinya, atau pijitin kepala atau tubuhnya yang sering pegel  karna pekerjaan yang ga ada abisnya (nangis pas nulis yang bagian iniL) karna meskipun ibu ga bilang, tapi kalo kamu lakukan  pasti ibu merasa bahagia. Bahagiakanlah ia selagia ia masih bersama kita..

Karna membuat orangtua bahagia itu perintah Allah lho sob, Allah berfirman:


وَقَضَىرَبُّكَأَلَّاتَعْبُدُواإِلَّاإِيَّاهُوَبِالْوَالِدَيْنِإِحْسَانًا

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan beribadah selain kepada-Nya dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. ” (QS. Al-Isra’: 23)

Bahkan jika orangtua kita non-muslim, Allah menyuruh kita tetap harus baik terhadap mereka. Allah  swtberfirman:


وَإِنجَاهَدَاكَعلىأَنتُشْرِكَبِيمَالَيْسَلَكَبِهِعِلْمٌفَلاَتُطِعْهُمَاوَصَاحِبْهُمَافِيالدنيامَعْرُوفاً

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman: 15)

Dengan membaca ayat tersebut kamu harusnya lebih bangga lagi donk jadi muslim karena Islamlah yang lebih dulu mengenalkan toleransi. Di QS. Luqman: 15 disebutkan apapun keyakinan orangtuamu, kamu tetap harus baik terhadap mereka tanpa mengikuti (perayaan atau apapun di luar Islam) mereka. See? Indah banget kan..

Banggalah menjadi Muslim, supaya menambah rasa syukur kita kepada Allah Ta’ala atas nikmat Islam ini, tetap istiqomah di atas jalan-Nya, dan meninggalkan jalan-jalan selainnya.

Pupuklah rasa bangga itu dengan mengkaji Islam, pahami, amalkan dan moga bisa disebarkan.. Kita seru orang2 disekiling kita kepada kebaikan (Islam) agar mereka juga ikut bangga menjadi seorang muslim. Meminjam kalimat ust. O. solihin Islam, emang beda dengan agama lain dan kita nggak usah nekat menyamakannya. Jadi, kalo mau toleransi dengan pemeluk agama lain, kita harus saling membiarkan. Jangan melibatkan diri di dalamnya. Jalan masing-masing.  Jadi ngaji yuuuk…! [syahid/voa-islam.com]

Kiriman Ummu Yaseer, Bandung


latestnews

View Full Version