View Full Version
Senin, 14 May 2018

The Twin Heart 10: Sahabat Cilik Pembuka Pandora

Assalamu'alaikum semua,

Indonesia terguncang, terlebih Surabaya. Ada teror bom susul-menyusul. Dikaitkan dengan cerita bersambung antara Dave dan Sharon, dakwah memang seharusnya tanpa kekerasan. 

Bagaimanapun, PR umat ini masih banyak. Permainan stigma, disudutkan dan menjadi kambing hitam, ketakberdayaan saat dilecehkan, kemunduran di segala lapis kehidupan, dan sebagainya. 

Saat kebenaran susah disuarakan, jeratan UU ini dan itu sudah disiapkan untuk pembungkaman, maka waktunyalah sastra yang berbicara. Semoga tulisan sederhana ini bisa sedikit membuka pemahaman akan situasi yang sedang kita hadapi. Wallahu alam.

Anyway, selamat membaca ya :)

Salam

-------------

The Twin Heart - Bagian 10

Tentang Kamu, Sahabat Cilik Pembuka Pandora

Oleh: Ria Fariana

Dave memberanikan diri untuk menawarkan wawancara pada Umar dan ibunya. Ternyata mereka menyanggupi dan mempersilahkan Dave untuk menemui ayah Umar. Sore itu, ketika Umar dijemput ibunya setelah asyik main ayunan di taman kota, Dave berkenalan juga dengan ayahnya. Seorang kandidat doktor yang sedang menyelesaikan S3-nya di Amerika.

“Dunia tak bisa menutup mata bahwa perubahan harus terjadi. Kapitalisme dan komunisme terbukti tak bisa menyelesaikan permasalahan manusia,” Mr. Abas, ayah Umar memulai pembicaraan wawancara itu.

“Apakah perubahan itu harus dengan kekerasan?”

“Sebaliknya. Perubahan itu harus ditempuh dengan TANPA kekerasan. Karena itulah yang diajarkan oleh Islam. Percuma, meraih cita-cita dengan kekerasan sementara masyarakat tidak paham mengapa harus ada perubahan. Upaya memahamkan masyarakat inilah yang jadi sasaran. Jadi meskipun parlemen Amerika marak oleh mereka yang mengatasnamakan wakil dari kaum muslimin, tapi kami memilih untuk berjuang extra parlemen. Kami tidak akan terpedaya ikut pola main mereka di system sekuler.”

“Tapi tetap ada juga kan kaum muslimin yang mengupayakan tegaknya system Islam, Khilafah dengan cara kekerasan. Karena itulah perang melawan terorisme digencarkan oleh dunia.”

“Terorisme kan hanya permainan stigma. Genderang perang ini kan dengan jelas ditabuh ketika pengeboman WTC 14 tahun lalu. Toh, tak ada bukti yang menunjukkan bahwa pelaku di baliknya adalah muslim. Sebaliknya, sangat aneh ketika Amerika dengan teknologi pengamanan canggihnya sedemikian rupa bisa kebobolan. Dan yang lebih aneh lagi, WTC adalah pusat aktifitas mayoritas keturunan Yahudi. Tapi mengapa tak ada satu pun dari mereka ada di dalam gedung itu pada tanggal tersebut? Dan banyak sekali fakta-fakta tak terbantah seputar 11 September yang ganjil itu tapi sengaja dibungkam oleh pemerintah AS. Media harusnya adil dalam hal ini!”

“Dunia sudah terbuka matanya bahwa semua kejadian tragis dan keji akibat bom, tidaklah lepas dari konspirasi. Yang dijadikan umpan memang umat Islam, paling tidak nama-nama Arab yang notabene Islam dijadikan kambing hitam. Tapi siapa yang melempar umpan ini? Rekayasa global tak bisa dipungkiri ada di balik semua peristiwa ini.

Dave merekam semua wawancara itu dengan teliti.

“Satu lagi, anda tidak takut dengan semua pernyataan dalam wawancara ini untuk diekspos dalam majalah kampus?”

“Kenapa harus takut? Topik ini sudah menjadi wacana umum. Mau tidak mau dunia harus mengakui bahwa saatnyalah menoleh pada Islam sebagai solusi. Naif sekali permasalahan dunia yang sedemikian kompleks diserahkan pada akal manusia yang serba terbatas.”

Dua minggu berikutnya, majalah sekolah yang berisi laporan esklusif tentang perkembangan Islam di Asia Tenggara menjadi berita hangat. Dan kondisi lebih heboh lagi ketika membaca rubrik wawancara dengan kandidat doktor dari Indonesia yang menjadi mahasiswa di Universitas terkemuka Amerika.

Ada juga rubrik penjabaran fakta bahwa di balik islam sebagai ideology, ternyata masih banyak muslim yang tak mau tahu dengan perkembangan agamanya. Mereka ini, mahasiswa-mahasiswi muslim yang mengisi kolom opini. Bahkan ada yang tak peduli sama sekali dengan keislamannya. Mereka sama sekali tak tahu apa itu islam sebagai ideology, istilah syari’ah dan khilafah apalagi. Kewajiban sholat lima waktu pun dengan terang-terangan mereka menyatakan tak melakukannya lagi. Bahkan mereka ikut mengajukan sekularisme sebagai solusi untuk dianut individu-individu muslim sekaligus dijadikan system di negeri-negeri Islam.

Di pihak lain, sejumlah mahasiswa dan mahasiswi muslim yang merupakan  aktifis dakwah dari banyak pergerakan, juga diberi kolom rubrik opini yang sama. Meski mereka berbeda wadah tapi satu tujuan, berusaha mengembalikan kehidupan Islam. Suasana ukhuwah mereka begitu kental. Kegiatan mereka juga cukup marak. Mulai dari penyebaran bulletin yang berisi ide-ide Islam dan penyikapan masalah yang sedang menimpa Amerika dan dunia, seminar-seminar publik dengan mendatangkan para pakar di bidangnya, menawarkan solusi Islam yang jauh lebih mujarab daripada kapitalisme yang sekarat, mengontak tokoh-tokoh kampus seperti dosen, dekan, dan para rektor, orasi di depan fakultas masing-masing, hingga pendekatan personal yang dilakukan dengan cukup terorganisir cukup menyita beberapa halaman majalah kampus edisi spesial itu.

            Meski prediksi berdirinya khilafah tahun 2020 yang dilansir NIC sudah beredar sejak tahun 2004, tapi reportase majalah kampus ini seperti bara yang menyengat kesadaran warga kampus khususnya dan Amerika umumnya. Reaksi bermunculan. Ayah Umar, Mr. Abas menjadi laris diundang seminar-seminar membahas tentang semakin dekatnya waktu prediksi itu. Di sisi lain, kelompok mahasiswa non muslim beraliran radikal melakukan intimidasi terhadap teman-temannya yang muslim. Ada katakutan bahwa temannya itu adalah salah satu yang akan menyebarkan ide khilafah ke tengah masyarakat Amerika.

            Tanggapan pun beragam. Ketika ada yang antipati dengan ide khilafah, banyak juga yang penasaran dan semakin mencari tahu apa dan bagaimananya ide ini. Bahkan lagu-lagu SOA (Soldiers of Allah) yang sudah ada sejak tahun 2002 dan sempat vakum karena incaran CIA terhadap isinya yang menghentak, kembali marak.

            Sosok Dave dan Sharon juga tak lepas dari sorotan. Kedua orang inilah pencetus tema kontroversi untuk majalah kampus. Mereka berdua sempat dipanggil oleh dekan berkaitan dengan kasus ini. Tapi sorotan publik jauh lebih kuat sehingga pihak kampus tak bisa apa-apa. Bahkan surat kabar sekaliber Herald Tribune dan Washington Post mulai melirik kedua sosok ini untuk menjadi reporternya. Meski tak bisa dipungkiri banyak yang mencurigai kedua sosok ini sebagai bagian dari mereka yang berusaha menggulirkan ide khilafah untuk eksist.

            Reaksi masyarakat, bukan hanya terbatas pada kampus, membuat Dave sempat shock. Ia yang tak menyukai publisitas merasa terganggu privacinya dengan semua ketenaran mendadak ini. Ia pun memutuskan untuk mengambil cuti kuliah dan pergi ke sebuah daerah yang sepi, sendiri.

            Tapi ketenangan itu tak berlangsung lama.

“Dave, cepat pulang. Umar diculik!” Sharon meneleponnya.

Tanpa menunggu, Dave segera membatalkan liburannya dan kembali ke kota.

Rumah Umar yang ditujunya. Rumah itu tak pernah sepi dari orang-orang yang ingin menimba ilmu dari Mr. Abas, seperti biasanya. Kebetulan sosok yang akhir-akhir ini semakin sibuk itu, ada di rumah. Ia masih tetap ramah meski shock itu tak bisa disembunyikan dari wajahnya.

“Apa yang terjadi?”

“Umar bermain di taman seperti biasanya. Ketika ibunya mau menjemput, ia tak ada di sana. Ini hal yang tak biasa karena Umar selalu pamit kalau mau pergi ke mana pun. Dan ia tak pernah mengingkari janji. Ia berjanji pada umminya untuk menunggu di ayunan taman bermain itu.”

“Lalu?”

“Kami langsung tahu ada yang tak beres dan segera lapor polisi. Tapi mereka tidak bisa memproses sebelum 1 x 24 jam. Dan itu sudah sangat terlambat. Penculik Umar punya banyak waktu untuk melarikan diri.”

Dave terdiam. Ada rasa bersalah merambati hatinya. Andai tak ada reportase wawancara itu, pasti Umar, sahabat kecilnya itu baik-baik saja. Andai ia tak mencetuskan ide untuk menguak prediksi NIC, pasti semua ini tak akan terjadi. Dave tahu, rasa bersalah ini tak kan hilang sampai ia menemukan sahabat kecilnya itu dalam kondisi hidup. Rahang Dave gemeletuk, masalah hilangnya Umar menjadi masalahnya juga.

“Jangan khawatir, saya akan mencari Umar sampai ketemu. Bahkan bila pun nyawa saya taruhannya, saya akan berikan,” Dave menggenggam tangan ayah Umar erat-erat.

“Sampaikan pada Ummu Umar, saya akan menemukan putranya.”

            Dave segera pulang ke apartemen. Tekadnya kuat untuk menemukan Umar. Meski di kepalanya sama sekali masih belum terbayang bagaimana caranya menemukan sahabat kecilnya itu. Dinyalakannya komputer yang secara otomatis terhubung ke internet. Langkah awal yang bisa dilakukannya untuk saat ini.

            Ditelusurinya satu demi satu website tentang penculikan anak. Modus operandinya, pelakunya, hingga organisasi-organisasi yang mungkin melakukannya. Tap! Kenapa worldhelp muncul di search engine internet? Organisasi yang begitu dikenalnya. Di sanalah ia dibesarkan. Sebagai yatim piatu, katanya. Dibacanya baris demi baris yang menghubungkan worldhelp dengan dugaan penculikan anak.

            Tsunami? Aceh? Jantung Dave berdetak dengan kencang, sangat kencang. Rasa penasarannya begitu kuat hingga sempat terlupakan maksud awal browsing tadi. Worldhelp seperti dikutip salah satu situs dinyatakan melarikan dengan illegal anak-anak Aceh korban tsunami dengan dalih memberi pertolongan. Dicetaknya beberapa artikel tentang wordhelp.

            Kembali difokuskannnya konsentrasinya pada penculikan anak. Beberapa kemungkinan itu muncul, tapi ia sama sekali tak tahu harus mulai melangkah mencari Umar di mana.

Sharon, aku mengundurkan diri dari kepengurusan majalah kampus. Kuliahku pun kutunda dulu. Aku tak bisa hidup tenang sebelum Umar ditemukan.

Dikirimnya sms via internet itu untuk Sharon.

            Dikemasnya beberapa buah bajunya dan keperluan untuk pergi jauh. Dipandangnya foto Umar dengan Umminya yang sempat diabadikannya dengan kamera digital di satu sore. Aku akan menemukanmu, sahabat kecilku, tekad Dave. Dan Ummi, maafkan aku yang pasti membuatmu bersedih karena terpisah dengan putramu yang cerdas, batin Dave kelu. Aku berjanji akan menemukannya, hidup-hidup. Lalu dimasukkannya foto itu ke dalam tas ranselnya. Setelah semua selesai, dikuncinya pintu apartemen setelah sebelumnya meninggalkan pesan untuk Mike bila sesekali ia mampir.

“Sharon!” Dave berseru kaget ketika berbalik didapatinya Sharon di sana.

“Aku ikut.”

Are you kidding? Ini bukan main-main.”

“Tak ada main-main untuk kasus penculikan Dave. Wawancara itu kita berdua yang mengerjakan dan menyuntingnya. Aku pun bertanggung jawab atas hilangnya Umar.”

“Sharon, kamu tak mengerti. Masalah ini…”

“Aku tahu Dave. Masalah ini bukan murni kriminal penculikan biasa yang nantinya minta tebusan,” Sharon memotong kalimat Dave.

“Bagaimana kamu bisa tahu?”

Tak segera menjawab, ada binar di mata Sharon. Antara kecerdasan, keriangan dan keinginan menggoda Dave lengkap ada di sana. Dan Dave, sekali lagi, harus meredakan debur jantungnya yang mulai tak beraturan lagi. 

#Bersambung Senin yaaa...tetaplah setia karena saya juga setia nyambungin cerita demi kamu semua ^_^

Link sebelumnya: http://www.voa-islam.com/read/smart-teen/2018/05/10/57825/the-twin-heart-9-tentang-kamu-penyulut-rindu/#sthash.UoLtOacD.dpbs

Ilustrasi: Google

Share this post..

latestnews

View Full Version