View Full Version
Rabu, 04 Jul 2018

Berawal dari Tik Tok

Oleh:

Febrina Selvyani*

TAHUN 2018, saat ini kita berada pada era modernisasi.  Dimana aktivitas kita tak lepas dari teknologi. Ibaratnya, semakin berkembang teknologi maka semakin dinamis lah hidup manusia.  Sulit rasanya memisahkan teknologi dengan penggunanya. Teknologi sudah mendarah daging dalam masyarakat. Kadang ia membawa kebaikan atau keburukan.  Dengan canggihnya teknologi aktivitas sehari hari makin mudah untuk dilakukan. Hal inilah yang membuat manusia semakin konsumtif dan berpikir praktis.

Bila kita mendengar kata “teknologi” hal pertama yang terpikir adalah internet.  Sebab saat ini semua orang dapat mengakses apapun lewat internet. Dari hal-hal berfaedah sampai unfaedah beredar luas di internet. Lewat sinilah, muncul orang-orang yang membuat aplikasi dengan berbagai macam tujuan.  Salah satunya yang lagi trend yaitu aplikasi “Tik Tok”. Dengan aplikasi ini semua orang bebas mengekspresikan diri mereka ke publik. Dari orang dewasa bahkan bocah tk kena demam tiktok.

Sebelum aplikasi ini muncul, sudah beredar aplikasi lain yang serupa.  Banyak orang berlomba lomba membuat video-video diri mereka dengan gaya yang berbeda dan cukup aneh.  Ada yang pamer kecantikan,pamer harta kekayaan,bahkan ada yang sampai pamer badan. Nauzubillah.

Benar, karena rata-rata pengguna aplikasi ini adalah remaja dan di dominasi oleh muslimah. Disinilah sekulerisme dan hedonisme mengambil peranan.  Dua paham ini sukses membuat generasi muda sibuk membuat video tiktok ketimbang memikirkan masa depan mereka. Demi banyaknya like yang mereka dapat dari video yang mereka upload.  Demi followers dan ketenaran mereka rela membuang rasa malunya. Dengan kerudung yang mereka pakai, mereka bergoyang suka ria.

Mengekspos diri mereka ke masyarakat, katanya “kalau tak punya Tik Tok tak gaul”.  Katanya “ kalau belum bikin video tiktok cupu”. Dan berbagai komentar pedas lainnya.  Sekulerisme dan hedonisme merajarela di dunia remaja, hingga menghasilkan generasi minim akhlak mulia.  Karena dalam pikiran mereka sebuah pujian yang dilontarkan netizen pada mereka lebih penting dibandingkan perintah Allah SWT.

Semuanya membuktikan bahwa remaja saat ini sedang rusak moral.  Sekulerisme dan hedonisme mencekram pemikiran remaja dengan kesenangan semu.  Mereka menawarkan populeritas serta eksistensi yang tinggi kepada remaja. Tentunya remaja yang lemah iman mau saja jadi budak sekulerisme dan hedonisme ini.  Mereka begitu cinta akan dunianya sampai lupa akhiratnya. Mengapa saya katakan begini, karena remaja yang takut Allah SWT tau benar mana yg haq dan yang bathil.

Remaja adalah tonggak kebangkitan dunia, bila remaja hanya asik dengan masa mudanya tanpa memadang masa tuanya. Maka bersiaplah, dunia akan berjalan mundur dalam kebobrokan. Itulah yang diinginkan dua paham kesesatan ini. Dimana para remaja jauh dari agamanya, bahkan sampai melupakan hakikat dari tujuan hidup mereka di dunia. Padahal dunia bukanlah akhir dari kehidupan, masih ada perjalanan panjang di akhirat kelak yang menanti sebelum menuju surga atau neraka Nya.

Sesungguhnya rasa malu adalah bagian dari iman dan akhlak islam. Rasulullah SAW bersabda : “ Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak dan akhlak islam adalah malu” (HR. Ibnu Majah no. 4182,lihat kitab as-Shohihah no.940 karya al-Albani)

Maka bila seseorang telah kehilangan rasa malunya, dan celakalah ia, karena Allah SWT membenci orang-orang yang menghinakan dirinya.  Allah SWT juga berfirman di dalam Al Qur’an :

“Para penghuni neraka menyeru kepada para penghuni surga, ‘Tuangkanlah (sedikit) air kepada kami atau rezeki apa saja yang telah dikaruniakan Allah kepadamu’.  Mereka menjawab ‘Sungguh Allah telah mengharamkan keduanya bagi orang-orang kafir,’. (yaitu) orang-orang yang menjadikan agamanya sebagai permainan dan senda gurau, dan mereka telah tertipu dengan kehidupan dunia.  Maka, pada hari ini (kiamat), Kami melupakan mereka sebagimana mereka dahulu melupakan peertemuan hari ini, dan karena mereka mengingkari ayat-ayat Kami “ (TQS. Al-A’raf : 50-51)

Dalam Islam, kedudukan seorang wanita amat dimuliakan. Ketika dulu semua suku,bangsa,ras bahkan agama menganggap wanita sebagai makhluk hina,atau sekedar pemuas nafsu laki-laki.  Ketika wanita diperlakukan dengan tak manusiawi, islam datang sebagai agama sekaligus pandangan hidup yang mengangkat harkat dan martabat seorang wanita. Islam menyeru para wanita untuk menutup auratnya,menjaga kehormatannya,menundukan pandanganya, dan lain sebagainya merupakan bentuk penjagaan islam kepada wanita.  Islam rahmatan lil a’lamin.

Menyikapi antusias para remaja menggunakan aplikasi dengan sesuka hati mereka.  Hendaklah para orang tua, ikut andil bagian. Sebab remaja yang rentan terpengaruh sekulerisme dan hedonisme kebanyakan karena kurang permbekalan ilmu agama dari kedua orang tuanya.  Pepatah berakata “anak adalah cerminan orang tuanya”, bila orang tua minim ilmu agama,maka jelas si anak pun mudah diombang ambingkan ganasnya sekulerisme dan hedonisme.

“Wahai orang-orang yang beriman!. Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api nekara yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar,dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadapa apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (TQS. At-Tahrim : 6)

Orang tua sebaiknya memantau pergaulan anak,dan senantiasa mengajarkan kepada anak akan ilmu-ilmu agama. Juga orang tua mencontohkan kepada anak akhlak mulia,sehingga rasa malu dalam diri seorang anak bisa tumbuh dengan baik.  Karena malu sebagian dari pada iman. Malu berbuat maksiat kepada Allah SWT dan malu bila tak berbuat kebaikan.

Tak hanya peran orang tua, negara pun juga harus ambil bagian.  Negara dan pemerintahan sebagai pemimpin umat seharusnya dapat menyaring aplikasi-aplikasi atau sejenisnya yangs sekiranya dapat membobrokan generasi.  Kembali lagi hanya dengan islam lah dan hanya islam lah satu-satunya agama sekaligus pandangan hidup yang mengatur seluruh aktivitas manusia walau sekecil apapun.

Kita sebagai remaja, juga harus selektif dan bijak menggunakan teknologi yang telah disediakan.  Jangan karena demi ketenaran sesat, dan tumpukan pujian di sosmed, menjadikan kita jauh dari Allah SWT,Sang Pencipta.  Ditambah dengan selogan “viral tak pandang rupa” bisa memutus urat malu kita. Para muslim dan muslimah sepantasnya memiliki akhlak baik lagi mulia, sebagaimana yang telah Rasulullah SAW dan para sabahat contohkan.

Kita sebagai remaja terutama para muslimah hendaklah menjaga perilaku kita dan juga kehormatan agama Islam.  Muslimah yang baik senantiasa menujukan rasa malunya dalam bertindak bukan mengekspos dirinya ke ruang publik dengan goyangan yang janggal.  Memang jika popular dan eksistensi telah diraih, semua kebahagian dunia dan isinya mengikuti. Namun, ada hal yang lebih penting dari pada itu ialah bekal hidup dan mati.

Bukan aplikasi yang salah tetapi niat kita yang harus dibenahi.  Kreatif boleh, lebih berharga lagi jika kreatif di jalan Allah SWT.  Jika kita bisa sibuk membuat video tiktok yang tak bermanfaat, pastilah kita bisa sibuk ngeshare video dakwah, toh lebih bermanfaat.  Daripada lelah pencintraan di hadapan manusia, lebih baik viral di hadapan Allah SWT. Caranya? Yuk Ngaji!. Dengan menggali ilmu ilmu islam merupakan langkah awal kita menuju kebangkitan hakiki.  Allahuakbar! *Penulis Pelajar SMAN 4 Banjarbaru-Kalimantan Selatan

Share this post..

latestnews

View Full Version