View Full Version
Senin, 09 Jul 2018

Santri Pristac Attaqwa Belajar Membuat Sukake

DEPOK (voa-islam.com), Kreativitas yang terlatih sejak dini, termasuk melalui berbagai ajang dan kegiatan kewirausahaan, menjadi modal utama produktivitas dan kemandirian anak kala ia dewasa.

Selain mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) secara formal, para peserta didik harus mulai dikenali peluang wirausaha yang dapat menunjang kebutuhan gizi dan protein masyarakat Indonesia.

Salah satu ajang wirausaha yang memberi kesempatan pada anak untuk berkreasi dan berani membuat terobosan adalah pembuatan susu kacang kedelai (sukake) dan tahu.

Kedelai dianggap sebagai protein lengkap karena adanya jumlah asam amino esensia. Selain itu, khasiat dari kacang kedelai adalah sebagai antioksidan, mengurangi resiko penyakit jantung, mencegah kanker, mencegah osteoporosis, dan mengatasi gejala menopause.

Santri PRISTAC (Pesantren for the Study of Islamic Thought and Civilization) At-Taqwa Depok, Program Studi Kewirausahaan sejak Ahad (8/7) pagi bersiap mengikuti proses pengolahan kacang kedelai. Antusiasme dan rasa ingin tahu mereka terlihat dari kesigapan menyiapkan peralatan dan menyimak paparan yang diberikan oleh instruktur.

Dalam penjelasannya, instruktur memperkenalkan mulai dari cara memilih kedelai yang bagus, proses perendaman, penyaringan, pembuatan dengan proses manual ataupun mesin, memasak dengan suhu api normal, penyaringan, sampai kepada pengemasan dalam gelas cup.

"Pembuatan susu kedelai, tahu, tauge, oncom, saos, dan tepung memiliki proses yang hampir sama. Yang membedakan adalah ketelitian dan kesabaran adik-adik dalam membuat olahan kacang kedelai. Sehingga, mendapatkan hasil sempurna dan tekstur yang baik," ujar instruktur Najih Prawira kepada para santri.

Pengasuh PRISTAC Kusnadi mengatakan, teknik mudah membuat olahan dari kacang kedelai merupakan ilmu dan pengalaman baru bagi para santri. Selain itu, dengan mengenalkan alat manual dan mesin, hal tersebut akan memacu santri untuk produktif ketika salah satunya tak dapat berfungsi.

"Santri-santi kita banyak yang terkaget-kaget betapa mudahnya membuat sesuatu yang menurut anggapan mereka sulit. Saat diperkenalkan teknik pastry yang simpel juga begitu. Reaksinya sama. 'Kirain sulit'," kata Guru Kewirausahaan ini sembari berseloroh.

Salah satu santri asal Gunung Sindur, Bogor, Muhammad Fadlan mengaku senang dapat mengikuti kegiatan kewirausahaan. Ia berjanji ketika kembali ke tempat tinggalnya di Bogor akan mengajarkan masyarakat sekitar ilmu yang didapatkan di Pesantren.

"Alhamdulillah dapat ilmu baru, sebelumnya tidak tahu bagaimana cara membuatnya. Saya kira prosesnya sulit, ternyata mudah sekali," ujar dia.

 

Mengenal PRISTAC

PRISTAC adalah pendidikan non-formal setingkat SMA. Bentuk non-formal diambil agar para guru memiliki fleksibilitas yang tinggi dalam proses penanaman adab, akhlak, dan nilai-nilai kebaikan. Sebab, inti dari pendidikan –sebagaimana dirumuskan oleh Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas – adalah penanaman
nilai-nilai kebaikan atau keadilan (inculcation of justice)
dalam diri seorang manusia sebagai individu manusia.

UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, menyatakan bahwa jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, non-formal dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya. Pada Bab I Pasal 1 ayat (12), pendidikan non-formal didefinisikan sebagai jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang.

Disamping itu, PRISTAC juga mengambil sistem pendidikan pesantren, yang sudah tumbuh di Indonesia jauh sebelum sistem sekolah formal dikenalkan oleh penjajah. Dalam sistem pendidikan pesantren ditemukan beberapa unsur pokok, diantaranya: (a) adanya keteladanan kyai (mudir), (b) adanya pendalaman ulumuddin (tafaqquh fid-din), (c) adanya penanaman adab dan akhlak, (d) adanya penanaman jiwa dakwah, (e) adanya pengenalan pemikiran kontemporer (f), dan adanya
penanaman jiwa kemandirian. (bil/voa-islam)


latestnews

View Full Version