View Full Version
Jum'at, 31 Aug 2018

Hypebeast, Cerminan Kualitas Generasi Zaman Now?

Oleh: Rochmah Ambarwati

Beberapa waktu yang lalu, publilk dikejutkan dengan satu postingan video di media sosial. Video tersebut mempertontonkan tayangan sekelompok anak muda yang memamerkan gaya outfit atau dandanan mereka dari atas ke bawah. Yang mengejutkan adalah harga dari setiap item yang mereka pakai berada di atas harga normal.

Sebut saja untuk sebuah topi, harganya mencapai 500 ribu ke atas. Sepasang sepatu bisa mencapai dua juta ke atas. Atau kaos oblong yang biasa dibandrol puluhan ribu, dalam video tersebut, satu anak muda dapat membeli sebuah kaos dengan harga di atas 500 ribu. Ada juga jaket dan model hoodie (sweater dengan topi) yang dihargai sampai puluhan juta, bahkan belasan dan puluhan juta.

Sebagian publik dibuat tercengang dengan tingkah polah kelompok anak muda yang memamerkan dandanan mereka dengan total sampai puluhan juta. Mereka pun berdecak kagum akan nilai fantastis yang harus dikeluarkan untuk dapat tampil dengan kebanggaan tingkat tinggi ini.

Sebagian publik yang lain justru mencibir, mempertanyakan darimana uang yang didapatkan oleh mereka sampai mampu membeli barang di atas harga normal. Pastilah dari orang tua mereka dan mereka hanya tinggal minta sebagai uang saku.

Inilah gaya hypebeast yang saat ini sedang booming di kalangan anak muda sosialita. Tak hanya kalangan artis dan emak-emak yang masuk ke kelas sosialita saat ini, anak muda juga terserang demam sosialita ini.

Barang-barang yang mereka kenakan memang dari beberapa brand hype tertentu yang sengaja membandrol produk mereka dengan harga sangat tinggi. Mereka mengedepankan segi imej eksklusif karena barang tidak diproduksi secara massal namun terbatas. Sehingga hanya beberapa orang saja yang bisa memilikinya.

Inilah kemudian yang menjadikan sekelompok anak muda tersebut terobsesi untuk mendapatkan produk-produk tertentu dari brand hype seperti Supreme, Stussy, ASSC (Anti Social Social Club), Undefeated dan BAPE, walaupun harus merogoh kocek mereka begitu dalam.

Hypebeast Untuk Pamer dan Kebanggaan

Tujuan utama dari berhasilnya membeli dan mengenakan produk-produk hype adalah memiliki rasa kebanggan yang tinggi. Mereka pun kemudian bisa memamerkannya ke teman-teman sekeliling atau pun di media social.

Dengan bisa pamer, mereka seakan merasa menang atas teman-teman mereka. Inilah pembuktian diri mereka bahwa mereka adalah sekolompok anak muda berduit yang mampu membeli outfit (pakaian) dengan harga yang sangat mahal.

Hypebeast = Cermin Kualitas Generasi?

Dapat disimpulkan bahwa munculnya gaya atau trend hypebeast ini menunjukan bagaimana kualitas generasi muda kita yang cenderung hedonis. Mereka lebih memprioritaskan wujud dan presentasi penampilan dibandingkan dengan kualitas diri mereka sebagai seorang manusia. Yang lebih diutamakan adalah bagaimana mereka dapat berpenampilan sangat wah di hadapan orang lain dan kemudian mendapatkan applause dan apresiasi dari teman yang lain.

Inilah bukti bahwa generasi muda saat ini telah sangat jauh dari hakikat kebahagiaan yang sesungguhnya di dalam Islam, yaitu meraih ridho Allah. Seorang muslim akan bahagia ketika Allah ridho kepadanya saat melakukan amal atau perbuatan yang diridhoi Allah. Kebahagiaan itu bukan terletak pada penilaian manusia terhadap diri mereka.

Di sisi lain, kita dapat melihat bahwa para generasi muda dijadikan sebagai target pasar oleh perusahaan fashion dunia. Terlebih Indonesia sebagai negara dengan penduduk terbanyak ternyata memiliki kemampuan yang sangat tinggi untuk membeli segala bentuk produk buatan mereka walaupun dengan harga yang sangat tinggi.

Inilah wujud dari kapitalisme gaya baru yang dipaksa untuk diterapkan di negara kita tercinta. Semakin terlihat bagaimana negara kita tak bisa berkutik dari serangan cengkraman kapitalisme Barat dalam bentuk membanjirnya produk-produk luar negeri.

Sejatinya, negara haruslah mampu menjaga perekonomian dalam negerinya sendiri dengan lebih memprioritaskan perkembangan ekonomi dalam negeri. Bukan sebaliknya, malah memberikan peluang yang sebesar-besarnya untuk perusahaan asing berkembang dan mematikan ekonomi masyarakat kecil.

Terlebih negara pun lalai dalam menjaga kualitas anak bangsa sehingga mereka lebih mengutamakan masalah penampilan dan kemampuan untuk berbangga diri dengan penampilan tersebut. Padahal di dalam Islam, yang menentukan derajat paling tinggi seorang muslim adalah derajat keimanannya. Sebagaimana firman Allah yang ada di dalam Surat Al Hujurat ayat 13, yang artinya “Sesungguhnya yang paling mulia disisi Allah ialah yang paling taqwa diantara kalian“. Wallahu alam. (rf/voa-islam.com)

Ilustrasi: Google

Share this post..

latestnews

View Full Version