View Full Version
Rabu, 24 Oct 2018

Penjaga Panji Tauhid, Kitakah Satu Diantaranya?

Oleh: Cahya Naurizza

Merekalah para penjaga panji Rosulullah, yang dengan sepenuh jiwa raga, meski dengan kekuatan tersisa meski dengan tubuh yang tercabik dan darah tercecer menjaga agar panji Rosulullah, bendera simbol tauhid dan juga simbol kehormatan dan kekuatan kaum muslimin itu tak jatuh dan tetap dalam dekapan mereka.

Adalah Perang Uhud ketika keadaan berbalik melemahkan kaum muslimin, sebab pasukan pemanah melanggar perintah Rosulullah, mereka turun menuju ghanimah, mengira perang telah usai.

Namun kemudian, dari balik bukit, pasukan kafir Quraisy yang saat itu dipimpin Khalid bin Walid memukul pertahanan kaum muslimin, hingga kini mereka diserang dari depan dan belakang. Kaum muslimin terhenyak, keadaan kacau balau, pasukan kocar kacir, Rosulullah pun terdesak hingga tak ada pilihan lain kecuali terus naik ke arah bukit.

Dialah Mushab Bin Umair, sahabat yang bertugas memegang bendera Rosulullah, segera saat situasi genting itu ia acungkan bendera tinggi-tinggi seraya bertakbir sekeras-kerasnya dan menyerang musuh.

Tujuannya agar pasukan kafir Quraisy mendekatinya dan tak mendekati Rosulullah.

Datanglah Ibnu Qumaiah, ia menebas tangan kanan Mushab hingga putus. Sakit karena sabetan pedang dan darah yang mengucur tak ia hiraukan, ia pun memegang bendera dengan tangan kirinya, badannya membungkuk, sebisa mungkin melindungi bendera Rosulullah. Dan kembali musuh pun menebas tangan kirinya hingga putus.

Dan Mushab memeluk bendera dengan kedua pangkal lengannya, terhuyung dengan kekuatan tersisa, susah payah namun mulutmya tak putus meneriakkan, "Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, yang sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul."

Hingga kemudian sebilah tombak dihunjamkan ke tubuhnya hingga patah. Maka gugurlah ia, syahid dengan posisi wajah tertelungkup terendam genangan darahnya sendiri.

Pun, adalah perang Mu'tah dimana pasukan kaum muslimin hanya berjumlah 3 ribu orang melawan dua ratus ribu pasukan gabungan Romawi dan pasukan kafir Arab. Sebuah pertarungan yang tidak seimbang. Namun pasukan Islam tak gentar terutama setelah disulut semangatnya oleh Abdullah bin Rawahah.

Rosulullah berpesan, ada tiga orang yang diamanahi sebagai panglima pasukan sekaligus pemegang bendera Rosulullah tanda pindahnya tampuk kepemimpinan. Mereka adalah Zaid bin Haritsah, Ja'far bin Abu Thalib dan Abdullah bin Rawahah.

"Jika Zaid gugur maka Ja'far yang memegang tampuk kepemimpinan, jika Ja'far gugur maka Abdullah bin Rawahah yang menggantikannya..."

Maka majulah ketiganya melawan musuh, dengan gagah berani, menerjang lawan, hingga kemudian Zaid Bin Haritsah gugur karena sepucuk tombak menghantamnya dengan telak.

Sesuai pesan Rosulullah, bendera pun segera disambar oleh Ja'far bin Abu Thalib. Dengan berkuda ia pun kembali menyerang dengan semangat menyala bagai api yang mengamuk. Ketika tangan kanannya ditebas hingga putus, ia meraih bendera dengan tangan kirinya. Tak lama kemudian tangan kirinya pun putus karena sabetan pedang.

Dengan kekuatan tersisa Ja'far memeluk bendera dengan kedua pangkal lengannya hingga seorang Romawi memukulnya dengan keras dan menebas tubuh Ja'far hingga terbelah menjadu dua. Ia syahid seketika. Seorang sahabat bersaksi bahwa ia melihat tak kurang dari 50 bekas luka pada tubuh Ja'far.

Bendera pun segera diambil oleh Abdullah bin Rawahah, hatinya tak urung merasa jeri, ia sempat ragu, namun kemudian Allah menguatkan hatinya hingga ia pun gugur syahid.

Begitulah, ketika keimanan dan kecintaan kepada Allah dan RosulNya menghunjam dalam dan mengakar kuat dalam jiwa, maka bukan saja penghormatan yang merupakan upaya kecil, tetapi rela berkorban untuk membelanya hingga titik darah penghabisan.

Kita?

Kalaupun belum bisa berbuat banyak, berkorban layak, maka jangan sampai kita menista dan melecehkan, pun meski "hanya" sebuah bendera bertuliskan kalimat tauhid.

Karena sungguh, itu bukan sekadar "hanya" bendera, tapi kalimat yang tertulis di atasnyalah yang selayaknya patut dimuliakan dengan segenap izzah, penghormatan dan pengorbanan. Wallahu'alam. (rf/voa-islam.com)

Ilustrasi: Yahoo


latestnews

View Full Version