View Full Version
Jum'at, 08 Feb 2019

Piknik Milenial, Sekadar Jalan-jalan demi Gaya Hidup?

Oleh: Khamsiyatil Fajriyah

Pikniknya kurang jauh.

Istilah tersebut sering sekali diucapkan orang-orang zaman now untuk menyebut seseorang yang kurang banyak pengalaman dan wawasannya. Tapi tahukah kalian, para sobat voa-islam yang dirahmati Allah, bahwa gaya hidup berpiknik, rekreasi, menikmati wisata alam, bahari, kuliner dan lain-lain telah menjadi gaya hidup masyarakat Indonesia saat ini?

Pantas bila Indonesia yang sejak tahun 2018 berprestasi dengan banyak kategori sebagai destinasi wisata terindah di dunia, akhir bulan januari lalu menerima predikat sebagai negara tujuan wisata tersantai di dunia dari Lastminute.com, sebuah organisasi travelling di Inggris. Predikat ini diberikan karena gaya hidup santai masyarakat Indonesia dengan menikmati banyaknya hari libur. Selain itu, faktor alam Indonesia seperti suhunya, pencemaran udara, cahaya matahari, panjangnya garis pantai menjadikan Indonesia berpredikat sebagai negara tersantai. Kondisi bersantai ini didukung dengan banyaknya tempat  Spa dan perawatannya yang tersebar di seluruh tempat wisata, di negeri kita Indonesia.

Gaya hidup santai ditandai dengan bergesernya barang konsumsi masyarakat. Sebelumnya masyarakat lebih mementingkan kebutuhan rumah tangga terlebih dahulu seperti baju, alat elektronika atau yang lain daripada kebutuhan rekreasi. Tetapi beberapa tahun terakhir ini masyarakat lebih banyak menghabiskan pendapatannya untuk mengkonsumsi barang 'leisure', dengan rekreasi atau jajan kuliner. Semakin 'klop' dengan gaya hidup masyarakat milineal, yaitu menunjukkan eksistensi diri dengan mengunggah foto pribadi di akun media sosial mereka. Terlebih lagi, Indonesia adalah peringkat ke-empat negara yang instagramable, karena keindahan alamnya layak untuk dijadikan latar mengambil foto, kemudian diunggah di instagram.

Budaya plesiran ini didukung sepenuhnya oleh pemerintah, karena besarnya pemasukan yang diperoleh dari sektor ini. 300 triliun rupiah adalah jumlah devisa yang ditarget bisa diperoleh di tahun 2019. Sebagian besar wilayah di Indonesia juga didorong penuh untuk mengeksplorasi dan mengekspos wilayahnya, melalui program pariwisata berkelanjutan. Tidaklah mengherankan bila kita akan menemui banyak tempat yang dipermak habis-habisan, agar layak dijadikan spot wisata, agar bisa dinikmati keindahan alamnya, dijadikan objek wisata. Sejalan dengan apa yang diamanatkan oleh UNWTO( United Nations World Tourism Organisation), organisasi di bawah PBB yang khusus mengurusi pariwisata, sektor pariwisata adalah jalan bagi negara berkembang untuk menyelesaikan masalah kemiskinan yang mendera mereka. Indonesia adalah salah satu dari negara berkembang yang mereka maksud.

Mengejar devisa, tetapi ada yang hal lain yang diabaikan oleh pemerintah, yaitu efek negatif dari pariwisata. Efek yang paling menakutkan adalah tertularnya kehidupan liberal dari wisatawan mancanegara ke penduduk lokal, dari gaya berbaju, makan, hingga bergaul. Untuk dampak kebebasan pergaulan, sudah menjadi pola, daerah yang menjadi destinasi wisata, memiliki angka pengidap HIV-Aids yang semakin naik tiap tahunnya. Dan sebuah penelitian memperkirakan jumlahnya akan menjadi 1,6 juta di tahun 2019. Padahal sekarangpun pemerintah sudah kewalahan mendanai obat bagi para penderita HIV/Aids, yaitu 385 miliar untuk tahun 2019 bagi 1 juta penderita HIV/Aids. Belum lagi dengan derita bangsa ini yang akan kehilangan banyak sumber daya maanusia yang berkualitas akibat penyakit menular mematikan ini.

Sampai disini menjadi jelas bagi kita, untuk apa 'predikat membanggakan' itu disematkan kepada kita. Keindahan alam yang kita punya hanya menjadi alat tipu daya melalaikan kita, dengan hanya menjadikannya objek wisata. Padahal, bukan hanya keindahan alam yang kita miliki, tetapi juga kekayaannya, terbentang di ujung barat hingga ujung timur negeri ini. Kekayaan yang beragam, yang ada di atas bumi Indonesia hingga yang terkandung di dalamnya. Menjadi ironi bila kita menikmati pantai, gunung dan air terjunnya, sementara perusahaan besar seperti Newmont, Exxon, Freeport, dan teman-temannya menikmati emas, perak, minyak, batubara, gas bumi, dan kekayaan alam lainnya. Pendapatan perusahaan-perusahaan besar ini bila dijumlah perharinya akan lebih dari 300 triliun apalagi bila dikalikan selama 365 hari.

Semua kekayaan alam tersebut sebenarnya adalah milik kita, sekaligus  menjadi tanggung jawab kita atas nikmat Allah SWT yang dianugerahkan kepada negeri muslim terbesar ini. Tentu bukan dengan 'plesir' yang menjadi solusinya, tetapi dengan syariatNya yang sejatinya hanya bisa ditegakkan dengan sistem politik Islam, Khilafah. Maka gaya hidup plesir yang asal 'bersantai' seharusnya berganti dengan plesir yang disyariatkan oleh Allah SWT, seperti yang dilakukan para pelancong di masa kejayaan Islam yaitu untuk melaksanakan kebiasaan-kebiasaan luhur dan mulia, mentadabburi kebesaranNya, mencari ilmu, dan untuk mendakwahkan Islam. Wallahu alam. (rf/voa-islam.com)

Ilustrasi: Google

 

Share this post..

latestnews

View Full Version