View Full Version
Ahad, 10 Feb 2019

Memutus Siklus Virus V'Day yang Merusak Remaja

 

Oleh:

Ifa Mufida, praktisi kesehatan dan pemerhati masalah sosial

 

HINGAR bingar Valentine’s Day (V'Day) di bulan Februari sudah mulai nampak di sana sini, mulai dari atribut-atrbiut promo dan slogan-slogan tentang kasih sayang yang turut menyemarakkan hari bertajuk kasih sayang tersebut. Di sisi lain, umat Islam terutama remaja dengan tanpa beban ikut turut serta menyemarakkan meskipun hanya bertukar “hadiah” coklat ataupun sekedar mengucapkan “Selamat Valentine’s Day”. Namun lebih dari itu, faktanya moment ini digunakan oleh remaja untuk melakukan seks bebas. 

Tim Riset Kaltim Post di Kota Samarinda. Hasilnya mencengangkan, dari 35 koresponden yang ditanyakan, ada sebanyak 6 koresponden yang menyatakan bahwa mereka sudah terbiasa  melakukan hubungan intim saat valentine.  Bahkan salah satu responden yang berusia 18 tahun mengaku bahwa berhubungan badan di hari valentine merupakan sebuah kewajiban bersama pasangannya. Dari pengakuan para responden bahwa valentine merupakan  momen yang tepat untuk berhubungan badan, karena terbawa suasana romantis yang berlangsung di tempat-tempat tertentu yang sudah di  dekorasi ala valentine.

Survey di berbagai kota menyebutkan, menjelang hari valentine permintaan kondom melonjak, dan selalu meningkat di tiap tahunnya. Contohnya saja di kota Malang pada tahun 2018 kemarin. Dilansir dari hasil pantauan MalangVoice, dengan mengunjungi beberapa toko modern di daerah Sukun, didapati penjualan kondom meningkat hingga dua kali lipat pada tanggal 14 februari 2018. Menurut seorang pegawai yang mereka tanyai, alat kontrasepsi hanya dijual kepada pembeli berusia 18 tahun keatas. Namun kebanyakan pembeli tampak seperti pelajar.

Selain penjualan kondom yang meningkat, menjelang hari valentine berbagai ragam hadiah, kado dan souvenir laku keras.  Belum lagi promo hotel yang sangat murah dalam rangka menyambut V’Day. Termasuk hadiah coklat yang disinyalir terdapat alat kontrasepsi dan lain sebagainya. Bahkan beberapa pengusaha bisnis benar-benar memanfaatkan moment ini untuk bisa meraup keuntungan yang banyak. Mereka tidak lagi berfikir, bagaimana efek kepada masyarakat yang merayakan hal ini terutama kalangan remaja yang masih sangat labil. Terlebih mereka yang tidak dibekali dengan akidah dan keimanan yang kokoh sejak kecil.

Padahal remaja adalah generasi penerus bangsa. Terlebih Indonesia diprediksi akan mengalami bonus demografi pada beberapa tahun mendatang.  Diperkirakan Indonesia akan menikmati bonus demografi pada tahun 2020 hingga 2035. Menjadi suatu kebanggaan bagi negara apabila dapat memanfaatkan bonus demografi dengan baik. Pasalnya, bonus demografi jarang sekali terjadi di suatu negara. Bonus demografi merupakan keadaan di mana jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) lebih banyak dibandingkan jumlah penduduk non produktif (usia di bawah 15 tahun dan di atas 65 tahun).

Namun, remaja kita saat ini faktanya sedang dikepung dengan berbagai macam problematika yang susah untuk dihindarkan. Remaja kita lebih disibukkan dengan permainan-permaianan semisal game online, tak sedikit yang terjebak dengan seks bebas, aborsi, mabuk-mabukan, nge-flay sampai terpapar HIV/AIDS. Sebagaimana pernyataan IPW (Ind Police Watch), Tingkat sadisme dan seks bebas di kalangan remaja Indonesia kian memprihatinkan.

Di 2017 angka pembuangan bayi di Indonesia tergolong tinggi dalam sejarah, yakni ada 179 bayi yang dibuang di jalanan, 79 tewas, 10 masih bentuk janin dan 89 berhasil diselamatkan. Dan  di 2018 ini trennya akan lebih meningkat lagi karena di Januari saja sudah naik 100 persen (telusur.co.id). itu semua terjadi karena seks bebas sudah menjadi trend di kalangan remaja. Diperkirakan 63 persen remaja melakukan seks pra nikah pada tahun 2014, dan diprediksi trend ini terus meningkat tiap tahunnya. 

Kerusakan pada remaja di Indonesia sudah dalam kondisi kritis. Hal ini harusnya menjadi perhatian yang serius dari masyarakat secara umum dan negara pastinya. Jika ini tidak segera dicarikan solusi, maka kita akan kehilangan generasi penerus bangsa. Bonus demografi yang seharusnya dibanggakan oleh negara terancam berbalik menjadi penyakit yang mematikan. Di moment valentine’s day  tahun ini, harus diupayakan kerusakan pada remaja tidak semakin bertambah. Terlebih moment ini bukanlah budaya negeri kita secara umum, dan lebih khusus bukan ajaran Islam. Meskipun sejarah awal dimulai perayaan ini masih banyak perbedaan dikalangan pakar sejarah, namun yang paling masyhur ialah kematian seorang yang bernama Santo Valentine di tangan Kaisar Claudius memerintah Roma pada tahun 200 an Masehi, karena dianggap menentang kebijakan Kaisar tersebut.

Ada juga yang menjelaskan bahwa asal muasal V'day adalah dari tradisi paganisme (dewa-dewi) Romawi kuno, yang sarat akan legenda, mitos dan penyembahan berhala. Sebagai seorang muslim kita dilarang mengikuti perayaan agama lain, ataupun kebiasaan suatu kaum, atau kita akan menjadi bagian dari mereka .  Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda : “Orang yang menyerupai suatu kaum, ia bagian dari kaum tersebut” (HR. Abu Daud).

Maka sudah selayaknya kita bahu membahu menghindarkan remaja dan masyarakat secara umum dari rusaknya momen ini. Perlu ada upaya untuk memutus siklus kerusakan remaja pada momen ini.  Karena perayaan V’day sudah menjadi perayaan yang cukup merakyat maka selain penyadaran kepada masyarakat oleh ustadz dan kalangan yang peduli, sangat perlu turun tangan dari pemerintah.

Kebijakan Pemerintah melalui lembaga yang ada di bawahnya akan sangat berpengaruh agar remaja tidak terjebak perayaan V'Day. Kebijakan tersebut misalnya melalui Departemen Pendidikan dan kebudayaan yang menghimbau agar sekolah-sekolah melakukan pendidikan dan pengarahan agar tidak ada siswa di sekolahnya yang ikut merayakan V’Day ini. Departemen Agama juga mengeluarkan fatwa dan semacam himbauan untuk seluruh masyarakat tidak ikut perayaan ini.

Kebijakan di pemerintah daerah juga akan sangat membantu ketika mereka mengeluarkan hambauan agar tidak ada pengusaha yang memanfaatkan moment ini dengan menjual pernak-pernik V’Day. Begitu juga melarang hotel dan penginapan memberikan diskon kepada pelanggan pada malam hari tersebut. Sungguh aktivitas bisnis yang justru mengantarkan kepada kemaksiatan tidak akan mendatangkan keberkahan. Maka pemerintah daerah menghimbau para pengusaha untuk mencari usaha yang lain yang usaha tersebut tidak mengantarkan kerusakan pada masyarakat, khusunya kerusakan pada remaja. Setelah himbauan dilakukan, tinggal adanya kontrol dari kepolisian dan masyarakat pada malam perayaan hari ini apakah masih ada yang melakukan perayaan apakah tidak. 

Demikianlah harapan kami sebagai langkah praktis yang bisa dilakukan menjelang hari perayaan V’Day tahun ini. Lebih jauh dari itu, adanya gaya hidup remaja yang rusak sejatinya didukung oleh gaya hidup yang materialistik dan permissive. Gaya hidup seperti ini muncul dari tata kehidupan sekuler-liberal yang melingkupi kehidupan masyarakat saat ini. Bahkan dorongan materi, menjadikan tak segan remaja mau menjual diri mereka dalam bisnis prostitusi. Sebut saja yang terbaru ada grup line “ TK Manjyah” yang melakukan penjualan pelajar yang jumlahnya mencapai ratusan, dan pelakunya adalah remaja (okenews.com). inilah akibat kehidupan yang serba bebas. Maka untuk menyelamatkan remaja, harus ada upaya untuk mengubah tatanan kehidupan yang sekuler-liberal ini menjadi kehidupan yang sesuai dengan aturan Allah SWT. 

Sistem pergaulan dalam Islam lah yang akan menjamin penjagaan kerusakan moral masyarakat terutama remaja saat ini. Di dalam Islam, ada perintah untuk menutup aurat, menundukkan pandangan, pengaturan di dalam kehidupan khusus yakni di dalam rumah, larangan khalwat dan ikhtilat. Masyarakat Islam tidak akan membiarkan jika ada anggota masyarakat yang berbuat maksiat, maka amar ma’ruf nahi mungkar akan sangat kental dalam tata kehidupan yang dibangun atas dasar Islam.

Lebih dari itu Negara yang dibangun atas dasar Islam, akan menjamin sistem pendidikan yang menguatkan sisi aqidah dan pembentukan kepribadian yang kokoh bukan hanya fokus pada pembinaan secara akademik. Negara juga menjamin sistem informasi dan teknologi jauh dari pornografi dan pornoaksi. Selain itu akan diberlakukan tata aturan hudud bagi pelaku zina. Dimana hudud ini memiliki dua fungsi yakni sebagai penebus dosa bagi si pelaku zina sekaligus akan memberikan efek jera kepada masyarakat secara umum.

 Inilah penjagaan tuntas Islam kepada masyarakat terutama remaja sebagai generasi penerus. Maka hanya dengan mencampakkan sistem Kapitalis-liberal yang melahirkan kehidupan bebas dan permisif remaja akan terhindar dari kerusakan demi kerusakan. Dan hanya dengan penerapan Islam secara menyeluruh yang akan benar-benar memutus siklus kerusakan remaja, termasuk akibat hingar bingar valentine’s Day. Wallahu A’lam bish showab

Share this post..

latestnews

View Full Version