View Full Version
Kamis, 27 Jun 2019

Medsos, Bukanlah Etalase Kehidupan

 

Oleh: Hana Annisa Afriliani,S.S 

Saat ini kita hidup di era media sosial. Setiap diri tidak lagi banyak menghabiskan waktu di depan TV, melainkan sibuk meramaikan jagad medsos. Siapa yang tak punya akun media sosial hari ini? Dapat dipastikan sangat langka. Setiap orang pasti punya akun media sosial, mulai dari anak-anak, remaja, hingga kaum oma opa. Ya, media sosial tak ubahnya sebagai wadah aktualisasi diri.

Satu hal yang harus diingat, kita harus memahami soal rambu-rambu bermedsos agar tak tergelincir pada keburukan dan terperosok dalam kemaksiatan. Ingatlah bahwa sejatinya media sosial bukanlah etalase kehidupan. Tak semua hal dapat kita pajang di sana, sehingga setiap mata bebas memandangnya.

Orang lain tak perlu tahu detil kehidupan kita. Maka tak perlu meninggalkan setiap jejak kisah dalam hidup kita di media sosial. Pilih saja yang diperlukan dan memberikan manfaat untuk orang lain. Misalnya berbagi inspirasi agar orang lain mengikuti kebaikan yang sama seperti yang kita lakukan. Insyallah ini akan menuai berkah bagi kita.

Sungguh orang lain tak perlu tahu, saat kita berkonflik dengan suami atau siapa pun orang dalam hidup kita. Kadang banyak orang yang menjadikan media sosial untuk tempat curhat, sehingga apapun bisa tumpah di sana. Sungguh hal tersebut sangat tidak layak dilakukan oleh seorang muslim dan muslimah. Karena bisa jadi tanpa kita sadari ada aib rumah tangga yang kita pertontonkan kepada orang banyak. Cukuplah permasalahan yang mendera hidup kita tersimpan di ruang-ruang privat kita. Jadikan Allah sebaik-baiknya tempat mengadu, bukan pada media sosial yang hanya mampu memberikan tanda ‘like’ atau emoticon lainnya.

Islam tak melarang kita memanfaatkan produk teknologi, namun Islam memiliki aturan main agar produk teknologi tersebut tidak menyeret kita pada sebuah kemaksiatan. Alangkah bijak jika kita menjadikan media sosial sebagai sarana untuk menyebarluaskan kebaikan. Sehingga apa yang kita lakukan tidak mengandung kesia-siaan semata apalagi jika menjerumuskan kita pada mudarat. Tentu ini sangat merugikan. Bukankah setiap detik hidup kita akan dihisab untuk apa dia dihabiskan?

Sungguh hakikatnya, menebar kebaikan adalah ibadah. Termasuk mengunggah hal-hal bermanfaat di media sosial kita. Jika hal tersebut mampu menjadi jalan hidayah kepada orang lain, sungguh pahala kebaikan akan terus mengalir kepada kita meski kita telah tiada. Ya, jejak digital akan selalu ada, dan pahala jariyah akan terus mengalir.

Oleh karena itu, tahanlah diri kita untuk tak menjadikan media sosial sebagai etalase kehidupan yang segala hal tentang kita ‘telanjang’ dipertontonkan di sana. Sebaik-baiknya seorang muslim adalah dia yang mampu menutupi aib diri dan keluarganya.

Rasulullah saw bersabda:

"Setiap umatku dimaafkan kecuali orang yang terang-terangan (melakukan maksiat). Dan termasuk terang-terangan adalah seseorang yang melakukan perbuatan maksiat di malam hari, kemudian di paginya ia berkata: wahai fulan, kemarin aku telah melakukan ini dan itu –padahal Allah telah menutupnya- dan di pagi harinya ia membuka tutupan Allah atas dirinya." (HR. Bukhori Muslim)

Semoga saja kita bisa menjaga diri dari hal demikian. Wallahu alam. (rf/voa-islam.com)

 

*Penulis Buku “Menikah Rasa Jannah”

Ilustrasi: Google


latestnews

View Full Version