View Full Version
Senin, 28 Feb 2022

Tadabbur Hikmah Isra’ Mi’raj, Tak Lekang oleh Zaman

 

Oleh: Desti Ritdamaya

Momen Isra’ Mi’raj terjadi saat dakwah begitu terjal dan sulit. Aral dakwah yang tak pernah henti dipancang kafir Quraisy, malah mendatangkan keputusasaan pada diri mereka sendiri. Ragam penyiksaan dan propaganda mereka tak berhasil memadamkan cahaya dakwah Islam.

Klimaksnya mereka menempuh cara yang lebih tak manusiawi, yaitu pemboikotan. Tak hanya boikot aktivitas muamalah tapi juga perkawinan dan hubungan sosial. Dimulai dari tahun ketujuh sampai kesepuluh masa kenabian. Waktu yang tak singkat, menjadikan kelaparan dan kefakiran menjalar. Terpaksa kaum muslim mengonsumsi kulit pohon dan dedaunan. Tak ayal lagi, penderitaan makanan sehari-hari dan kesempitan hidup minumannya. Tak ada yang sanggup menjalaninya, kecuali jiwa-jiwa yang terhujam takwa dalam akal dan qalbunya.

Enam bulan setelah lepasnya pemboikotan, duka beruntun menyapa Rasulullah. Paman Beliau Abu Thalib sakit kritis dan akhirnya meninggal. Diduga kuat akibat tekanan boikot yang melemahkan fisiknya yang renta. Bagi Rasulullah, Abu Thalib bukan hanya sekadar paman, tapi lebih dari seorang bapak. Karena Beliau tak hanya mengasuh Rasulullah sejak kecil, tapi selalu pasang badan melindungi dakwah.

Disusul dengan mutiara hati Beliau, Khadijah berpulang ke rahmatullah. Ummahatul mukminiin bagi Rasululllah, lebih dari seorang istri. Karena Beliau tak hanya meneguhkan hati dan meringankan beban berat Rasululllah di masa awal dakwah. Tapi senantiasa mengorbankan jiwa dan hartanya untuk kemuliaan dakwah. Kepergian dua orang yang begitu dicintai, menorehkan kesedihan mendalam bagi Rasululllah. Sehingga tahun ini disebut sebagai ‘aamul huzni (tahun kesedihan).

Jalan dakwah untuk tegaknya kedaulatan Islam di Mekkah pun semakin gelap. Masyarakat Mekkah yang berpegang teguh pada akidah, adat istiadat, pemahaman sesat warisan nenek moyang, mati-matian menolak dakwah. Upaya mengembangkan titik dakwah di luar Mekkah pun mengalami jalan buntu. Berbagai kabilah seperti Bani Kindah, Kilab, Bani ‘Amir bin Sha’sha’ah dan Bani Hanifah menolak tawaran dakwah. Bahkan memusuhi, mengisolir dan mengepung Rasulullah. Penolakan dakwah yang sangat menyakitkan datang dari Bani Tsaqif di Thaif. Tak hanya cacian yang diterima Rasulullah, tapi juga pengusiran disertai penganiayaan fisik. Sepulang dari Thaif, keadaan pun semakin genting. Karena kafir Quraisy sudah merencanakan untuk membunuh Beliau.

Malam Berkah, Bertabur Mu’jizat

Tak ada kesukaran, penderitaan dan duka yang abadi di dunia selama menggantungkan asa hanya pada Rabb semesta alam. Allah adalah sebaik-baiknya tempat bertawakal. Hal inilah yang menjadi keyakinan Rasulullah. Pucuk dicinta ulam tiba, di malam Rajab yang Allah berkahi, Rasululullah diperjalankan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa (Isra’). Dilanjutkan dengan dinaikkannya Beliau ke langit tertinggi di Sidratul Muntaha sampai menghadap Allah (Mi’raj). Allah SWT abadikan peristiwa agung tersebut dalam firmanNYa :

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

Artinya : Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat (QS. Al Isra' ayat 1).

إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَى, مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَى, لَقَدْ رَأَى مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَى

Artinya : Tatkala Sidratul Muntaha ditutupi oleh bermacam hal yang melingkupinya, tetapi pandangannya (Rasulullah SAW) tidaklah sampai menyimpang dan tidaklah pula melampauinya. Sesungguhnya dia (Rasulullah SAW) telah melihat sebagian tanda-tanda kebesaran Allah yang Maha Agung (QS. An Najm ayat 16-18). 

Saat Isra’, Rasululllah SAW melewati beberapa daerah bersejarah, yaitu Yatsrib, Madyan-Tur Sina, Bethelehem dan terakhir Baitul Maqdis. Sesampainya di Baitul Maqdis malaikat Jibril menyodori Beliau dua macam minuman, yaitu air susu dan khamar. Rasulullah pun tanpa ragu memilih susu. Lalu Allah dengan kuasaNya menghidupkan Nabi Adam as sampai Isa as. Rasululullah SAW tak hanya berbicara dengan mereka, tapi mengimami mereka dalam shalat khusus dua raka’at.

Saat Mi’raj Rasulullah diparadekan tanda-tanda kekuasaan Allah. Kembali Beliau dipertemukan dengan para Nabi dan Rasul terdahulu. Diperlihatkan berbagai siksa neraka dan kenikmatan syurga. Puncaknya menerima kewajiban shalat lima waktu langsung dari Allah SWT.

Tak perlu dipertanyakan lagi bagaimana kedua peristiwa tersebut terjadi. Karena semuanya mu’jizat, di luar akal manusia dan jangkauan sains dan teknologi. 1.400 tahun lalu, alat transportasi tercanggih hanyalah unta dan kuda, belum ada pesawat terbang. Tak akan mampu menempuh Mekkah-Yerussalem yang berjarak hampir 1.234 km hanya dalam waktu singkat. Apalagi saat Mi’raj, Rasulullah tanpa dilengkapi pakaian khusus, tabung oksigen atau alat bantu lainnya, tapi mampu menembus luar angkasa yang tak terbayang lagi jauhnya dan letaknya dimana.

Semuanya hanya bisa dipahami dengan metodologi iman. Bahwa Allah pemilik dan pengatur semesta alam, mempunyai kuasa atas segala sesuatu. Jika berkehendak menetapkan sesuatu, sesungguhnya Allah hanya mengatakan kun fayakuun. Maka tentu saja hal yang sangat mudah bagi Allah mendesain peristiwa agung tersebut.

Kabar Gembira Datangnya Nashrullah

Mengkaji ketetapan Allah dalam Isra’ Mi’raj, ada hikmah mendalam yang harus ditadabburi oleh kaum Muslim.

Pertama, Allah ingin menghibur kekasihNya, dengan memperlihatkan tanda-tanda kekuasaanNya. Dakwah Rasululullah SAW memang mendapatkan penolakan dan permusuhan di dunia, tapi penduduk langit hangat menerima Beliau. Sehingga kesempitan dunia tak ada bandingannya dengan luasnya rahmat Allah yang tercurah dari langit. Ini tentu saja membuka dan meneguhkan cakrawala jiwa dan akal Beliau untuk terus istiqamah dalam dakwah.

Kedua, Rasululullah SAW memilih air susu dibandingkan khamar, padahal saat itu belum ada wahyu pengharaman khamar. Pujian pun diberikan Jibril pada Beliau atas pilihannya tersebut. Ini menunjukkan bahwa risalah yang dibawa Rasulullah SAW bersesuaian dengan fitrah manusia dan rahmatan lil ‘alamin. Selama manusia menggunakan akal untuk mencari iman, maka akan tertunjuki diri pada hidayah Islam.

Ketiga, dipilihnya Masjidil Aqsa sebagai tempat Isra’ tentu ada sebab. Kiblat pertama muslim tersebut tempat suci nan diberkahi. Karena Syam adalah tempat bermuaranya kenabian dari kalangan Bani Israil sebelum Beliau SAW. Tapi sejarah mencatat, Bani Israil banyak melakukan penghianatan terhadap risalah wahyu. Tak hanya suka membangkang perintah para Nabi, tapi berani menjual ayat-ayat Allah dengan harga murah, bahkan membunuh para Nabi dan Rasul. Tak layak lagi Bani Israil mengemban amanat risalah wahyu dan kepemimpinan.

Rasulullah SAW menjadi imam shalat para Nabi Rasul terdahulu, menunjukkan isyarat dan kabar gembira. Bahwa kepemimpinan dunia yang awalnya dipegang oleh Bani Israil akan dialihkan pada Rasulullah. Dan Syam akan menjadi bagian wilayah kekusaan Islam di bawah kepemimpian Rasululullah SAW dan umatnya.

Keempat, Isra’ Mi’raj ujian sekaligus fitnah bagi manusia. Karena orang-orang yang lemah iman terpengaruh dengan propaganda kafir Quraisy yang mengatakan Isra’ Mi’raj tak masuk akal. Rasulullah SAW hanya membual dan telah gila. Tanpa ragu akhirnya mereka melepaskan keimanan. Sebaliknya muslim yang kuat iman, semakin bertambah kokoh keimanannya. Karena mereka meyakini Isra’ Mi’raj adalah tanda kekuasaan Allah.

Isra’ Mi’raj  adalah cara Allah untuk memisahkan prang-orang yang kuat iman dari yang lemah imannya. Cara Allah memfilter yang orang-orang bersungguh-sungguh dalam perjuangan dakwah dari yang tidak mau berjuang. Karena dakwah hanya mampu dipikul oleh orang yang iman kuat, ikhlas dan jujur.

Terbukti setelah hijrah ke Madinah dan tegak negara Islam disana, tugas dakwah diberikan Rasulullah pada orang-orang yang tepat. Pun setelah Rasulullah wafat, generasi penerus adalah orang-orang pilihan yang mampu memikul Islam dan menyebarkannya bahkan sampai di luar Arab. Ya dapat dikatakan Isra’ Mi’raj adalah ajang seleksi iman dari Allah. Wallahu a’lam bish-shawabi. (rf/voa-isla.com)

Ilustrasi: Google


latestnews

View Full Version