View Full Version
Sabtu, 19 Nov 2022

Kamukah Pemuda Cerdas Itu?

 

Oleh: Sunarti

 

Hai, Sob, bagaimana kabarnya?

Alhamdulillah, masyaallah, luar biasa.

Sob, kalian tahu gak sih, jika kita itu adalah pemuda yang luar biasa lho?

Bahkan ya, kelebihan kita sebagai pemuda itu diabadikan oleh Sang Khaliq. Tahu gak kalian, jika pemuda itu adalah sosok yang istimewa.

Sob, kita pemuda istimewa yang selalu akan Allah tunjukkan jalan kebaikan-kebaikan menuju ketaatan kepadaNya. Karena kita adalah hamba yang kelak menjadi generasi penerus bangsa dan generasi penerus peradaban.

Kelak baik atau buruknya peradaban ada di tangan kita. Maka dari itu Allah SWT. akan selalu memberikan panutan, petunjuk yang itu semuanya adalah rambu-rambu bagi perjalanan kita.

Gini, kalau kita paham bahwa posisi kita sangat penting, tentu tidak akan menyia-nyiakan apa yang telah Allah berikan untuk kita. Sebuah keharusan, kita mengambil nasehat yang luar biasa juga. Yaitu adanya 5 perkara sebelum 5 perkara.

Pertama waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu. Kedua waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu. Ketiga masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu. Keempat masa luangmu sebelum datang masa sibukmu. Kelima hidupmu sebelum datang matimu.

Pertama waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu. Maksudnya, kita itu harus memanfaatkan waktu muda kita untuk benar-benar maksimal dalam segala urusan. Kita tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan untuk sekedar berhura-hura tanpa mendapatkan apa-apa.

Harus kita ingat ya, Sob, rambu-rambu itu. Karena ada dosa, ada pula yang harus kita pertanggungjawabkan lhoh, kelak di akhirat. Makanya, isi masa muda kita dengan hal-hal yang jauh dari yang namanya dosa. DOSA.

Nah, yang kedua yaitu waktu sehatmu sebelum sakitmu. Nah, masa ketika kita sakit, rasanya lemes, males, pusing, gak nafsu makan, bahkan ya, senyum aja ogah. Iya kan?

Sebelum terjadi demikian, dikala kita sehat-sehat saja, kita juga harus maksimalkan masa sehat itu dengan kebaikan-kebaikan yang mendatangkan pahala ya, Sob. Bukan kebaikan yang ala-ala kita, suka-suka gue dan niru-niru yang gak jelas gitu. Kek gaya hidup, makanan, minuman, fashion dan lain-lain yang kita kagak tahu kejelasannya, baik buat kita kah, atau justru merusak kita.

Yang ketiga masa kayamu sebelum datang masa kafakiranmu atau kemiskinanmu. Ini jangan diterjemahkan hanya soal harta ya, Sob. Kekayaan itu bisa berupa apa saja. Bisa berupa akal yang sehat atau hal-hal lain yang kita miliki. Seperti fisik yang kuat, orang-orang di sekitar yang menyayangi kita dan juga termasuk pemberian rezeki kepada kita.

So, jika kita masih menikmati itu semua, jangan disia-siakan pula ya. Kita juga manfaatkan untuk kebaikan, untuk lebih bersyukur, lebih dekat dengan Allah. Jangan sampai ketika Allah ambil itu semua, akhirnya kita baru sadar, kalau kita belum berbuat apa-apa. Nyesel kan.

Yang keempat adalah masa luangmu sebelum datang masa sibukmu. Na ini apa kita sadar jika masa luang kita ternyata telah terlewati? Kita main HP, kita main game, kita nongki-nongki di angkringan di cafe atau yang lain lah.

Lha emang hanya ngaji dan shalat mulu?

Maksudnya, kita itu ngerjain apa-apa selama di dunia ini musti tahu apa imbasnya kelak ke depan. Juga apa akibatnya jika kita melakukan hal-hal yang kita tidak tahu patokannya. Sekedar ngelakuin yang mubah-mubah sih gak masalah. Muncul masalah itu jika yang mubah malah mengantarkan kita kepada dosa.

Misalnya, kita pas nongki-nongki, eh yang kita gabung di situ campur baur cewek-cowok. Kakak bukan, adik juga bukan, saudara juga bukan. Nambah-nambah yang cewek pada buka-bukaan pula. Ups ... Pakai baju terbuka, maksudnya. Atau pakai kerudung, tapi lekuk tubuhnya terlihat.

Itu, masuk contoh yang kelima, yaitu hidupmu sebelum datang matimu. Kenapa?

Karena hidup kita yang istimewa ini jangan sampai tersia-siakan dengan hal yang mubah tadi. Padahal kita gak tahu kapan mati. Belum tentu lhoh, kita yang masih kinyis-kinyis ini matinya sampai tua. Karena ajal itu datang kapan saja, di mana saja dan kepada siapa saja.

Saat ini ya, Sob, potret pemuda itu begitu buruk. Sebut saja, dari laporan Statistik Pendidikan Tinggi pada 2020 menunjukkan lebih dari satu juta anak muda di Indonesia drop out dari bangku kuliah, baik perguruan tinggi negeri (PTN) maupun swasta (PTS). Padahal inikan masa-masa empuknya belajar kan. Sayang kan.

Ada yang serem juga, Sob, penelitian Reckitt Benckiser Indonesia pada 2019, 500 remaja di lima kota besar di Indonesia menemukan 33 persen remaja pernah berhubungan di luar nikah. Helo, ini hubungan apa ya? Kagak jelas gitu. Menikah, gitu kek. Na ini hubungan bebas.

Yang seram lain juga ada ya, Sob, menurut Dewan Masjid Indonesia (DMI) pernah menyatakan bahwa 65% muslim di Indonesia ternyata tidak bisa membaca Al-Qur’an, termasuk usia muda. 2018, penelitian Departemen Kaderisasi Pemuda PP Dewan Masjid Indonesia (DMI) menyebutkan hanya 33,6% anak muda rajin salat ke masjid setiap hari. Na ini generasi masjid pada ke mana? Generasi muda yang hendak mengemban peradaban mulia, pada ngapai? Duh, kondisi yang sangat mengerikan. Masak sih, hura-huranya hebat, Qur'an dan masjidnya kagak nemplok?

Kita harus berusaha untuk berubah, dong.

E kamu tahu gak sih, jika ini akibat diterapkannya sistem yang merusak. Sistem itu secara langsung memisahkan kehidupan sehari-hari kita dengan Sang Pencipta.

Saat ini ya, Sob, tidak ada persoalan jika tanpa disertai sebabnya. Saat ini kebanyakan para muda itu tidak memiliki pemikiran yang mendasar tentang kehidupan. Bahwasanya, kita ini adalah makhluk Allah. Yang tentunya dalam kehidupan sehari-hari kita juga harus melangkah dengan segala aturanNya. Kenapa?

Karena, setiap apa yang kita lakukan sehari-hari, akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat. Udah pada tahu belum yang ini? Camkan ya.

Nah, sistem saat ini ya yang diterapkan adalah sistem sekulerisme. Yaitu aturan kehidupan sesuai dengan pikiran manusia. Bahkan salah atau benar juga didasarkan pikiran manusia sendiri, bukan pada aturan Allah. Inilah mengapa dikatakan menjauhkan kehidupan sehari-hari dari agama. Sementara makna beragama itu dianggap hanya sebatas beribadah. Misalnya, shalat, puasa, zakat, infak, dll. Namun, urusan pergaulan, pendidikan, dan muamalah lainnya, jangan dicampur dengan agama (Islam).

Sob, dari ini semua, pengen gak, kalian menjadi pemuda yang cerdas dan benar-benar, bertaqwa?

Rasulullah bersabda:

“Orang mukmin yang paling utama adalah orang yang paling baik akhlaknya. Orang yang cerdas adalah orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik dalam mempersiapkan bekal untuk menghadapi kehidupan setelah kematian. Mereka adalah orang-orang yang berakal.

Demikian, Sob, kita pengen dong punya masa depan cerah dan penuh berkah juga. Jadi sebisa mungkin kita berusaha mendudukkan diri menjadi pemuda yang taat kepada Allah SWT.

Bagaimana caranya?

Pertama, kita musti memiliki kekuatan akidah sebagai bekal menjalankan kehidupan ini. Kedua, kita musti memiliki tujuan tertinggi dalam hidup yaitu ridha Allah. Ketiga, membangun kebiasaan islami dan sekuat tenaga menjauhi maksiat. Dan keempat atau yang terakhir, kita harus peduli dengan kondisi umat dan menjadi bagian dari pejuang agama Allah. Inilah, Sob, pemuda yang dikagumi Allah.

Maka kita sudah seharusnya melayakkan diri menjadi pemuda cerdas dan benar-benar bertaqwa. Caranya gimana, dong?

Ya, pastinya kita harus berusaha untuk memperbanyak tsaqafah, menambah ilmu agama dan rajin-rajin menuntut ilmu. Wallahu alam bisawab. (rf/voa-islam.com)

ILustrasi: Google


latestnews

View Full Version