View Full Version
Ahad, 19 Feb 2023

Krisis Adab Murid terhadap Guru, Apa yang Salah?

 

Oleh: Aminah Natasya

Viral di sosial media, sebuah video seorang anak SMK yang memaki gurunya. Kronologinya, seorang guru menegur anak itu karena dia telat masuk ke kelas. Eh, bukannya minta maaf dan merasa bersalah, sang murid malah membentak-bentak sang guru, bahkan melontarkan kata-kata yang tidak sepatutnya dilontarkan oleh seorang murid kepada gurunya. Kita tak membenarkan kata-kata dari sang guru yang mengatakan bahwa anak itu pantas untuk tidak punya bapak. Tapi trus timbullah pertanyaan dari netizen, siapakah yang salah? Gurunya, kah, karena nyenggol-nyenggol bapaknya? Atau sang murid yang dari awal nyolot duluan?

Anak-anak Indonesia krisis adab. Sebenarnya, sih, adegan-adegan di atas sama sekali nggak asing di negara kita. Belakangan ini, memang banyak sekali murid yang hilang rasa hormat terhadap gurunya. Padahal adab seorang murid kepada guru adalah ilmu terapan yang selalu diajarkan. Namun prakteknya sendiri bagaimana? Seperti yang kita lihat, masih nihil.

Entah siapa yang ditiru oleh mereka. Walau jika kita telaah kembali, lebih dalam lagi, adegan semacam itu, ngomong kasar, kurang adab, dan semacamnya, sedang banyak dipertontonkan di media-media seperti salah satu contohnya adalah melalui film.

Adegan populer melawan guru, bahkan sampai menggunakan kekerasan di dalam film Dilan—katanya—sangat menginspirasi banyak kaula muda. Dengan alasan bahwa gurunya yang salah, gurunya yang mulai duluan, seorang murid seakan sah-sah saja untuk melawan guru.

Tapi apakah salah jika seorang guru menegur seorang murid karena tidak disiplin, terlambat masuk ke kelas, sampai-sampai guru itu pantas diperlakukan tidak sopan seperti itu? Jadi guru itu berat. Sudahlah harus menghadapi anak-anak semacam adik ini, gajinya kecil, pula. Sebenarnya, di zaman sekarang, nilai guru itu apa, sih, di mata masyarakat dan negara? Bahkan di mata para murid saja, guru itu apa, sih? Formalitas belaka?

Terlepas dari pandangan masyarakat dan negara akan nilai dari seorang guru di zaman sekarang, ungkapan populer “Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa” masih sangat pantas digaungkan kepada mereka. Justru di masa-masa sekarang perjuangan mereka lebih berat, dan mereka hebat tetap mau mempertahankan perjuangan tersebut. Soalnya, kan, tanpa guru, apa jadinya kita? Tak bisa baca tulis, mengerti banyak hal (sambil nyanyi nggak, tuh).

Walau tak memungkiri fakta bahwa di luaran sana ada guru-guru yang kurang baik menurut kita. Terlalu galak, terlalu cerewet, cuek, kurang peduli, atau sekedar beliau-beliau ini ada salah kata terhadap kalian, sebagaimana yang dikatakan oleh Pak Guru yang viral itu. Atau bahkan, mereka mengajarkan apa, tapi realitanya, mereka juga nggak sebagus seperti yang mereka ajarkan.

Tapi tetap, terlepas dari itu semua, kita sama sekali tidak boleh merendahkan profesi mereka. Guru tetap pahlawan. Jika ada yang kurang baik, ya, dia belum sempurna jadi guru. Tapi bukan berarti status guru jadi rendah gara-gara beberapa orang yang kurang pantas. Kita bisa sebut sebagai oknumlah. Karena definisi seorang guru itu ya, mengajarkan ilmu yang baik, mengajar dengan baik, peduli dengan muridnya, sayang sama muridnya. Kalau nggak gitu, ya, bukan guru, dong, namanya. Gitu aja.

Ya, kayak kasus di atas, anak murid itu mengabsen nama-nama binatang terhadap sang guru karena tersinggung oleh perkataan sang guru. Apakah hal itu bisa dijadikan alasan untuk melontarkan semua kata-kata yang tak indak tadi? Tentu tidak. Toh, anaknya juga tidak mau mengaku salah. Ambil baiknya, abaikan keburukannya. Bukan berarti guru tersebut tidak memiliki kebaikan sama sekali sebagai seorang guru. Menegur ketika kita salah saja, itu merupakan tindakan yang baik dan artinya, beliau masih peduli sama kita. Nggak mau kita terkena masalah terus karena tidak disiplin.

Adab Dulu Sebelum Ilmu

Karena kita ini umat Nabi Muhammad, ya pastinya dong segala teladan tertuju kepada Nabi Muhammad. Seperti yang kita ketahui, bahwa Rasul adalah orang yang berhasil membawa kita dari zaman kebodohan ke zaman yang penuh dengan cahaya ilmu. Lantas bagaimana sih, Rasulullah ketika menjadi seorang guru bagi umatnya? Salah satunya adalah menjadi teladan yang sempurna. Nggak harus sesempurna Nabi, kok. Tapi minimal hal-hal yang diajarkan kepada murid itu tidak hanya teori, tapi juga bersifat keteladanan. Banyak-banyak mengintrospeksi diri. Muridnya kenapa bisa gitu? Adakah salah dari sang guru, dan semacamnya.

Ibnul Mubarak berkata, “Kami mempelajari masalah adab itu selama 30 tahun sedangkan kami mempelajari ilmu selama 20 tahun.”

Apa hikmah yang bisa dipetik dari kalimat beliau? Adab seperti pondasi dalam menuntut ilmu. Dan di antara semua adab yang perlu kita perhatikan adalah mengenai menjaga lisan. Control lisan kita ini agar dapat berkata yang baik, tidak melontarkan kata-kata yang buruk, atau bahkan ngabsenin penghuni binatang. Emang situ tour guide kebun binatang?

Adab itu apa, sih? Mengutip pernyataan Abu Isma’il al-Harawi pengarang kitab Manazil as-Sa’irin, yang dimaksud dengan adab adalah menjaga batas antara berlebihan dan meremehkan serta mengetahui bahaya pelanggaran. Keberhasilan seseorang—terlebih dari murid kepada gurunya—biasanya ditentukan oleh adab yang dimiliki. Sedangkan menurut Rasulullah sendiri—berdasarkan Ensiklopedia Tasawuf Imam al-Ghazali karya Luqman Junaedi—adab adalah pendidikan tentang kebajikan yang merupakan bagian dari keimanan.

Kerja sama antar murid dan guru harus sinkron. Agar negara ini menjadi negara yang lebih baik. Murid mengormati guru, guru menyayangi murid. Bentuk hubungan yang indah. Karena ilmu itu sejatinya indah. Perlu koneksi yang indah pula untuk menggapainya. Guru itu manusia, murid juga manusia. Karena mereka adalah manusia, makanya harus saling memperbaiki. Sang guru harus memperbaiki dirinya untuk memperbaiki muridnya, dan sang murid harus memperbaiki dirinya dengan belajar dan taat pada gurunya. Walau manusia, tidak boleh menyerah dalam urusan memperbaiki diri. Selalu ada kesempatan untuk itu. Jadi, semangat! (rf/voa-islam.com)

Ilustrasi: Google


latestnews

View Full Version