View Full Version
Selasa, 06 Jan 2026

Harta Bisa Hilang, Persaudaraan Tetap Menyelamatkan

Dikisahkan, seorang ayah meninggal dunia dan meninggalkan harta warisan yang besar untuk dua orang anaknya. Harta itu dibagi rata. Anak sulung memanfaatkan bagiannya dengan penuh kepercayaan kepada Allah dan tekad yang kuat. Ia terjun ke dunia properti, dan Allah memberkahi usahanya hingga rezekinya melimpah dan hidupnya berkecukupan.

Sebaliknya, anak bungsu menghabiskan hartanya tanpa perhitungan hingga habis. Ia kemudian bekerja, namun penghasilannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Karena terdesak, ia berutang untuk membeli mobil taksi yang ia jalankan setelah pulang kerja, siang dan malam. Namun kehidupannya tetap sulit dan tidak mengalami perubahan berarti.

Suatu hari, sang kakak mengunjunginya dan menanyakan keadaannya. Sang adik pun menceritakan kesulitan hidup yang ia alami. Mendengar hal itu, sang kakak memberikan cek sebesar dua juta riyal Saudi dan menasihatinya, “Tinggalkan pekerjaan sebagai sopir taksi. Mulailah usaha di bidang properti. Terimalah keuntungan yang kecil, perbanyak perputaran usaha, dan belanjakan kebutuhanmu hanya dari hasil keuntungan.”

Sejak saat itu, sang adik mulai menekuni usaha properti dengan sungguh-sungguh dan penuh harapan kepada Allah. Pintu-pintu rezeki pun terbuka baginya. Dalam waktu yang tidak lama, ia menjadi salah satu pengusaha properti yang dikenal di kotanya.

Sementara itu, sang kakak terus menjalankan usahanya hingga suatu saat ia menerima tawaran bisnis besar. Demi mendapatkan modal, ia mengumpulkan seluruh hartanya, bahkan menggadaikan rumahnya. Namun karena terjun ke bidang yang tidak ia kuasai, ia mengalami kerugian besar dan kehilangan seluruh hartanya dalam waktu singkat.

Beberapa waktu kemudian, kabar tersebut sampai kepada sang adik. Ia segera mendatangi kakaknya. Sebelum bertemu, ia terlebih dahulu menebus rumah kakaknya yang digadaikan. Setelah itu, ia menemui kakaknya untuk menghibur dan menguatkannya.

Sebelum berpisah, ia bersumpah agar kakaknya mau mengambil setengah dari hartanya, seraya berkata: “Di rekeningku ada tujuh puluh juta riyal; setengahnya adalah bagianku dan itu sudah banyak bagiku, dan setengahnya untukmu, meski itu sedikit bagimu.” Sang kakak menolak, namun sang adik mempertegas sumpahnya dan memindahkan uang tersebut ke rekening kakaknya tanpa persetujuannya, sambil mengingatkannya akan jasa dan nasihatnya di masa lalu serta dukungannya di awal perjalanan hidupnya.

Dengan modal tersebut, sang kakak memulai kembali usahanya dari awal. Atas izin Allah, usahanya kembali berkembang, berkat pertolongan-Nya dan ketulusan sang adik yang tidak melupakan kebaikan.

Dari kisah ini kita belajar bahwa harta tidak selalu tetap dan bisa hilang kapan saja. Persaudaraan yang tulus adalah penolong setelah Allah di saat sulit. Kebaikan sejati adalah memberi disertai nasihat yang baik. Membalas kebaikan adalah tanda kemuliaan akhlak. Rendah hati saat menerima dan lapang hati saat memberi akan menjaga persaudaraan. Dan siapa pun yang menolong saudaranya, Allah akan menolongnya saat menghadapi kesulitan. [PurWD/voa-islam.com]

Sumber: kisah berbahasa arab “Al-Akh Qobla al-Maal”, dari islamway.net.


latestnews

View Full Version