

Soko, seorang perawat asal Gambia yang menjadi peserta MasterChef España, membuat seluruh dapur hening ketika ia dengan tegas menolak memasak daging babi.
“Bagi saya, agama saya lebih penting dari segalanya.”
Sebagai seorang Muslimah, babi adalah sesuatu yang haram baginya. Ini bukan soal selera, dan bukan pula soal kemampuan memasak. Ini adalah tentang keyakinan yang telah ia pegang jauh sebelum melangkah ke dapur kompetisi tersebut.
Dalam Islam, larangan terhadap babi sangat jelas. Allah berfirman dalam Al-Qur'an:
إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ ٱلْمَيْتَةَ وَٱلدَّمَ وَلَحْمَ ٱلْخِنزِيرِ
“Sesungguhnya Dia hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi…”(QS. Al-Baqarah: 173)
Bahkan bukan hanya memakannya, sebagian ulama juga menegaskan kewajiban menjauhi segala bentuk keterlibatan yang berkaitan dengan hal yang haram, berdasarkan kaidah:
“Apabila Allah mengharamkan sesuatu, maka Dia juga mengharamkan hasil (dan segala yang berkaitan) darinya.”(HR. Ahmad)
Di sisi lain, Islam juga mengajarkan prinsip penting:“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Sang Pencipta.”
(HR. Ahmad)
Artinya, ketika aturan manusia bertentangan dengan perintah Allah, maka seorang Muslim dituntut untuk mendahulukan ketaatan kepada Allah.
Namun, Islam juga mengenal konsep darurat (keterpaksaan), sebagaimana lanjutan ayat:
فَمَنِ ٱضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَآ إِثْمَ عَلَيْهِ
“…tetapi barang siapa terpaksa (memakannya) tanpa sengaja dan tidak melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya…”
Dalam kasus Soko, situasinya bukan darurat yang mengancam nyawa, melainkan sebuah pilihan dalam kompetisi. Karena itu, keputusannya untuk menolak bisa dipahami sebagai bentuk menjaga prinsip (istiqamah) dalam beragama.
Para juri tidak tinggal diam. Mereka langsung memberinya celemek hitam — tanda bahaya yang berarti nominasi eliminasi. Salah satu juri berkata tegas:“Di sini, kamu datang untuk memasak segalanya.”
Di sinilah muncul perdebatan yang lebih luas:Apakah sebuah kompetisi global harus mengakomodasi keyakinan agama pesertanya? Ataukah peserta yang harus sepenuhnya menyesuaikan diri dengan aturan yang ada?
Dalam perspektif Islam, menjaga agama (ḥifẓ ad-dīn) adalah salah satu tujuan utama syariat (maqāṣid asy-syarī‘ah). Sehingga, pilihan untuk mempertahankan prinsip meski berisiko kehilangan peluang duniawi dipandang sebagai sesuatu yang mulia.
Di mana pun posisi kita dalam perdebatan ini, satu hal yang jelas: Soko memilih imannya. Dan itu bukan keputusan yang mudah, apalagi di bawah sorotan dunia.
Menurut kamu, apakah Soko membuat keputusan yang tepat? Atau aturan kompetisi memang harus diikuti sepenuhnya? [PurWD/vioa-islam.com]