View Full Version
Senin, 16 Aug 2010

Imam Italia: Buruh Tani Boleh Minum Selama Ramadhan

ROMA (Berita SuaraMedia) - Buruh tani Muslim bekerja keras di ladang Italia selama Ramadhan agar tidak melanggar hukum Islam jika mereka terkadang menyesap air, salah seorang Imam terkenal Italia mengatakan.

Berbicara tentang bulan puasa Islam yang panjang, yang dimulai pada hari Rabu lalu, Imam Ahmad al Sakka dari Masjid Roma mencari jalan pintas atas polemik yang dihadapi buruh tani yang bekerja dalam waktu lama di tengah panas terik.

Selama Ramadhan, Muslim sangat dilarang untuk makan dan minum apapun, termasuk air, sejak fajar hingga terbenam matahari tapi pengecualian berlaku dalam kondisi tertentu.

"Ada kasus khusus dimana Muslim diijinkan untuk menyimpang dari larangan meminum air selama siang hari bulan Ramadhan," ujar imam.

"Khususnya, ada pengecualian bagi mereka yang bekerja dalam keadaan tertentu, misalnya, para buruh di sawah yang bekerja seharian di bawah sinar matahari yang membakar atau mereka yang bekerja dekat perapian di tempat pande besi."

Kesehatan buruh tani Muslim selama Ramadhan merupakan persoalan yang relatif baru di Italia, dimana suhu musim panas biasanya mencapai puncak 30 derajat.

Walaupun populasi Muslim di negara itu tumbuh dengan stabil dekade lalu, hanya dalam dua tahun terakhir ini bulan Ramadhan jatuh di bulan Agustus dan awal September.

Tahun lalu, Komite Keselamatan Pertanian di provinsi bagian utara Mantua kesal setelah ada laporan keliru bahwa mereka mengancam akan menangguhkan buruh tani yang menolak minum air selama bulan Ramadhan.

Beberapa waktu kemudian komite mengeluarkan sejumlah isu terkait rekomendasi yang meliputi meminum air tapi ketua kelompok tersebut Roberto Cagliari menekankan bahwa kesehatan buruh tani dalam bahaya.

"Penolakan untuk minum air pada sebagian buruh di ladang selama bulan Ramadhan tahun lalu menciptakan persoalan yang perlu diperhatikan," Cagliari, yang juga merupakan kepala  organisasi petani nasional Coldiretti bagian lokal, menjelaskan.

Pada saat itu, perwakilan masyarakat Islam Mantua, Ben Mansour, mengatakan rekomendasi itu tidak diperlukan.

"Jika seorang Muslim merasa kurang enak badan, ia dapat beristirahat dan jika dia sadar kalau dia memang kurang sehat, dia boleh minum," ia menjelaskan. "Tapi itu adalah keputusannya sendiri dan tak seorang pun bisa memaksakan hal itu padanya."

Komentar oleh Imal Al Sakka itu dibuat sebagai tanggapan atas konsultasi terhadap persoalan oleh Lombardy cabang Coldiretti.

Organisasi tersebut mengeluarkan pernyataan yang menjelaskan bahwa 20 persen buruh taninya berkebangsaan asing, proporsi tinggi dari India, Pakistan, dan negara-negara di Afrika Utara.

mereka memuji Al Sakka atas tanggapannya yang  "autoritatif dan bijaksana".

"Hal ini membenarkan posisi Muslim yang bekerja dalam kondisi tertentu, misalnya suhu tinggi atau di bawah matahari, ketika dehidrasi bisa menyebabkan resiko nyata terhadap kesehatan," ujar Coldiretti.

"Meminum air ketika berhadapan dengan buruh yang menuntut kemampuan fisik di ladang di bawah suhu tinggi merupakan kebutuhan vital bagi umat manusia."

Ramadhan akan berlanjut jatuh di bulan-bulan musim panas tahun depan.

Puasa sebulan penuh, yang hanya mengijinkan orang yang sakit, hamil, manula atau anak-anak secara rutin menjadi pengecualian, merupakan batu sudut Islam dan diikuti oleh banyak Muslim di seluruh dunia, bahkan yang tidak terlalu taat sekalipun.

Siapapun yang jatuh sakit selama Ramadhan diijinkan untuk berbuka puasa sebelum waktunya.

Jam kerja di banyak negara Islam seringkali menyesuaikan dengan Ramadhan ketika jatuh pada musim panas yang lebih lama dan lebih panas. (raz/li) www.suaramedia.com


latestnews

View Full Version