


BOSTON (Berita SuaraMeia) – Sebuah kelompok pemimpin Muslim, Kristen, Yahudi berkumpul di Dewan Rakyat untuk mencela apa yang mereka gambarkan sebagai retorik anti-Islam dan kekerasan diisi oleh kontroversi atas usulan Masjid di dekat Ground Zero di New York.
Para pembicara, yang termasuk seorang pemimpin Muslim, seorang rabi, seorang pendeta Katolik, seorang Quaker (Kelompok Kristen yang tidak memiliki sistem resmi kepercayaan yang menentang perang dan kekerasan), dan beberapa kementerian Protestan, membandingkan dengan sebuah penusukan seorang sopir taksi Muslim dan rencana oleh seorang pastur Protestan Florida untuk membakar sebuah Al-Qur'an dengan penindasan pembangkang keagamaan di era kolonial Boston. Para pemimpin tersebut meminta kerumunan lebih dari 100 orang untuk menempatkan batu-batu di kaki sebuah patung di rerumputan Dewan Perwakilan Mary Dyer, seorang Quaker yang mana kaum Puritan (umat Kristen yang menjunjung tinggi kemurnian) digantung pada tahun 1660 karena membangkang dari sebuah undang-undang yang melarang kaum Quaker dari koloni.
"Kami tidak dapat dan tidak akan tetap diam di hadapan lonjakan rasa takut, dan ancaman terhadap Islam dan Muslim Amerika," kata Pendeta Nancy S. Taylor dari Gereja Tua Selatan, sebuah jamaah Persatuan Gereja di Back Bay, Boston.
"Kami mencela terorisme, yang dilakukan oleh siapa saja. Pada saat yang bersamaan, kami menolak borongan persamaanterorisme dengan Islam ."
Sebagian para partisipan itu menyusun batu-batu tersebut pada patung, beberapa orang membacakan dengan lantang sebuah sumpah, yang ditulis oleh sebuah kelompok ulama, yang mengutuk terorisme namun menegaskan Islam sebagai "sebuah bagian integral dan penting dari mosaik antar agama Amerika."
Pernyataan tersebut, yang dirancang oleh pemimpin keagamaan minggu lalu dan ditandatangani oleh lebih dari 1.400 orang secara online, mendukung kebebasan beragama dan hal semua kelompok keagamaan untuk membangun tempat-tempat peribadatan. Sumpah tersebut tidak mendukung secara spesifik proposal pusat Islam di Lower Manhattan, namun mengutuk "penggunaan sinis kesalahpahaman dan penebaran rasa takut oleh berbagai politisi, komentator, dan outlet media untuk memicu prasangka anti-Muslim untuk politik atau akhir yang lain."
Pendeta Hurmon Hamilton, presiden dari Organisasi Antar Agama Boston dan pastur dari Gereja Roxbury Presbyterian meminta Terry Jones, pastur dari gereja nondenominasional di Gainesville, Florida, untuk mengabaikan rencananya membakar sebuah Al-Qur'an pada 11 September.
"Hentikan. Jangan lakukan hal itu," Hamilton mengatakan. "Bukan begini caranya."
Berdiri di belakang keramaian tersebut, Pendeta Nancy Dann, dari kementerian Gereja Kristen, Florida, memegang sebuah papan tanda yang bertuliskan "Bangga mengenal + Menyayangi Muslim". Anak laki-laki dan perempuannya, berpindah agama memeluk Islam bertahun-tahun yang lalu, Dann mengatakan.
Berpidato di keramaian tersebut, Abdul Cader Asmal, mantan pimpinan Pusat Islam di Wayland Boston dan Dewan Islam New England, menarik sebuah peredaan di antara "Islamophobia", yang ia sebut "sebuah demonisasi Islam yang sulit dipahami dengan baik dan tak tahu malu," dan rasa takut yang rasional dari warga Amerika dan Muslim di manapun akan terorisme.
"Sampai sekarang, Islamophobia dengan menebarkan rasa takut, telah menikmati sebuah tindakan yang sukses," Asmal mengatakan. "Namun sekarang, sebuah jumlah yang semakin meningkat dari warga Amerika yang baik dan berpikiran adil … melambatkan momentum mereka dan datang untuk mendukung … sesama warga negara Muslimnya."
Beberapa pembicara membandingkan penentangan pada Masjid di New York dengan penindasan dari keyakinan mereka sendiri yang bertahan pada masa lalu. Rabi Eric Gurvis dari Kuil Shalom di Newton mengingat bahwa 60 tahun yang lalu, ketika jemaahnya berusaha membeli lahan untuk membangun sebuah sinagog, banyak upaya dibuat untuk menghentikan penjualan.
Kardinal Sean P. O'Malley, uskup Katolik Roma di Boston, tidak hadir pada acara tersebut, namun dalam sebuah blog yang diposkan 13 Agustus, ia menunjukkan dukungan untuk usulan pusat Islam di Manhattan. Ia menulis "Umat Muslim memiliki hak untuk melakukan ibadah agamanya," dan Masjid tersebut "di dekat tempat serangan dapat menjadi sebuah simbol yang sangat penting dari seberapa besar kita menghargai kebebasan beragama di negara ini." (ppt/tlg) www.suaramedia.com