View Full Version
Jum'at, 09 Oct 2015

Keutamaan Penuhi Kebutuhan Hidup dengan Bekerja

Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Diriwayatkan dari al-Miqdam Radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

Tidaklah seorang (hamba) memakan makanan yang lebih baik dari pada hasil usaha tangannya (sendiri).” (HR. Al-Bukhari)

Hadits ini adalah anjuran bekerja untuk mencukupkan nafkah dan kebutuhan diri dan keluarga. Bekerja untuk mendapatkan rizki halal terhitung sebagai ibadah. Hasil yang diperoleh untuk menafkahi diri dan keluarga terhitung sebagai shodaqoh. Karenanya, seseorang tidak boleh meremahkan pekerjaan dan usaha; seperti berdagang.

Diriwayatkan dari Rifa’ah bin Raafi’ Radhiyallahu 'Anhu, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam pernah ditanya tentang pekerjaan yang paling afdhal? Beliau menjawab,

عَمَلَ الرَّ جُلِ بِيَدِهِ وَكُلُّ بَيِعٍ مَبْرُوْرٍ

Pekerjaan seorang dengan tangannya sendiri (hasil jerih payah sendiri) dan setiap jual beli yang baik.” (HR. Al-Thabrani, Al-Bazzar dan dishahihkan al-Hakim rahimahumullah)

[Tonton video “Bekerja Dengan Tangan Sendiri”]

Orang mulia bukanlah orang yang nganggur lalu harta datang dari uluran tangan orang. Tapi orang yang memeras keringatnya dalam pekerjaan halal untuk memperoleh hasil yang halal. Karenanya, para nabi juga bekerja. Nabi Dawud ‘Alihis Salam berprofesi sebagai pembuat baju besi. Nabi Zakariya adalah seorang tukang kayu. Nabi Idris bekerja sebagai penjahit. Bahkan Nabi kita Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam juga dikenal sebagai pedagang.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, Rasul Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

لأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ أَحَدًا ، فَيُعْطِيَهُ أَوْ يَمْنَعَهُ

Lebih baik seseorang bekerja dengan mengumpulkan seikat kayu bakar di punggungnya dibanding dengan seseorang yang meminta-minta (mengemis) lantas ada yang memberi atau enggan memberi sesuatu padanya.” (HR. Bukhari)

Sebaliknya menggantungkan nasib kepada uluran tangan orang adalah tindakan hina dan tercela. Mengemis sangat dicela dalam Islam, Allah mengancam pelakunya dengan kehinaan di akhirat, kecuali orang yang benar-benar terpaksa.

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, ia berkata bahwa Rasul Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ حَتَّى يَأْتِىَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِى وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ

“Tidaklah seseorang meminta-minta (mengemis) pada manusia maka ia akan datang pada hari kiamat tanpa memiliki sekerat daging di wajahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits lain,

مَنْ سَأَلَ مِنْ غَيْرِ فَقْرٍ فَكَأَنَّمَا يَأْكُلُ الْجَمْرَ

“Barangsiapa meminta-minta padahal dirinya tidaklah fakir, maka seakan-akan ia memakan bara api.” (Hadits Shahih Riwayat Ahmad)

Semoga Allah memberkahi pekerjaan dan usaha kita sehingga menghasilkan rizki yang cukup bermanfaat. Wallahu A’lam. [PurWD/voa-islam.net]


latestnews

View Full Version