View Full Version
Rabu, 22 Dec 2010

Orang yang Meyakini Ada Nabi Sesudah Nabi Muhammad, Dia Murtad dari Islam

Kita bersaksi bahwa Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam adalah penutup para Nabi. Maka siapa saja yang berkata ada Nabi sesudahnya, dia murtad (keluar) dari Islam. Karena berarti dia telah mendustakan ayat-ayat Al-Qur’an dan sunnah shahih yang sangat jelas menerangkan bahwa beliau shallallahu 'alaihi wasallam sebagai penutup para nabi.

Allah Ta’ala berfirman,

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi.” (QS. Al-Ahzab: 40)

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ مَثَلِي وَمَثَلَ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِي كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى بَيْتًا فَأَحْسَنَهُ وَأَجْمَلَهُ إِلَّا مَوْضِعَ لَبِنَةٍ مِنْ زَاوِيَةٍ فَجَعَلَ النَّاسُ يَطُوفُونَ بِهِ وَيَعْجَبُونَ لَهُ وَيَقُولُونَ هَلَّا وُضِعَتْ هَذِهِ اللَّبِنَةُ قَالَ فَأَنَا اللَّبِنَةُ وَأَنَا خَاتِمُ النَّبِيِّينَ

Sesungguhnya perumpamaanku dan perumpamaan para nabi sebelumku seperti seorang laki-laki yang membangun rumah, ia tata dan percantik rumah itu. Hanya saja ada satu tempat sebesar batu bata di sebelah pojok. Lalu orang-orang berkeliling di sekitarnya dan terpesona dengan keindahannya. Mereka berkata, ‘Alangkah baiknya kalau batu bata ini diletakkan di tempatkan itu.’ Beliau bersabda, ‘Aku adalah batu bata itu dan aku adalah penutup para nabi’.” (Mutaafaq ‘alaih) dan dalam riwayat Muslim, “Maka aku adalah tempat batu bata tersebut, aku datang dan menjaid penutup para Nabi.

Siapa saja yang berkata ada Nabi sesudahnya, dia murtad (keluar) dari Islam.

Karena berarti dia telah mendustakan ayat-ayat Al-Qur’an dan sunnah shahih yang sangat jelas menerangkan bahwa beliau shallallahu 'alaihi wasallam sebagai penutup para nabi.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda dalam hadits lain,

أَنَا مُحَمَّدٌ وَأَنَا أَحْمَدُ وَأَنَا الْمَاحِي الَّذِي يُمْحَى بِيَ الْكُفْرُ وَأَنَا الْحَاشِرُ الَّذِي يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى عَقِبِي وَأَنَا الْعَاقِبُ وَالْعَاقِبُ الَّذِي لَيْسَ بَعْدَهُ نَبِيٌّ

Aku adalah Muhammad, dan aku adalah Ahmad. Aku juga الْمَاحِي “al-Mahi” yang kekufuran terhapus denganku. Aku adalahالْحَاشِر (pengumpul) yang seluruh manusia dikumpulkan sesudahku. Aku juga juga الْعَاقِبُ (yang terakhir) yang tidak ada nabi sesudahnya.” Dan dalam riwayat Muslim lainnya,

وَأَنَا الْعَاقِبُ الَّذِي لَيْسَ بَعْدَهُ أَحَدٌ

Dan aku الْعَاقِبُ (yang terakhir) yang tidak ada seorang nabi-pun sesudahnya.

فُضِّلْتُ عَلَى الْأَنْبِيَاءِ بِسِتٍّ أُعْطِيتُ جَوَامِعَ الْكَلِمِ وَنُصِرْتُ بِالرُّعْبِ وَأُحِلَّتْ لِيَ الْغَنَائِمُ وَجُعِلَتْ لِيَ الْأَرْضُ طَهُورًا وَمَسْجِدًا وَأُرْسِلْتُ إِلَى الْخَلْقِ كَافَّةً وَخُتِمَ بِيَ النَّبِيُّونَ

Aku diistimewakan dari nabi yang lain dengan enam perkara: Aku diberi jawami’ al-kalim (kalimat ringkas namun padat maknanya), aku dimenangkan dalam peperangan dengan masuknya rasa takut pada musuhku, Dihalalkan ghanimah bagiku, dijadikan bumi buatku suci dan tempat sujud, aku diutus untuk seluruh umat manusia, dan para nabi ditutup oleh aku.” (HR. Muslim)

Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam keluar menuju Tabuk dan menunjuk Ali menggantikannya. Lalu Ali berkata, “Apakah Anda meninggalkanku bersama anak-anak dan kaum wanita?!” Beliau bersabda,

أَلَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ هَارُونَ مِنْ مُوسَى إِلَّا أَنَّهُ لَيْسَ نَبِيٌّ بَعْدِي

Tidakkah engkau ridha menempati poisiku sebagaimana kedudukan Harun dari Musa, hanya saja tidak ada nabi sesudahku.”(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dan dalam riwayat Muslim,

غَيْرَ أَنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي

Hanya saja (bedanya) tidak ada kenabian sesudahku.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمْ الْأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُونَ قَالُوا فَمَا تَأْمُرُنَا قَالَ فُوا بِبَيْعَةِ الْأَوَّلِ فَالْأَوَّلِ أَعْطُوهُمْ حَقَّهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ سَائِلُهُمْ عَمَّا اسْتَرْعَاهُمْ

Bani Israil dahulu dipimpin para Nabi. Setiap meninggal seorang nabi, maka datang nabi lain menggantikannya. Dan sesungguhnya tidak ada nabi sesudahku, yang akan ada adalah para khalifah. Jumlah mereka banyak. Para sahabat bertanya, ‘Apa yang anda perintahkan kepada kami.’ Beliau menjawab, ‘Penuhilah bai’at orang paling pertama, kemudian baru orang setelah itu. Berikan hak mereka, maka sungguh Allah akan meminta pertanggungjawaban mereka dari kepemimpinan mereka’.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Orang-orang pertama dan terakhir akan memberikan kesaksian itu kepada beliau. Yaitu di hari saat Allah mengumpulkan mereka di satu tempat pada hari kiamat. Seorang penyeru akan menyeru mereka dan pandangan menembus mereka. Kemudian mereka tergesa-gesa mendatangi para anbiya’ untuk meminta syafa’at. Ketika sampai kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, mereka bersaksi bahwa beliau adalah rasul terakhir. Mereka berkata kepadanya,

يَا مُحَمَّدُ أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ وَخَاتِمُ الْأَنْبِيَاءِ وَقَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ اشْفَعْ لَنَا إِلَى رَبِّكَ أَلَا تَرَى إِلَى مَا نَحْنُ فِيهِ

Wahai Muhammad, Anda adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Dan sungguh Allah telah mengampuni dosamu yang telah lalu dan akan datang. Berilah kami syafaat (pertolongan) kepada Rabbmu, tidakkah engkau lihat kondisi kami.” (HR. Al-Bukhari)

Berdasarkan semua ini, maka apa yang diklaim oleh sekte Qadiyaniyah (Ahmadiyah) di semenanjung Hindia tentang kenabian Mirza Ghulam Ahmad, telah mengeluarkan mereka dari Islam.

Apa yang diklaim oleh sekte Qadiyaniyah (Ahmadiyah) di semenanjung Hindia tentang kenabian Mirza Ghulam Ahmad, telah mengeluarkan mereka dari Islam.

Universitas Al-Azhar di Mesir, Rabithah ‘Alam Islami di Makkah Mukarramah, seminar OKI yang diselenggaran di Rabithah, Lajnah Daimah (Panitia Tetap) untuk kajian Ilmiah, Fatwa, dan dakwah di Riyadh dan lembaga-lembaga keIslaman di seluruh dunia lainnya telah mengeluarkan keputusan bahwa Qadiyaniyah adalah kelompok yang sudah murtad dari Islam. Parlemen Pakistan tahun 1976 juga telah mengeluarkan keputusna yang sama.

  • Ditarjamahkan oleh Badrul Tamam dari kitab Maa Laa Yasa’ al-Muslima Jahluhu, DR. Abdullah Al-Mushlih dan DR. Shalah Shawi.

latestnews

View Full Version