View Full Version
Rabu, 26 Jan 2011

Jangan Banyak Mengeluh, Bersyukurlah! Kekayaan Hati Yang Hakiki

Segala puji bagi Allah shalawat serta salam semoga tercurah kepada junjungan kita Rasulullah keluarganya para shahabatnya dan yang selalu mengikutinya dengan baik hingga hari kiamat. Amma ba’du:

Para pembaca yang dirahmati Allah Ta’alaa:

Kebanyakan manusia mengira bahwa kekayaan hanyalah dengan mengumpulkan harta berupa uang, saham, property, perdagangan dan lainnya, menurut mereka orang yang tidak demikian bukan orang kaya, akan tetapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memalingkan pandangan kita kepada makna kekayaan yang hakiki dalam sabdanya:

" ليس الغنى عن كثرة العرض، ولكن الغنى غنى النفس".

Artinya: (kekayaan bukanlah banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kekayaan hati).

Berapa banyak manusia yang memiliki bermacam harta yang banyak tetapi sebenarnya dia hidup dalam kefakiran, kita melihatnya selalu takut dan gundah, berusaha menambah hartanya karena takut jatuh miskin, dia bakhil untuk menafkahkan hartanya dalam hal kebaikan supaya hartanya tidak berkurang, bahkan terkadang memutuskan silaturahim gara-gara alasan yang sama, sebagaimana kita lihat dia selalu menoleh kepada harta orang lain, orang seperti ini selamanya hidup fakir, karena dia tidak ridho dengan pembagian Allah Ta’alaa untuknya, dan karena dunia telah menetap dalam hatinya.

Inilah kisah Khubaib bin ‘Adi radhiallahu anhu berkata: ketika itu kami berada dalam satu masjlis lalu datanglah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sedang bekas air membasahi kepalanya lalu sebagian kami berkata: kami melihat anda hari ini sedang senang hati maka beliau menjawab: “benar dan Alhamdulillah”. Kemudian orang-orang menceritakan tentang kekayaan maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لا بأس بالغنى لمن اتقى ، والصحة لمن اتقى خير من الغنى ، وطيب النفس من النعيم" .( صحيح سنن ابن ماجة).

Artinya: (tidak mengapa kekayaan bagi yang bertakwa, dan kesehatan bagi yang bertakwa lebih baik dari kekayaan, dan senang hati termasuk kenikmatan) Shahih Ibnu Majah.

Janganlah menoleh kepada milik orang lain:

Karena Allah Azza wa Jalla berfirman:

(وَلا تَمُدَّنَ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجاً مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَى) (طـه:131).

Artinya: (dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal) [QS Thahaa: 131].

Demikianlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dan ridholah dengan pembagian Allah Ta’alaa untukmu pasti kamu menjadi orang yang paling kaya” artinya adalah: terimalah apa yang diberikan Allah kepadamu, dan dijadikan nasibmu dari rizki, kamu menjadi orang terkaya, karena yang bersikap qana’ah maka dia merasa kaya.

Marilah kita merenungkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

" من أصبح منكم آمنا في سربه، معافى في جسده، عنده قوت يومه، فكأنما حيزت له الدنيا بحذافيرها ".

Artinya: (Barang siapa yang pagi harinya merasa aman di tempat tinggalnya, sehat badannya, memiliki makanan hari itu, seolah dia telah mendapatkan kekayaan dunia).

Jika anda melihat orang yang lebih banyak harta dan anak dari dirimu maka ketahuilah bahwa ada orang yang lebih sedikit harta dan anaknya jadi lihatlah mereka yang dibawahmu, jangan melihat mereka yang diatasmu, demikianlah Nabi shallallahu ’alaihi wasallam mengajarkan kita dalam sabdanya:

"انظروا إلى من هو أسفل منكم، ولا تنظروا إلى من هو فوقكم، فهو أجدر أن لا تزدروا نعمة الله عليكم".

Artinya: (lihatlah orang yang dibawahmu, dan janganlah melihat orang yang diatasmu, karena itu lebih pantas supaya kamu tidak meremehkan nikmat Allah atasmu).

Orang lain dengan urusannya dan anda dengan urusan anda sendiri:

Seorang muslim sadar bahwa dia ada di dunia ini untuk satu tujuan yang agung dan mulia lagi tinggi yaitu beribadah kepada Allah Ta’alaa, dan mengibadahkan manusia kepada Allah Ta’alaa, oleh karena itu dunia tidak boleh melampaui batasnya, karena dunia disisinya hanya wasilah bukan tujuan, diatas makna yang agung inilah Nabi shallallahu ’alaihi wasallam mendidik para shahabatnya radhiallahu anhum.

Inilah kisah Rib’ie bin ’Amir bersama Rustum penguasa Persia sebagai saksi bagi makna yang tinggi dan tujuan mulia ini, saat Rustum meminta dari panglima Sa’ad bin Abi Waqqash radhiallahu anhu untuk mengirim seorang utusan untuk bernegosiasi sebelum dimulai peperangan Qadisiyah, maka beliau mengutus Mughirah bin Syu’bah, ketika itu yang dikatakan kepada Rustum: sesungguhnya kami tidak mencari dunia, ambisi dan keinginan kami hanyalah akhirat, kemudian Sa’ad mengirim utusan lain kepadanya yaitu Rib’ie bin ’Amir, lalu memasukinya sedangkan mereka telah menghiasi majlisnya dengan bantal-bantal bertahtakan emas dan sutra, mereka memperlihatkan intan dan permata yang berharga, dia sedang duduk diatas dipan dari emas, dan Rib’ie masuk dengan pakaian usang, pedang, tameng dan kuda yang kecil, dia terus menaikinya sampai menginjak ujung permadani kemudian turun mengikatnya dengan sebagaian bantal tadi, dan maju dengan senjata dan baju besinya, lalu mereka berkata: letakkan senjatamu, diapun berkata: saya tidak mendatangi kalian, tapi saya mendatangi kalian ketika kalian mengundangku, maka jika kalian membiarkanku begini, maka saya teruskan, jika tidak aku kembali, maka Rustum berkata: izinkan dia, lalu dia menghadap dengan bersandar tombaknya diatas bantal-bantal dan mengoyaknya, seolah mengatakan kepada mereka secara langsung: dunia kalian ini tidak mempedayakan kami apalagi menyibukkan kami, lalu mereka berkata: apa yang membuat kalian datang? Dia menjawab: Allah mengutus kami untuk mengeluarkan siapa yang mau dari peribadatan hamba kepada peribadatan kepada Allah, dan dari sempitnya dunia menuju luasnya akhirat, dari kezaliman agama-agama kepada keadilan Islam, maka kami diutus dengan agama-Nya kepada makhluk-Nya supaya menyeru mereka kepada-Nya, maka siapa saja yang menerima itu maka kami menerimanya dan kami kembali, dan siapa yang enggan menerima kami memeranginya selamanya sampai mencapai janji Allah Ta’aala, mereka bertanya: apa janji Allah? Dia menjawab: surga bagi yang mati saat memerangi mereka yang enggan, dan kemenagan bagi yang tertinggal.

Subhanallah, dalam keadaan fakir hampir tidak mendapatkan dunia sedikitpun berbicara tentang tujuannya termasuk mengeluarkan manusia dari sempitnya dunia menuju luasnya dunia dan akhirat!!.

Sungguh dahulu jika mereka mendapatkan dunia hanya di tangan mereka tidak sampai masuk kedalam hati mereka, oleh karena itu ketika mereka diminta untuk berinfak mereka kerahkan harta tanpa rasa takut fakir atau habis hartanya, pernah Umar  datang dengan separuh hartanya sedangkan Abu Bakar radhiallahu anhu dengan seluruh hartanya ketika ditanya apa yang ditinggalkan untuk keluarganya? Dia menjawab: Allah dan rasul-Nya. Subhanallah, tidak pernah takut fakir. Juga Utsman radhiallahu anhu  pernah mempersiapkan pasukan ketika masa sulit.

Jadi janganlah mengeluh, karena disekitar kita banyak yang kurang beruntung dari kita, sangat disayangkan jika seorang muslim hanya sampai dunia yang fana saja ambisinya dan mengorbankan akhiratnya.

Wallahu A’lam bishowab.

(ar/voa-islam.com)


latestnews

View Full Version