View Full Version
Ahad, 29 Jan 2012

Kebohongan Said Aqil Siraj: Fitnah Ulama untuk Bela Sekte Syi'ah

Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada baginda Rasulillah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.

Kisruh tentang sesatnya syi'ah memanas setelah Menteri Agama, Surya Dharma Ali menilai Syi'ah adalah ajaran sesat. Penilaian ini didasarkan kepada Surat keputusan Bersama MUI dan Kementrian Agama yang masih tetap menjadi acuan pemerintah sampai saat ini.

"Kemarin saya membuka dokumen, ternyata MUI dan kementrian agama menyatakan Syi'ah bukan Islam," ujar Suryadharma. (Harian Tempo, 27 Januari 2012, hal. A7)

Pernyataa Menteri Agama ini membuat panas telinga kaum penghalal nikah mut'ah dan para pendukungnya. Di antaranya, Umar Shahab (Ketua dewan Syura Ahlul Bait Indonesia), Umar Shihab (Ketua Dewan Pimpinan Harian Majelis Ulama Indonesia), Said Aqil Siraj (Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama). Mereka dengan tegas menunjukkan pembelaannya, sebagaimana disebutkan di Harian Tempo.

Said Aqil Pembela NU atau Syi'ah?

Suatu ironi, warga Nahdliyiin sebagai organisasi terbesar di Indonesia yang terlibat konflik langsung dengan pengikut Syi'ah Indonesia karena membela akidah dan keyakinan Islamnya tidak mendapat pembelaan dari ketua umumnya. Said Aqil Siraj, ketua umum PBNU malah berbalik membela Syi'ah mati-matian. Sa'id mengatakan ajaran Syi'ah tidak sesat dan termasuk Islam seperti halnya Sunni. (katanya saat dihubungi Tempo Kamis malam 26 Januari 2012, Dikutip dari situs resmi Syi'ah)

Kontan saja pernyataan Said ini membuat gembira kelompok Syi'ah. Sehingga dalam situs resmi mereka diberitakan penuh kebanggan, dengan judul: "Ketua Umum PB NU: Syiah Tidak Sesat". Sehingga ini menimbulkan pertanyaan besar dalam benar umat Islam, Said Aqil ada di pihak mana? Ahlus Sunnah ataukah Syi'ah?

Lebih parah lagi, Sa'id Aqil sampai berani berdusta demi membela Syi'ah yang mengafirkan Abu Bakar, Umar bin Khathab, 'Aisyah dan sejumlah sahabat ridhwanullah 'alaihim ajma'in. Dalam pernyataannya yang ditulis situs resmi Syi'ah tersebut dikatakan: “Ulama Sunni seberi Ibnu Khazm menilai Syaih itu Islam.”

Kalau kita telusuri pernyataan Ibnu Hazm al-Andalusi terhadap Syi'ah sangat tergambar jelas, Syi'ah termasuk kelompok menyimpang. Bahkan beliau rahimahullah menganggap syi'ah bukan lagi bagian dari Islam.

Beliau berkata:

وأما قولهم ( يعني النصارى ) في دعوى الروافض تبديل القرآن فإن الروافض ليسوا من المسلمين ، إنما هي فرقة حدث أولها بعد موت رسول الله صلى الله عليه وسلم بخمس وعشرين سنة .. وهي طائفة تجري مجرى اليهود والنصارى في الكذب والكفر

"Pendapat mereka (Yakni Nashrani) yang menuduh bahwa golongan Rafidhah (Syi'ah) merubah Al-Qur'an, maka sesungguhnya golongan Syi'ah Rafidhah bukan termasuk bagian kaum muslimin. Karena golongan ini muncul pertama kalinya setelah dua puluh lima tahun dari wafatnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Syi'ah Rafidhah adalah golongan yang mengikuti langkah-langkah Yahudi dan Nashrani dalam melakukan kebohongan dan kekafiran." (Al-Fashl fi al-Milal wa al-Nihal: 2/213)

Beliau rahimahullah berkata lagi:

ولا خلاف بين أحد من الفرق المنتمية إلى المسلمين من أهل السنة ، والمعتزلة والخوارج والمرجئة والزيدية في وجوب الأخذ بما في القرآن المتلو عندنا أهل .. وإنما خالف في ذلك قوم من غلاة الروافض وهم كفار بذلك مشركون عند جميع أهل الإسلام وليس كلامنا مع هؤلاء وإنما كلامنا مع ملتنا

"Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan semua kelompok umat Islam Ahlus Sunnah, Mu'tazilah, Murji'ah, Zaidiyah, bahwa adalah wajib berpegang kepada Al-Qur'an yang biasa kita baca ini. . . . Dan hanya golongan Syi'ah ekstrim sajalah yang menyalahi sikap ini. Dengan sikapnya itu mereka menjadi kafir lagi musyrik, menurut pendapat semua penganut Islam. Dan pendapat kita sama sekali tidak sama dengan mereka (Syi'ah). Pendapat kita hanyalah sejalan dengan sesama pemeluk agama kita." (Al-Ihkam Fii Ushuuli Ahkaam: 1/96)

Beliau berkata pula: "Ketahuilah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam tidak pernah menyembunyikan satu kata pun atau satu huruf pun dari syariat Ilahi. Saya tidak melihat adanya keistimewaan pada manusia tertentu, baik anak perempuannya atau keponakan laki-lakinya atau istrinya atau shahabatnya, untuk mengetahui sesuatu syariat yang disembunyikan oleh Nabi terhadap bangsa kulit putih, atau bangsa kulit hitam atau penggembala kambing. Tidak ada sesuatu pun rahasia, perlambang ataupun kata sandi di luar apa yang telah disampaikan oleh Rasulullah kepada umat manusia. Sekiranya Nabi menyembunyikan sesuatu yang harus disampaikan kepada manusia, berarti beliau tidak menjalankan tugasnya. Barang siapa beranggapan semacam ini, berarti ia kafir. (Al Fashl: 2/274-275)

Orang yang berkeyakinan semacam ini dikafirkan oleh Ibnu Hazm. Dan keyakinan semacam ini dipegang oleh Syi'ah Itsna Asy'ariyah. Pendapat ini dikuatkan oleh guru-guru beliau pada masanya dan para ulama sebelumnya.

Demikianlah Said Aqil Siraj yang sangat keras kepada musuhnya Syi'ah, yaitu mereka yang dituduh Salafi Wahabi yang masih mengakui kekhilafahan Abu Bakar dan Umar Radhiyallahu 'Anhuma, dan memuliakan Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallahu 'Anha. Tapi terhadap Syi'ah yang menghina dan mengafirkan Abu Bakar, Umar, Aisyah dan sejumlah sahabat, yang hampir semua bentuk ibadahnya berbeda dengan Sunni, Sa'id Aqil malah membela mati-matian. Bahkan sampai berdusta atas nama seorang ulama Islam. Tidakkah Said Aqil pernah membaca sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam yang mencela berdusta dan akibat yang akan ditimpakan:

إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يُكْتَبَ صِدِّيقًا وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ كَذَّابًا

"Sesungguhnya kejujuran menunjukkan kepada kebaikan. Dan sesungguhnya kebaikan menunjukkan kepada Surga. Dan sesungguhnya seorang laki-laki bersungguh-sungguh untuk jujur, sehingga dicatat di sisi Allah sebagai 'Shiddiq' (orang yang sangat jujur). Dan sesungguhnya dusta menjerumuskan kepada perbuatan dosa. Dan perbuatan dosa menjerumuskan kepada Neraka. Dan sesungguhnya seseorang berdusta, dan membiasakan diri berdusta sehingga dicatat di sisi Allah sebagai 'Kadzdzab' (pendusta)." (HR. Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu 'Anhu)

Dalam riwayat Al-Darimi, Umar bin al-Khathab Radhiyallahu 'Anhu menyebutkan, bahwa yang merusak dien (agama) ini adalah ulama yang menyimpang, munafik yang mengobok-obok (penafsiran) Al-Qur'an, dan pemimpin penyesat. Apakah Said Aqil termasuk salah satunya? Wallahu Ta'ala A'lam. [PurWD/voa-islam.com]


latestnews

View Full Version