View Full Version
Selasa, 10 Feb 2026

Nikmatnya Taat dan Sengsaranya Maksiat

Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah ﷺ  dan keluarganya.

Imam Ibnul Jauzi berkata dalam Shaidul Khathir:           

كُلُّ شَيْءٍ خَلَقَهُ اللهُ تَعَالَى فِي الدُّنْيَا فَهُوَ أُنْمُوذَجٌ فِي الْآخِرَةِ، وَكُلُّ شَيْءٍ يَجْرِي فِيهَا أُنْمُوذَجٌ لِمَا يَجْرِي فِي الْآخِرَةِ

“Segala sesuatu yang Allah Ta‘ala ciptakan di dunia ini hanyalah contoh (gambaran awal) dari apa yang ada di akhirat. Dan segala peristiwa yang terjadi di dunia ini juga merupakan contoh dari peristiwa yang akan terjadi di akhirat.”

Adapun makhluk yang ada di dalamnya, sebagaimana perkataan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma:

لَيْسَ فِي الْجَنَّةِ شَيْءٌ يُشْبِهُ مَا فِي الدُّنْيَا إِلَّا الْأَسْمَا

Tidak ada sesuatu pun di surga yang menyerupai apa yang ada di dunia kecuali namanya saja.” Dan yang demikian itu karena Allah Subhanahu wa Ta'ala (memberi) motivasi / dorongan dengan kenikmatan dan (memberi) warning /menakut-nakuti dengan adzab dan siksaan.

Adapun peristiwa yang terjadi di dunia, maka setiap orang zalim pasti dihukum dengan segera atas kezalimannya sebelum hukuman akhirat, demikian pula setiap pelaku dosa atas dosanya. Inilah makna firman Allah Ta‘ala:

مَنْ يَعْمَلْ سُوءاً يُجْزَ بِهِ

Barang siapa mengerjakan kejahatan, niscaya ia akan dibalas dengannya.” (QS. an-Nisā’: 123)

Terkadang seorang pendosa melihat jasmani dan hartanya baik-baik saja, lalu ia mengira tidak ada hukuman. Padahal, kelalaiannya terhadap hukuman yang telah menimpanya itu sendiri adalah sebuah hukuman.

Para ahli hikmah berkata:

الْمَعْصِيَةُ بَعْدَ الْمَعْصِيَةِ عِقَابُ الْمَعْصِيَةِ، وَالْحَسَنَةُ بَعْدَ الْحَسَنَةِ ثَوَابُ الْحَسَنَةِ

Maksiat setelah maksiat adalah hukuman atas maksiat, dan kebaikan setelah kebaikan adalah pahala dari kebaikan.

Kadang hukuman yang disegerakan itu bersifat maknawi (batin). Sebagaimana kisah salah seorang pendeta Bani Israil yang berkata:

“Wahai Rabbku, betapa sering aku bermaksiat kepada-Mu, namun Engkau tidak menghukumku?”

Maka dijawab kepadanya:Betapa sering Aku menghukummu, tetapi engkau tidak menyadarinya. Bukankah Aku telah mencabut darimu kenikmatan bermunajat kepada-Ku?

Barang siapa merenungkan jenis hukuman ini, niscaya ia akan mendapati bahwa ia selalu mengintai. Hingga Wahb bin al-Ward pernah ditanya:

أَيَجِدُ لَذَّةَ الطَّاعَةِ مَنْ يَعْصِي؟

Apakah orang yang bermaksiat masih bisa merasakan kenikmatan ketaatan?

Ia menjawab:

وَلَا مَنْ هَمَّ

Tidak, bahkan orang yang hanya berniat bermaksiat pun tidak.

Betapa banyak orang yang mengumbar pandangannya kepada yang haram sehingga ia diharamkan dari kejernihan bashirah(penglihatan batin)-nya. Atau lisannya berbicara sembarangan, lalu Allah menghalanginya dari kejernihan hati. Atau memilih makanan yang syubhat (tidak jelas halal haramnya) sehingga hatinya menjadi gelap, dan diharamkan dari shalat malam serta manisnya bermunajat, dan lain sebagainya. Dan masih banyak contoh lainnya.

Disebutkan dalam hadits Qudsiy, Allah Ta‘ala berfirman:

إِنَّ النَّظْرَةَ سَهْمٌ مِنْ سِهَامِ إِبْلِيسَ مَسْمُومٌ، مَنْ تَرَكَهَا من مَخَافَتِي أَبْدَلْتُهُ إِيمَانًا يَجِدُ حَلاوَتَهُ فِي قَلْبِهِ

Pandangan kepada wanita adalah panah n dari panah-panah setan yang beracu. Barang siapa meninggalkannya karenatakut kepada-Ku, Aku akan memberi ganti untuknya dengan iman yang ia rasakan manisnya di dalam hatinya.” (HR. Al-Hakim dan al-Thabrani)

Nabi ﷺbersabda:

وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ

Dan sungguh seorang hamba bisa terhalang dari rezeki karena dosa yang ia lakukan.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah, dan disahihkan oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim, dan Al-Bushiri berkata dalam Az-Zawa'id: Sanadnya hasan)

Ini adalah perkara yang diketahui oleh orang-orang yang senantiasa memuhasabah (introspeksi) diri. Sebaliknya, orang yang bertakwa kepada Allah Subahanahu wa Ta'ala akan menemukan balasan yang baik atas ketakwaannya dengan segera.

Orang yang memiliki mata hati, bila merenungkan hal ini, akan melihat balasan dan memahaminya. Sebagaimana perkataan al-Fudhail:

إِنِّي لَأَعْصِي اللهَ عَزَّ وَجَلَّ فَأَعْرِفُ ذَلِكَ فِي خُلُقِ دَابَّتِي وَجَارِيَتِي

“Sungguh aku telah bermaksiat kepada Allah, lalu aku melihat akibatnya pada akhlak hewan tungganganku dan pembantuku.”

Diriwayatkan dari ‘Utsman an-Naisaburi bahwa tali sandalnya putus ketika ia berangkat shalat Jumat, sehingga ia tertunda sesaat untuk memperbaikinya. Ia berkata:

مَا انْقَطَعَ إِلَّا لِأَنِّي مَا اغْتَسَلْتُ غُسْلَ الْجُمُعَةِ

Sandal itu tidak putus kecuali karena aku tidak mandi Jumat.

Seandainya seseorang meninggalkan maksiat karena Allah, niscaya ia akan melihat buahnya. Demikian pula ketika ia melakukan ketaatan. Sebagaimana disebutkan dari perkataan ahli hikmah:

إِذَا ضَاقَتْ بِكُمُ الْأُمُورُ، فَتَاجِرُوا مَعَ اللهِ بِالصَّدَقَةِ

“Jika kalian mengalami kesempitan, maka berdaganglah dengan Allah melalui sedekah.” Yakni berinteraksilah dengan-Nya untuk memperoleh keuntungan yang disegerakan.

Kami telah melihat orang-orang yang memanjakan diri dengan perkara yang dilarang syariat demi kenyamanan sesaat, namun keadaan mereka justru berbalik menjadi kesempitan dan tujuan mereka menjadi rusak. Wallahu a’lam. [PurWD/voa-islam.com]


latestnews

View Full Version