View Full Version
Senin, 19 Oct 2009

Prinsip-prinsip Islam Dalam Kehidupan (12)

Tauhid Asma' wa Shifat

Menetapkan tanpa menyerupakan dan menyucikan tanpa meniadakan

Kita mengimani semua nama-nama dan sifat-sifat Allah yang disebutkan dalam al-Qur'an dan hadits shahih tanpa menyerupakan dan menafikan (meniadakan). Pengakuan terhadap sifat adalah bagian dari pengakuan terhadap dzat. Sebagaimana kita menetapkan Dzat Allah tanpa bertanya bentuk dan hakikatnya, kita juga menetapkan sifat-Nya tanpa bertanya bentuk dan hakikatnya. Inilah kebenaran yang diyakini oleh para ulama salafush shalih.

Pendapat ulama salaf adalah pendapat yang pertengahan (moderat), antara kubu yang berlebihan (ekstrim) dalam masalah itsbat (penetapan) sehingga berujung pada penyerupaan dan pemisalan, dan kubu yang berlebihan dalam menyucikan sehingga akhirnya menyimpangkan dan meniadakan.

Allah Ta'ala berfirman, QS. Asy-Syura: 11,

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat."

Allah meniadakan permisalan dan penyerupaan dalam sifat-sifat-Nya melalui firman-Nya (artinya), "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia" dan meniadakan penyimpangan dan peniadaan melalui firman-Nya (artinya), "Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat."

Allah memerintahkan kita agar berdoa dengan menyebut Asmaul Husna (Nama-nama Allah yang Maha indah) dan memerintahkan kita agar meninggalkan orang-orang yang menyimpang dalam nama-nama-Nya baik dengan menyimpangkan makna atau meniadakannya. Allah Ta'ala berfirman,

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

"Hanya milik Allah Asmaul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaaul Husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan." (QS. Al-A'raaf: 180)

Allah berfirman, QS. An-Nahl: 74,

فَلَا تَضْرِبُوا لِلَّهِ الْأَمْثَالَ إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

"Maka janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan yang diserupakan dengan Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."

Allah berfirman, QS. Thaahaa: 5,

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

"(Allah) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas `Arsy."

Imam Malik dan ulama lainnya ketika ditanya tentang makna istiwa' (semayam), menjawab, "istiwa' sudah jelas (maknanya), bagaimana caranya tidak diketahui, mengimaninya adalah wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid'ah."

Allah Ta'ala berfirman tentang ketinggian-Nya atas makhluk-Nya,

وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ

"Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-An'am: 50) dan berfirman yang lain,

يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

"Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka). (QS. An-Nahl: 50).

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "ketika Allah telah selesai menciptakan, Dia menuliskan dalam sebuah kitab yang ada di sisi-Nya di atas 'Arsy; "sesungguhnya rahmat-Ku mendahului murka-Ku." (Muttafaq 'Alaih). (PurWD/voa-islam)

Bersambung . . . .  Insya Allah

Klik DI-SINI untuk membaca edisi sebelumnya


latestnews

View Full Version