View Full Version
Rabu, 17 Sep 2014

Menggugat Peran Cendikia untuk Mengusung Perubahan di Negri Ini

Kaum muslimin yang dirahmati Alloh Jalla wa ‘Alaa,

Syekh Salman Al Audah, ulama besar dari Arab Saudi, saat menulis As-ilatuts Tsaurah, menyampaikan kebingungannya kepada para cendekia (mutsaqqafin) dalam menghadapi perubahan besar, cepat dan massif. Perubahan yang dikenal dengan nama revolusi tersebut memang pantas membuat banyak orang menjadi amat shock (terkejut). Tidak terkecuali mereka yang dianggap pakar (keahlian) bidang-bidang spesifik jika menghadapi sebuah kenyataan yang berada di luar perhitungan biasanya.

Apalagi jika perubahan itupun menyentuh kehidupan mereka. Syekh Salman menyebut paling tidak ditemukan dua buku yang ditulis pasca Perang Dunia II dan buku bertema sama tentang kebingunan para pakar (cendikia) setelah revolusi kemerdekaan Aljazair.

Sangat bisa jadi, jika para pakar itu sebenarnya hanya sekedar pengamat realita dan bukan tergolong pelaku perubahan itu sendiri. Bahkan lebih menarik lagi apabila para cendikia malah termasuk orang yang anti dengan perubahan. Maka sangat wajar saat perubahan besar yang terjadi justru kebingungan.

Lebih dari itu, kemungkinan wujudnya ketiadaan prinsip menyangkut keyakinan dasar, metode permanen dan tujuan tertinggi pada diri seorang cendikia juga dapat menjadikan orang tersebut bersikap pragmatis dan opurtunis.

Keselamatan hidup bagi kelompok orang semacam ini hanya berarti kemapanan (status quo), keamanan (dari gangguan) dan kenyamanan (menikmati keadaan) belaka. Perkara hidup sederhana, menengah hingga mewah, semuanya tidak kita jadikan pokok bahasan karena itu hanya masalah pendapatan saja. Yang hendak kita bahas adalah prinsip hidupnya yang hanya membela dan menyempurnakan keadaan (realitas positif) melalui pembenaran dan sikap kritis yang dangkal dan terbatas.

Tentu saja, sangat langka kita bsa menemukan orang yang bisa melepaskan diri dari tendensi pribadi, keluarga, kelompok, bangsa atau Negara. Mesti itupun tidak berarti tidak ada. Namun sebagai insan ilmiah apalagi pandai dalam soal agama, seyogyanya hanya tunduk pada pengetahuan yang dipahaminya. Dalam ungkapan (mahfuzhot) disebutkan:

اَلعِلْمُ اِمَـــامُ اْلعَمَلِ

“Pengetahuan adalah pemimpinnya perbuatan”

Faktanya, perbuatan seseorang atau suatu kaum akan sangat dipengaruhi dua (2) hal yaitu motivasi dan orientasinya dimana kedua hal itu juga bergantung pengetahuan yang dimilikinya. Jadi kalau kita kaitkan dengan hadits nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wa sallam tentang urgensitas niat dalam amal, maka motivasi dan orientasi merupakan rukun dari niat itu sendiri.

Sehingga jelas peran yang amat penting dari pengetahuan dalam membimbing pembentukan perbuatan akan mengarahkan pada kwantitas maupun kwalitas perbuatan itu sendiri. Dalam konteks yang kita bahas, revolusi yang justru melahirkan kebingungan para cendikia menunjukkan kurangnya peran para cendikia dalam mengarahkan perubahan.

Jika cendikia kita artikan lebih spesifik sebagai Ahlul Ilmi, maka para pemegang amanah ‘ulumul Syar’i (yakni ‘Ulama) sudah semestinya sejak awal terlibat untuk mengarahkan ummat Islam kepada perubahan dari keadaan (situasi-kondisi) apa adanya menjadi keadaan yang seharusnya menurut pandangan Yang Maha Memiliki Ilmu (Al ‘Aliim) yakni Alloh Azza wa Jalla.

Menurut Fuad Hussen, seorang aktivis Yordan yang pernah dipenjara bersama tokoh-tokoh ‘Alim yang concern terhadap Jihad kaum muslimin global, pemetaan realitas ummat hari ini tidak jauh dari penjabaran apa yang digambarkan sebagai berikut:

1. Kondisi umat tidak berjalan di atas rel Syariat.

2. Wujudnya kepemimpinan umat (jamaah, organisasi, masyarakat bahkan Negara) yang tidak menegakkan syariat Islam dan malah dikendalikan musuh-musuh Syari’at.

3. Kekayaan negeri muslim dieksploitasi oleh musuh-musuh Islam dimana dengan perampokan sumber daya alam negri-negri muslim itu, para musuh Islam justru memperoleh amunisi dan logistik dalam memerangi Islam dan kaum muslimin.

4. Tidak ada upaya serius yang dilakukan umat untuk keluar dari problematika ini. Kalaupun ada motto dakwah dan jihad, maka faktanya pada kebanyakan jama’ah hanya menjadi slogan tanpa kerja nyata. Bahkan untuk beberapa kasus, bisa jadi malah dijadikan ‘mantera’ dalam rekruitmen anggota.

5. Adanya rekayasa musuh agar umat selalu terbelakang secara ekonomi dan teknologi 6. Partai dan ormas Islam yang mengklaim berjuang atas nama Islam dipastikan telah gagal total (alias Ga-Tot).

7. Arogansi dan ketamakan musuh semakin menjadi-jadi.

Sementara kondisi diatas diperumit dengan kondisi tandzim (jama’ah) dan partai politik di negeri Arab (dan negri-negri mayoritas muslim lainnya) dinilai gagal dalam menjawab kebutuhan dan cita-cita umat. Mereka gagal membuat “perencanaan” dan agenda yang jelas. Program yang dikerjakan tidak mampu berinteraksi dengan realitas.

Para pemimpinnya bahkan terjebak pada langkah-langkah pragmatis dengan membuat kesepakatan-kesepakatan dengan para penguasa dan tidak lagi berusaha mengubah penyimpangannya. Sebagian bahkan memaksakan kompromi-kompromi hal prinsip yang semestinya bersifat baku (tauqify) dalam akidah. (ringkasan bab ke-5 dari buku “Az-Zarqawy, Al-Jail ats-Tsani lil-Qaidah”)

Ada hal yang menarik bahwa ditemukannya titik kesamaan konklusi antara seorang ‘alim semisal Syekh Salman Audah dengan para pemimpin Jihad Global dalam hal menentukan langkah awal perubahan besar, massif dan total dalam makna revolusi (Tsauroh). Kelompok hamba Alloh terbaik yang ada saat ini -kama nahsabuhu- berpendapat bahwa kerja besar (tsauroh) harus diawali dengan kerja-kerja pemikiran, masya Alloh!

Begitu juga dengan apa yang menjadi rangkaian tahapan perjuangan penegakkan (Iqomatul) Hijrah yang digagas Prof, DR. Ismail Raji Al Faruqi rohimahulloh dan disebutnya sebagai agenda Tabyiin , yaitu:

1. Educating the minds.

2. Reforming the hearts.

3. Organizing the arms and

4. Estabilishing Islamic’s Order and law.

Pemikiran akan menjadi hidup dan bergerak di alam realitas saat ia mendapat suplai ‘darah’ yang memadai. Pemikiran para Qiyadah jihad terbukti efektif ketika disokong pengorbanan penuh Qiyadah bersama para Mujahid yang menjadi tentaranya. Sebagaimana pemikiran Ismail Raji Al faruqi kemudian menyebar dan melahirkan banyak lembaga serta para pemikir Islam karena pengorbanan ‘darah’ dari beliau sendiri yang ditemukan terbunuh di apartemennya bersama sang istri tercinta.

Kata kunci disana adalah keberanian berkorban, mengorbankan diri bagi ide-ide luhur yang syar’i. Tanpa itu, maka hasil pemikiran hanya mengkristal pada artikel-artikel jurnalistik atau buku-buku ilmiah. Pemikiran kristalistik ini akan disimpan dalam museum akademik sebagai fosil-fosil pengetahuan yang dipamerkan dalam diorama kehidupan.

Para cendikia yang merangkai tulisan tersebut hanya akan disebut nama dalam kutipan ilmiah berikutnya tanpa doa dari para pembaca dan penggunanya. Kebangkrutan yang indah namun kosong jiwa.

Mungkin itulah mengapa ‘SK Pengangkatan’ Nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wa sallam menjadi Rasululloh, yakni yang termaktub dalam Al Qur-an Surat Al ‘Alaq dimana secara eksplisit terlihat merangkum hikmah disatukannya antara etos Tauhid, Ilmu dan Darah, sebagai esensi pokok kemanusiaan, wallohu a’lam.

Alloh Azza wa Jalla berfirman:

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yyang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. 96; 1-5)

Hal ini juga mengapa Iblis (syetan) melakukan strategi penetrasi fisik dan penguasaan manusia sebagai musuh abadinya melalui darah agar bisa dilepaskan fitrah ketauhidan manusia dan menggulungnya dalam kesia-siaan pengetahuan yang telah dimilikinya. Perhatikan hadits Nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari dan Shahih Muslim, dari Anas, dia berkata, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنَ الإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ

"Sesungguhnya setan mengalir dalam tubuh manusia sebagaimana mengalirnya darah".

Dengan begitu target Iblis membuat kufur manusia dengan keyakinan, ucapan dan perilaku syirk (menyekutukan Alloh Subhanahu wa Ta’ala) dan menenggelamkan manusia dalam kejahiliyahan (kebodohan permanen dan akut) terhadap Sifat-sifat Alloh dan Syari’atNya, menjadi lebih mungkin dilakukan oleh Iblis.

Tentu saja, penetrasi fisik syetan tidak cukup dan Alloh Azza wa Jalla menginformasikan kepada kita bahwa syetan dan bala tentaranya itu juga melakukan aksi-aksi nyata di lapangan yang berporos pada aksi intimidasi (takhwiif) dan apostasi (tadhliil).

Disinilah kita memahami kenapa kebanyakan kaum cendekia hanya mau sebagai pengamat atau pembicara dan bukan pelaku perubahan. Karena mereka takut menjadi korban penindasan penguasa status quo dan hukaman dari sistem bathil yang terlanjur mapan.

Disisi lain para pelaku perubahan juga terancam ‘keluar jalur’ (menyimpang/inhirof) jika tidak dibimbing dengan pengetahuan yang benar dan memadai. Siklus seperti inilah yang pantas kita sebut sebagai The Satanic Circle dimana seolah tidak ada jalan keluar dari labirin kebingungan yang dibangun Iblis bersama para pengikutnya.

Maka dari itu, Alloh Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang menjanjikan Syurga bagi orang yang berupaya mencari keridhoanNya dengan tulus dan benar. Agar manusia –terutama kaum cendikia- pertama tercerahkan untuk berbuat nyata dalam menyelamatkan manusia lainnya sekalipun ia harus berkorban darah (nyawa).

IA juga mengancam dengan Neraka-Nya agar para pelaku perubahan yang semestinya dipimpin para cendikia itu tidak meyimpang dari jalan yang benar. Penyimpangan dalam mengabdi kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala itulah yang diingatkan Rasululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam sebagai Bid’ah dimana bid’ah ini mengakibatkan seorang mukmin terancam masuk neraka dengan sekadar bid’ah yang dilakoninya.

Jika para cendikia terus terpasung rasa takutnya hingga tidak mau menghasung perubahan Islami maka mereka diancam Alloh Azza wa Jalla sebagai berikut:

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati, kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itulah Aku menerima taubatnya dan Aku-lah Yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” [Al-Baqarah : 159 - 160]

Alloh Azza wa Jalla hanya mau menerima taubat mereka jika mereka bergerak melakukan perbaikan (Harokatul Ishlah) dan menyelenggarakan penjelasan kebenaran dengan makna dan hakekat yang benar serta komprehensip. Prof. DR. Ismail Faruqi menyebutnya dengan Tabyiin dimana tahapan-tahapannya sudah kami kemukakan diatas.

Ketidak sertaan kaum cendikia dalam perubahan beresiko besar bagi penggerak di lapangan yang berbuat cenderung pragmatis. Penyimpangan yang terbentuk karena kurangnya pengetahuan akan menjadikan gagalnya pencapaian tujuan ideal perubahan. Dan bukan hanya itu, penyimpangan yang terlembagakan dalam pergerakan oleh para aktivis perubahan akan melahirkan sebuah tradisi (konvensi) dan metode (minhaj) bid’ah yang menyelisihi kebenaran padahal mereka mengklaim sedang memperjuangkannya. Wa’iyyadzubillah!  (Abu Fatih/Voa Islam.com)


latestnews

View Full Version