View Full Version
Rabu, 09 Dec 2015

Donald Trump : Saya Akan Melarang Seluruh Muslim Masuk Amerika

WASHINGTON (voa-islam.com) – Calon presiden dari Partai Republik Donald Trump menyatakan, bahwa ia secara “total” akan melarang Muslim masuk Amerika Serikat. Menurut Trump, pengikut agama dengan pertumbuhan tercepat di dunia itu, para penganut Islam, memiliki iman yang berakar pada kebencian dan kekerasan, kata Trump, Senin, 7/12/2015.

Pernyataan Donald Trump itu, langsung menyulut kemarahan dan kritik oleh kandidat lainnya dari kedua belah pihak dari kubu Republik dan Demkrat. Pernyataan Donald Trump itu, menandai meningkatnya eskalasi terbaru dari retorika anti-Muslim dan anti-imigran yang berdampak negatif bagi pencalonannya.

Pernyataan Donald Trump itu, hanya kurang dari 24 jam setelah Presiden Amerika Barack Obama di Oval Office menyatakan mendesak toleransi antara umat beragama di Amerika, dan ia menegaskan perang melawan teroris tidak boleh didefinisikan sebagai perang antara Amerika dan Islam.

Tetapi, saat berlangsung kampanye di South Carolina, Senin malam, Trump yang mendapat sambutan dan dukungan yang sangat meriah saat ia menegaskan idenya, dan di tengah kerumunan pendukungnya itu, Trump mengatakan bahwa larangan terhadap Muslim memasuki Amerika, merupakan “akal sehat”, dan teman-teman Muslimnya setuju dengan dia.

Kami tidak punya pilihan," kata Trump ditengah sorak-sorai para pendukungnya.

“Kami tidak punya pilihan. Kami tidak punya pilihan," teriak Trump.

Kampanye Donald Trump, sangat dikawatirkan oleh para pemimpin Partai Republik, karena Trump selama berbulan-bulan dengan retorikanya terus memecah-belah, dan bisa meracuni para pendukung mereka. Trump secara luas menggambarkan imigran ilegal (Muslim) sebagai penjahat dan pelaku kekerasan, dan ia menyerukan deportasi langsung  11 juta imigran gelap tinggal di Amerika Serikat, ujarnya.

"Kita harus bertanya apa yang hendak dicapai oleh Donald Trump selanjutnya, saat ia berhasil menciptakan fanatisme anti-Muslim?” kata Ibrahim Hooper, Direktur Komunikasi Nasional di Dewan Hubungan Amerika-Islam.

"Dimana ada yang tersisa baginya memimpin Amerika? Apakah kita berbicara kamp interniran? Apakah kita berbicara solusi akhir untuk Muslim? Saya merasa sepertikembali pada 1930-an," tambah Hooper.

Donald Trump terus membuat kontroversi dalam kampannyenya, terakhir di South Carolina, ketika dalam kampanye itu, tanpa tedeng aling-aling, Trump menumpahkan kebenciannya terhadap Muslim. Bahkan, ia menyatakan melarang Muslim secara “total” masuk ke Amerika.

Retorika yang penuh kebencian itu, justru mendapat sambutan yang hangat dari kalangan pendukungya. Trump menciptakan Islam “phobia”, dan seperti Marine Le Pen di Prancis, menang telak dengan retorika kebencian terhadap Muslim.

Memang, dampak dari serangan di San Bernadino, California, yang menewaskan 17 orang, berdampak sangat negatif bagi Muslim, dan kebencian terhadap Islam dan Muslim bertambah meningkat. (afgh/aby/voa-islam.com)

 


latestnews

View Full Version