View Full Version
Senin, 23 May 2016

Mendedah Apologik Rasional Ala HTI

Oleh: Landung Prakoso (Pengamat Gerakan Islam Kontemporer)

Secara sunatulloh sebuah gerakan dakwah Islam yang konsisten dengan khithoh perjuangan mengikuti manhaj dakwah Rasullullah SAW akhirnya menghadapi masa-masa ujian. Untuk membuktikan seberapa pengorbanan, keseriusan, keistiqomahan, kesabaran dan keikhlasan benar-benar terpatri dalam relung sanubari terdalam para pengembannya.

Sebuah karakter pengemban barisan pejuang Islam yang tidak pernah gentar oleh godaan dunia dan ketakutan akan datangnya kematian sebagai konsekuensi dari perjuangan. Sudah menjadi tabiat perjuangan dalam kerangka apapun apalagi untuk menegakkan kebenaran agama Alloh Azza Wa Jalla pasti membutuhkan pengorbanan. Sebagaimana layaknya para mujahidin yang menyadari sepenuhnya memenuhi janji sebagai seorang mukmin dengan harta dan jiwanya. Berharap berjuang tanpa pengorbanan apalagi membangun euforia kemenangan dengan jalan aman pada hakekatnya bentuk pengingkaran terhadap sababiyah perjuangan.

Sepanjang sejarah perubahan masyarakat sudah pasti selalu ada orang-orang yang menjadi syuhada bagi kemuliaan perjuangan. Prolog epilog perjuangan ini cukup sesuai menggambarkan suasana perjuangan saudara-saudara kita HTI saat ini. Di tengah intensifnya kajian yang tengah dilakukan pemerintah melibatkan Jaksa Agung, Polri dan Mendagri. Meski sementera ini pemerintah masih fokus dengan isu PKI yang merepresentasikan gesekan antar jenderal penuh permainan operasi intelijen berbahaya. Bagi masyarakat pertanyaannya adalah kapan negeri ini dikelola oleh para penguasa yang independen. Bebas dari dikte kepentingan asing dan aseng.

Dikelola dengan penuh kejujuran. Bukan penuh dalih. Seolah-olah penguasa sudah putus urat syaraf akal sehatnya mengurai benang kusut problem kebangsaan dan kenegaraan negeri kaya raya dengan potensi sumber daya alam ini. Problem yang di mata penguasa disikapi dengan program bela negara. Kering oleh isi tetapi sarat kepentingan pesanan. Tidak bisa dipungkiri para pengemban dakwah berada dalam pusaran medan perjuangan penuh dengan intrik dan fitnah. Hingga membutuhkan kecerdasan dan keberanian menembus kegelapan dakwah. Bergelap gelap dalam terang. Dan berterang terang dalam gelap.

Tak ayal, dinamika dakwah tersebut disadari atau tidak sedemikian rupa menjadikan gerakan dakwah islam seperti HTI harus konsisten dengan khithoh perjuangannya. Bukan menjadi gerakan yang sarat dengan manuver dakwah abu-abu. Jelas apa yang diyakini dengan apa yang diyakinkan kepada para pengembannya. Tidak membuat ruang interpretasi kepada para anggotanya dengan tafsiran-tafsiran pembenaran atas nama menjaga amniah dakwah.

Dikawal oleh para petinggi dan pemimpin yang bisa dan sembodo memberi keteladanan pada pentas gelanggang dakwah di atas panggung maupun di dalam penjara. Bukan seperti halnya kodok yang nyaring di saat penghujan namun tidak bersuara saat menyelam. Karena hal itu sebenarnya tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan perjuangan dakwah di bawah dentuman meriam, rudal, dan metraliur rezim laknatulloh Bashar Asaad kepada para mujahidin yang mukhlis. Atau para aktivis islam lain yang sudah merasakan indahnya bui sebagai madrasah perjuangan.

Di mana gerangan nurani dan insting pejuang sejati diletakkan. Ironisnya pula penyikapan dakwah abu-abu seperti itu tidak disandarkan kepada pemahaman secara faktual dan jeli tentang bagaimana realitas konstelasi pengambilan keputusan penguasa sebenarnya menyangkut eksistensi entitas dakwah seperti HTI. Sepertinya pemahaman konstelasi tersebut tidak pula tertransformasikan secara utuh dan merata kepada seluruh pengembannya. Entah karena paham atau tidak situasi kekinian pasca santernya desakan pembubarannya oleh Banser yang lebih mengedepankan okol daripada akal.

Disadari atau tidak kondisi ini telah memunculkan kekhawatiran berlebihan yang termanifestasi dalam banyak ragam statement para petingginya. Hingga hadir wacana semacam pembenaran berbahaya terhadap ide-ide perjuangan yang diadopsi dengan berusaha membangun penyesuaian istilah-istilah dengan ide yang dibenturkan. Semacam menjadi “Apologik Rasional” demi menjaga suasana ancaman berbahaya menjadi reda. Hal yang sangat berbeda dengan isi pledoi seorang pengemban dakwah HT di negara lain saat diputuskan masuk ke dalam bui namun tetap konsisten menyampaikan kebenaran tanpa tedeng aling-aling. Begitukah karakter pengemban dakwah yang diinginkan saat tensi semakin menunjukkan kecenderungannya meninggi.

Hal lain yang memprihatinkan adalah kenapa kondisi yang dihadapi oleh HTI kurang dirasakan denyut nadinya oleh saudara-saudara perjuangan lain. Bisa saja ini dianggap sebagai seleksi alamiah siapa yang benar-benar berani menjadi pembela dan yang bukan. Namun bagi HTI sendiri nampaknya ini ujian sekaligus hikmah dari seberapa kualitas ukuwah islamiyah yang selama ini dibangun. Benar-benar sebuah ukhuwah yang lahir batinkah atau sekedar lipstik. Perlu introspeksi diri di tengah trend foto bersama dan berselfi ria dengan para tokoh dari berbagai kalangan sebagai legitimasi dukungan riil.

Harusnya benar-benar ukhuwah yang dibangun di atas kesepahaman atas strategi dan arah perjuangan yang pada akhirnya diraih bersama. Tidak harus selalu ingin tampil di depan dan memimpin. Memiliki dada yang lapang, kepekaan politik yang tinggi, merangkul seluruh entitas pejuang dari berbagai potensi umat beragam ke dalam satu kekuatan yang diperhitungkan. Seperti bah air diam diam menghanyutkan. Sepi senyap melahirkan kekuatan perubahan yang tidak terprediksikan semula. Kadangkala yang masih mengganjal dalam kerangka keyakinan, adalah bagaimana HTI cerdas mengelola prinsip doktrin merasa berada dalam pilihan jalan perjuangan yang diyakini paling benar di tengah membangun kekuatan berbagai elemen umat.

Jika dicermati secara jeli bahwa realitas konstelasi dakwah yang dihadapi di negeri mayoritas muslim terbesar di dunia ini penuh dengan kemudahan. Wajar jika banyak harapan kebangkitan islam menyingsing muncul di negeri zamrud khatulistiwa ini. Negeri yang membuka kran keterbukaan pemikiran dan toleran dengan segala perbedaan. Apalagi banyak pejuang islam dari berbagai latar belakang manhaj masih banyak yang bergerak di medan perjuangan politik dan pemikiran. Ini semua menunjukkan berkah dari medan perjuangan yang dianugerahkan Alloh Azza Wa Jalla.

Namun ironisnya justru kondisi ini kurang direspon dengan membangun militansi para pengembannya. Militansi yang terwujud dari konsistensi perjuangan di saat lapang maupun sempit. Padahal sebagaimana yang diungkap oleh berbagai kalangan dan pakar kondisinya adalah sebagai berikut:

Pertama, dalam konstruksi regulasi negeri ini, tidak ada satupun terdapat UU tekhnis untuk menjerat seseorang atau kelompok yang diklaim/dituduh anti Pancasila. Di tengah longgarnya interpretasi terhadap falsafah Pancasila. Jika jerat itu dipaksakan maka sebenarnya sedang berlaku pendekatan represif bertentangan dengan perangkat perundang-undangan yang ada karena kuatnya desakan kepentingan asing. Dan jika kondisi itu yang terjadi maka pada hakekatnya penguasa sedang berinvestasi untuk menyuburkan kekuatan laten perubahan cepat atau lambat muncul menjadi kekuatan manifes. Atau sama halnya menghadang siklus perubahan sejarah sebagaimana diyakini oleh para aktivis islam akan datangnya kebangkitan dan kemenangan islam yang tertuang dalam kitab sucinya. 

Kedua, jika jerat yang digunakan adalah UU Ormas maka unit kajiannya adalah dengan melihat seberapa AD/ART nya bertentangan atau tidak. Tidak menggunakan kajian atas statement-statement para petinggi ormas atau tulisan-tulisannya. Upaya mengkait-kaitkan selain itu hanyalah merupakan kiat untuk membuat intelektual trap atau political trap agar akhirnya bisa dijebak untuk membenarkan tuduhan yang selama ini dialamatkan. 

Ketiga, kategori makar sebagaimana tertuang di dalam KUHP adalah tidak termasuk dalam domain penafsiran terhadap tulisan dan lisan. Tidak termasuk dalam klaim makar jika tidak melakukan aksi fisik yang memperkuat atau membenarkan klaim itu. Sepanjang sebatas wacana pemikiran dan masih membuka ruang untuk mendiskusikannya perdebatan seputar klaim anti Pancasila tidak bisa digunakan sebagai justifikasi untuk menjerat hukum seseorang atau kelompok. 

Keempat, di negeri Indonesia dimana perundang-undangan terjadi tumpang tindih disertai kuatnya intervensi asing dan aseng dalam proses legislasi berbagai kemungkinan strategi dimungkinkan. Desakan pembubaran tidak menghalangi kreatifitas perjuangan dilakukan. Dimungkinkan melakukan banyak variasi metode tekhnis untuk melakukan berbagai kreatifitas manuver dakwah. Tinggal persoalannya sesuai apa tidak dengan khithoh perjuangan yang diyakini. Berubahnya JAT (Jamaah Anshorut Tauhid) menjadi JAS (Jamaah Anshorus Syariah) adalah salah satu contoh bentuk advokasi eksistensi perjuangan entitas dakwah.

Apa arti sebuah nama sebelum muncul secara kuat kesadaran umum masyarakat tentang substansi islam yang diperjuangkan. Akhirnya HTI perlu merenungkan kembali pilihan strategi “Apologik Rasional” yang dimunculkan melalui para petingginya memasuki zona turbulensi yang cepat atau lambat pasti dihadapi. Langkah tersebut hanya akan memunculkan kegamangan dan krisis militansi di dalam tubuh gerakannya. Ingatlah firman Alloh SWT  di dalam Al Qur’an Surat As Shof Ayat: 2-3 yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Alloh bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.” Wallahu a’lam bis showab. [syahid/voa-islam.com]


latestnews

View Full Version